Jual Akses Eksklusif di Truth Social, Trump Dituding Cari Untung
Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah perusahaan media sosial miliknya meluncurkan layanan berbayar yang memberikan akses lebih cepat terhadap ung...
Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah perusahaan media sosial miliknya meluncurkan layanan berbayar yang memberikan akses lebih cepat terhadap unggahan di Truth Social. Langkah tersebut memicu tuduhan bahwa Trump memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk keuntungan pribadi.
Dikutip dari The Guardian, Minggu (2/8/2026), Trump Media and Technology Group resmi meluncurkan layanan berlangganan baru bernama Truth API pada Sabtu. Layanan berbasis application programming interface (API) itu memungkinkan pelanggan memperoleh akses secara langsung dan real time terhadap unggahan di Truth Social, termasuk unggahan dari Donald Trump dan akun-akun berpengaruh lainnya.
CEO sementara Trump Media, Kevin McGurn, mengatakan Truth API ditujukan bagi kalangan bisnis yang membutuhkan akses langsung terhadap unggahan yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pasar.
Menurutnya, perusahaan perdagangan dan pelanggan berbayar kini dapat memperoleh akses terhadap unggahan tersebut lebih cepat dibandingkan pengguna biasa dengan biaya berlangganan yang mencapai US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,8 miliar per bulan (kurs 18.029 per dolar AS).
Layanan baru ini disebut mengikuti model serupa yang telah diterapkan sejumlah platform media sosial lain. Namun, Truth Social dinilai berbeda karena pengguna paling berpengaruh di platform tersebut adalah Donald Trump sendiri, yang juga merupakan pemegang saham terbesar perusahaan induknya yang telah tercatat di bursa.
Meski pengumuman perusahaan tidak secara khusus menyebut nama Trump, akun @realDonaldTrump menjadi akun terbesar di Truth Social dengan sekitar 13 juta pengikut hingga Sabtu.
Trump juga kerap menggunakan platform tersebut untuk mengumumkan berbagai keputusan penting sebelum dipublikasikan melalui saluran lain.
Kondisi itu memunculkan kritik bahwa layanan baru tersebut berpotensi membuka peluang manipulasi pasar dan praktik perdagangan berdasarkan informasi orang dalam (insider trading).
Selama ini, Trump beberapa kali mengungkap kebijakan yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan melalui Truth Social, termasuk terkait tarif perdagangan dan perang dengan Iran.
Peluncuran Truth API juga terjadi hanya beberapa hari setelah Senator Partai Demokrat Adam Schiff dan Elizabeth Warren meminta Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) menyelidiki layanan tersebut.
Dalam surat yang dikirim kepada Ketua SEC Paul Atkins pada Selasa, kedua senator mendesak regulator memeriksa apakah perusahaan telah melanggar hukum.
"Ini tampaknya merupakan penyalahgunaan jabatan Presiden yang sangat mencolok demi keuntungan pribadi, yang merugikan investor biasa dan integritas pasar kita, sekaligus memperkaya Wall Street dan kalangan orang dalam yang kaya," tulis keduanya.