Jelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Persiapan Penginapan hingga Pengamanan Diperketat
Madrasah Aliyah Unggulan KH A Wahab Hasbullah (MA-UWH) Tambakberas ditunjuk sebagai salah satu lokasi penginapan. Madrasah tersebut menjadi Tower A dari sembilan tower yang disiapkan untuk menampung para muktam...
Madrasah Aliyah Unggulan KH A Wahab Hasbullah (MA-UWH) Tambakberas ditunjuk sebagai salah satu lokasi penginapan. Madrasah tersebut menjadi Tower A dari sembilan tower yang disiapkan untuk menampung para muktamirin.
Kepala MA-UWH Faizun mengatakan, lokasi yang dipimpinnya akan ditempati sekitar 190 peserta. Mereka akan ditempatkan di gedung A dan gedung B yang memiliki total 19 kamar.
Persiapan fasilitas juga dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada para peserta. Pihak madrasah berencana melakukan pengecatan sejumlah ruangan, memasang pendingin ruangan, serta menambah fasilitas toilet.
Baca Juga: Siapa Saja yang Berhak Mengikuti Muktamar NU? Ini Pembagian Pesertanya
Faizun mengatakan pihak internal MA-UWH berkomitmen mendukung kelancaran pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, para muktamirin yang datang ke Tambakberas merupakan tamu yang harus disambut dengan baik.
Selain persiapan penginapan, aspek keamanan dan ketertiban juga menjadi perhatian. Polres Jombang mengimbau masyarakat tidak menggelar karnaval atau kegiatan yang menggunakan sound system berdaya besar selama pelaksanaan muktamar.
Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan mengatakan kepolisian tidak akan memberikan izin bagi kegiatan yang berpotensi mengganggu pelaksanaan muktamar, khususnya kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar dan menggunakan sound system berskala besar atau sound horeg.
Masyarakat yang telah merencanakan kegiatan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, karnaval, maupun pawai diminta menyesuaikan jadwal agar tidak bertepatan dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026.
Polres Jombang juga menyiapkan koordinasi dengan TNI, Pemerintah Kabupaten Jombang, panitia lokal, pengelola Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, serta unsur masyarakat. Rekayasa lalu lintas dan sosialisasi keamanan juga disiapkan untuk mengantisipasi kepadatan selama muktamar berlangsung.
Di sisi lain, persiapan spiritual juga dilakukan oleh warga Nahdliyin. Sekitar 800 warga NU mengikuti doa dan dzikir bersama di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur tersebut mengusung tema "Mengetuk Pintu Samawat untuk Muktamar dan Indonesia Selamat". Doa bersama tersebut ditujukan untuk memohon kelancaran pelaksanaan Muktamar ke-35 NU sekaligus keselamatan dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.
Sementara itu, dinamika menjelang muktamar juga mendapat perhatian dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Ia meminta pelaksanaan Muktamar ke-35 NU terbebas dari politik uang dan kepentingan perebutan aset organisasi.
Cak Imin menyerukan agar apabila ditemukan praktik penggunaan uang dalam proses muktamar, hal tersebut dibongkar dan dilaporkan. Ia juga meminta agar penyelenggaraan muktamar dikembalikan kepada para ulama.
Muktamar ke-35 NU sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Forum ini tidak hanya menjadi momentum pemilihan Rais Aam Syuriyah PBNU dan Ketua Umum PBNU, tetapi juga membahas persoalan keagamaan, kebijakan organisasi, serta arah khidmat NU bagi umat dan bangsa.
Dalam forum tersebut, persoalan keagamaan dibahas melalui Bahtsul Masail. Sementara itu, muktamar juga menjadi ruang untuk mengevaluasi kepengurusan, menyusun program strategis, dan menentukan arah organisasi untuk periode berikutnya.
Peserta resmi muktamar berasal dari unsur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Selain peserta resmi, terdapat peninjau dan pengamat dengan kewenangan berbeda dalam mengikuti persidangan.
Baca Juga: Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik karena Konflik Elite PBNU
Secara historis, Muktamar NU telah digelar di berbagai kota sejak pertama kali berlangsung di Surabaya pada 1926. Forum tersebut kemudian berpindah ke sejumlah daerah, termasuk Semarang, Pekalongan, Cirebon, Bandung, Jakarta, Banyuwangi, Solo, Banjarmasin, Malang, Menes, Magelang, Purwokerto, Madiun, Palembang, hingga Medan.
Perpindahan lokasi muktamar dari waktu ke waktu menunjukkan perkembangan jaringan organisasi NU sekaligus keterlibatan masyarakat di berbagai daerah dalam mendukung agenda lima tahunan tersebut.
Dengan berbagai persiapan yang terus dilakukan, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tidak hanya menjadi agenda internal organisasi. Ribuan peserta dan warga Nahdliyin diperkirakan akan hadir, sehingga aspek akomodasi, keamanan, lalu lintas, ketertiban masyarakat, hingga kesiapan sosial menjadi bagian penting dalam menyukseskan penyelenggaraan forum tersebut.