Jejak Kesultanan Cirebon dalam Perjalanan Sejarah Kota Cirebon - Edukasi Katadata.co.id
Cirebon tumbuh dari kawasan pesisir yang ramai oleh aktivitas perdagangan hingga berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan dan penyebaran Islam di Tatar Sunda.Di balik perkembangan itu, terjejak perjalanan ...
Cirebon tumbuh dari kawasan pesisir yang ramai oleh aktivitas perdagangan hingga berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan dan penyebaran Islam di Tatar Sunda.
Di balik perkembangan itu, terjejak perjalanan panjang yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Pangeran Cakrabuana, Sunan Gunung Jati, Fatahillah, serta para penguasa Kesultanan Cirebon pada masa berikutnya.
Mengutip naskah Storyline Sejarah Kota Cirebon oleh Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M. S., yang dipublikasikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Kota Cirebon, sejarah kota mencakup sejumlah periode. Mulai dari masa prasejarah, kerajaan Sunda, berdirinya Cirebon dan kesultanannya, hingga masa kolonial dan Republik Indonesia.
Salah satu titik penting dalam sejarah tersebut yakni pembentukan Dukuh Caruban pada 8 April 1445 M atau 1 Muharram 849 H. Dalam historiografi yang digunakan Pemerintah Kota Cirebon, peristiwa ini menjadi awal perkembangan Cirebon sebagai sebuah kawasan permukiman.
Cerita Tegal Alang-Alang Berkembang Menjadi Caruban
Sebelum berkembang sebagai kesultanan, kawasan Cirebon merupakan permukiman pesisir yang dikenal dengan nama Tegal Alang-Alang. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana disebut sebagai tokoh penting dalam pembukaan dan pengembangan kawasan tersebut, bersama Nyi Mas Rara Santang.
Di kawasan itu telah terdapat komunitas nelayan yang dipimpin Ki Gedeng Alang-Alang. Seiring bertambahnya penduduk dan aktivitas perdagangan, kawasan tersebut berkembang menjadi Dukuh Caruban.
Pemerintah Kota Cirebon menyebut nama Caruban berkaitan dengan keberagaman masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Ada pula penjelasan yang menghubungkan nama Cirebon dengan aktivitas masyarakat pesisir yang mengolah udang rebon menjadi terasi dan petis. Nama Cirebon kerap dikaitkan dengan kata cai (air) dan rebon.
Perkembangan Caruban kemudian diikuti pembentukan struktur pemerintahan dan kehidupan keagamaan. Dalam sumber sejarah lokal, Pangeran Walasungsang disebut membangun tajug atau langgar serta rumah besar yang kelak berkembang menjadi bagian dari kompleks Keraton Pakungwati, yang kemudian menjadi Keraton Kasepuhan.
Setelah Ki Gedeng Alang-Alang tidak lagi memimpin, Walangsungsang menjadi penguasa Caruban dan dikenal dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Sekitar tahun 1460, kawasan ini berkembang sebagai Nagari Caruban Larang dan tetap memiliki hubungan dengan Kerajaan Sunda.
Posisi Cirebon semakin penting lantaran letaknya berada di jalur pesisir utara Jawa. Pelabuhannya menjadi bagian dari jaringan perdagangan sekaligus pintu masuk perkembangan Islam di wilayah Tatar Sunda.
Dari Nagari Menuju Kesultanan
Babak baru dimulai pada 1479, ketika Syarif Hidayatullah mengambil alih kepemimpinan Cirebon dari Pangeran Cakrabuana.
Tokoh yang kemudian dikenal sebagai Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Jati ini merupakan keponakan Cakrabuana dan memiliki peran besar dalam perkembangan Cirebon sebagai pusat pemerintahan sekaligus penyebaran Islam.
Pada masa kepemimpinannya, Cirebon semakin aktif membangun hubungan dengan kekuatan Islam lainnya, terutama Demak dan Banten. Pengaruh keagamaan Cirebon juga meluas ke berbagai wilayah di Tatar Sunda.
Salah satu peristiwa penting terjadi pada 2 April 1482, Syarif Hidayatullah menghentikan pengiriman upeti kepada Kerajaan Sunda Pajajaran. Dalam historiografi Cirebon, peristiwa ini dipandang sebagai penanda lepasnya Cirebon dari kekuasaan Sunda dan berdirinya Cirebon sebagai kesultanan Islam yang berdaulat.
Perkembangan Cirebon berlanjut pada abad ke-16. Pada 1527, Fatahillah memimpin pasukan dalam penaklukan Sunda Kelapa. Peristiwa tersebut melibatkan kekuatan Islam dari kawasan Cirebon, Demak, dan Banten.
Setelah berhasil mengalahkan kekuatan Portugis dan Sunda di Sunda Kelapa, wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Jayakarta. Pemerintah Kota Cirebon juga menempatkan peristiwa 22 Juni 1527 sebagai salah satu bagian penting dari hubungan sejarah Cirebon dan Jakarta.
Sementara itu, Sunan Gunung Jati semakin memusatkan perhatiannya pada penyebaran Islam. Pada 1528, ia menyerahkan urusan pemerintahan kepada putranya, Pangeran Pasarean, sebagai wakil.
Pangeran Pasarean tidak langsung menjadi raja karena Sunan Gunung Jati masih memegang kekuasaan. Ia menjalankan pemerintahan hingga wafat pada 1546.
Setelah itu, Fadhillah Khan atau Fatahillah menjalankan pemerintahan Cirebon hingga Sunan Gunung Jati wafat pada 1568. Dua tahun kemudian, pemerintahan dilanjutkan Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu I. Ia memimpin Cirebon hingga 1649.
Ketika Politik Cirebon Mulai Terpecah
Memasuki abad ke-17, posisi Cirebon semakin sulit. Kesultanan berada di antara persaingan kekuatan Banten, Mataram dan VOC. Hubungan dengan Mataram juga semakin kuat, sementara VOC mulai memperluas pengaruhnya dalam perdagangan dan politik Cirebon.
Setelah Panembahan Ratu I wafat pada 1649, pemerintahan diteruskan Panembahan Ratu II atau Panembahan Girilaya. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada dalam tekanan politik Mataram dan Banten.
Panembahan Ratu II kemudian dibawa ke Mataram bersama dua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Ia akhirnya wafat di Mataram pada 1667, sementara kedua putranya kemudian kembali ke Cirebon.
Krisis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perpecahan politik Cirebon. Pada 1677, kekuasaan Cirebon terpecah dan melahirkan Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman. Perkembangan berikutnya juga melahirkan Kacirebonan. Campur tangan kekuatan eksternal, termasuk Banten, Mataram dan VOC, ikut memengaruhi proses tersebut.
Perpecahan ini membuat kekuasaan politik Cirebon semakin melemah. VOC kemudian semakin kuat dalam mengatur urusan politik dan perdagangan di wilayah tersebut.
Dari Kesultanan ke Pemerintahan KolonialPengaruh kolonial semakin kuat pada awal abad ke-19. Pada 2 Februari 1809, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels menerbitkan Reglement op het beheer van de Cheribonsche landen, aturan yang mengatur pemerintahan wilayah Cirebon. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat regulasi tersebut sebagai salah satu keputusan penting Daendels pada masa itu.
Melalui kebijakan tersebut, wilayah Cirebon ditempatkan dalam struktur pemerintahan kolonial. Para sultan tidak lagi memiliki kekuasaan politik seperti sebelumnya dan ditempatkan sebagai bagian dari struktur pemerintahan kolonial.
Perubahan tersebut tidak berarti keraton Cirebon hilang. Ketika kekuasaan politiknya menyusut, keraton tetap memainkan peran penting sebagai pusat kebudayaan dan kesenian. Tradisi, seni tari, pusaka, ritual dan kehidupan keagamaan tetap berkembang di lingkungan keraton.
Sejarah Cirebon kemudian berlanjut melewati masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang pada 1942–1945, hingga periode Republik Indonesia. Dalam perkembangannya sebagai kota modern, Cirebon mengalami pembentukan Gemeente Cheribon pada 1906 dan Stadsgemeente pada 1926, disertai pembangunan berbagai infrastruktur perkotaan.
Jejak Kesultanan yang Bertahan hingga Kini
Perjalanan Cirebon menunjukkan bahwa sejarah sebuah kota tidak berhenti ketika sebuah kekuasaan politik berakhir. Kesultanan memang kehilangan sebagian besar kewenangan politiknya, tetapi warisan yang ditinggalkannya tetap hidup dalam berbagai bentuk.
Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan, misalnya, menjadi bagian dari lanskap budaya Cirebon. Begitu pula tradisi batik, seni tari, musik, kuliner, pusaka dan berbagai tradisi keagamaan yang berkembang dari perjalanan panjang masyarakat Cirebon.
Mengenal sejarah Cirebon juga berarti memahami bagaimana sebuah kota pesisir tumbuh dari permukiman, berkembang menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan, kemudian melewati perubahan politik hingga menjadi kota seperti sekarang.
Jejak tersebut masih dapat ditemui dalam kehidupan Cirebon hari ini. Salah satunya melalui batik yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya kota.
Semangat mengenalkan kembali warisan tersebut hadir melalui Batik Run Festival, yang memadukan olahraga dengan batik dan budaya Cirebon. Kegiatan ini menjadi salah satu cara membawa warisan sejarah dan budaya Cirebon lebih dekat dengan masyarakat masa kini.
Simak informasi selengkapnya untuk jadi bagian dari keseruannya di sini.