ITDP mendorong elektrifikasi transportasi publik
Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia mendorong elektrifikasi transportasi publik seperti bus listrik. "Ada empat alasan kenapa kita ANTARA News mataram 39 ...
Jakarta (ANTARA) - Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia mendorong elektrifikasi transportasi publik seperti bus listrik.
"Ada empat alasan kenapa kita mendorong ini harus dimulai dari transportasi publik karena yang pertama memaksimalkan dampak. Bus listrik di Jakarta satu hari satu bus itu bisa jalan 200 kilometer, sehingga dampaknya akan sangat signifikan," ujar Direktur Asia Tenggara ITDP Gonggomtua Sitanggang di Jakarta, Rabu.
Alasan kedua, lanjutnya, terkait penghematan biaya. Biaya operasional bus listrik sudah lebih murah khususnya untuk yang bus besar dan juga mikrobus.
"Lalu yang ketiga kemudahan perencanaan. Karena teknologinya sebenarnya sudah tidak begitu baru. Kemudahan perencanaan ini karena kalau bus itu rutenya sudah jelas, frekuensinya juga sudah jelas, stopnya juga sudah jelas. Jadi, relatif lebih mudah untuk kita merencanakan penggunaan teknologi baru termasuk bus listrik ini," katanya.
Alasan yang terakhir adalah momentum reformasi transportasi publik. ITDP tidak hanya ingin menggantikan bus konvensional menjadi bus listrik, namun ITDP juga ingin hal tersebut sebagai momentum untuk melakukan reformasi atau peningkatan layanan transportasi publik.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menargetkan 10.000 unit bus berbasis elektrik, hidrogen, dan hibrida beroperasi di Jakarta pada 2030 sebagai upaya menekan emisi.
Dengan begitu, dia berharap keberadaan bus-bus tersebut dapat membantu menekan polusi di Jakarta. Selain menekan emisi, TransJakarta sebelumnya menyebutkan satu unit bus listrik berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah hingga Rp302 juta per tahun.
Baca juga: 961 kepala daerah hadir di Monas dan siap dilantik di Istana
Apabila dihitung dengan sejumlah aspek lainnya, maka penghematan biaya selama operasional 5,5 tahun per unit dapat menyentuh Rp3,9 miliar, atau seharga satu unit bus listrik 12 meter.
Angka tersebut dihitung berdasarkan selisih harga solar subsidi dan harga BBM komersial serta efisiensi operasional bus listrik dibandingkan bus berbahan bakar minyak (ICE).
Pewarta : Suharsana Aji Sasra J C
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026