pickleballvnz.com

Influenza A Lagi Naik, Kemenkes Ingatkan Jangan Asal Borong Obat

Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya kasus influenza membuat obat antivirus oseltamivir ikut menjadi perhatian masyarakat. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan ...

Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya kasus influenza membuat obat antivirus oseltamivir ikut menjadi perhatian masyarakat. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau mengonsumsi obat tersebut sembarangan.

Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia mengatakan, tidak semua orang yang terkena influenza membutuhkan oseltamivir. Sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya dapat membaik dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup.

"Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau oseltamivir ini," kata Lucis dalam konferensi pers daring pada Senin (28/9/2026).

Oseltamivir juga bukan obat yang disarankan untuk diminum sekadar untuk berjaga-jaga tanpa pemeriksaan medis. Pemberian antivirus diprioritaskan untuk pasien yang membutuhkan berdasarkan pertimbangan dokter, termasuk pasien influenza berat yang menjalani perawatan di rumah sakit serta mereka yang memiliki risiko komplikasi.

"Terutama kelompok tersebut antara lain anak berusia di bawah dua tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil dan pasien dengan penyakit penyerta," kata ia.

Di tengah kekhawatiran mengenai ketersediaan obat, Kemenkes mengatakan distribusi oseltamivir telah dilakukan ke sekitar 196 rumah sakit. Distribusi akan terus dilakukan sesuai kebutuhan rumah sakit dan jumlah pasien yang memerlukan obat tersebut.

"Pemerintah juga melakukan pengadaan melalui produksi dalam negeri dan impor dengan jalur khusus untuk mengatasi keterlambatan produksi domestik yang belum dapat memenuhi kebutuhan," kata Lucia.

Namun, masyarakat diminta tidak membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep dokter. Kemenkes juga mengingatkan agar obat tidak dipinjamkan atau menggunakan obat milik orang lain, menggandakan dosis, maupun menghentikan dan melanjutkan terapi sendiri.

Penggunaan oseltamivir yang tidak sesuai indikasi medis dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memicu virus influenza menjadi kurang sensitif atau resisten terhadap antivirus.

Ahli Farmakologi Dr. dr. Dewi Selvina Rosdiana, MKes menjelaskan hasil meta-analisis terhadap lebih dari 2.500 pasien anak dengan influenza tanpa komplikasi yang menjalani rawat jalan. Hasil penelitian menunjukkan oseltamivir memang dapat memperpendek durasi sakit secara statistik. Namun, rata-rata pengurangannya hanya sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari.

"Kalau kelompok yang mendapatkan oseltamivir paginya sembuh, kelompok yang mendapatkan placebo atau tidak mendapatkan obat oseltamivir malamnya juga sudah sembuh," jelas Dewi.

Ia bilang, bukti yang ada belum cukup kuat untuk menunjukkan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek durasi penyakit pada kelompok anak dengan influenza tanpa komplikasi tersebut. Penggunaan oseltamivir karena itu tetap harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter.

Penelitian yang dipaparkannya juga menunjukkan anak yang menerima oseltamivir memiliki risiko mengalami muntah 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok yang menerima plasebo atau tidak mendapatkan oseltamivir.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]