pickleballvnz.com

Indonesia Juara, Bung Towel Sentil yang Masih Nyinyir: Jangan Karena Tak Suka Erick Thohir jadi Tak Bangga Timnas

 Bola Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:08 WIB Jakarta, VIVA – Timnas Indonesia ak...

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Jakarta, VIVA – Timnas Indonesia akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 35 tahun dengan meraih gelar FIFA ASEAN Cup 2026. Namun, di tengah euforia kemenangan tersebut, masih ada kritik yang bermunculan dan mempertanyakan berbagai aspek dari keberhasilan Skuad Garuda.

Baca Juga

Pengamat sepak bola nasional Bung Towel menilai perdebatan semacam itu seharusnya tidak menghilangkan rasa bangga terhadap pencapaian Timnas Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, keberhasilan menjadi juara tetap harus diapresiasi, terlepas dari siapa pelatih maupun pengurus federasi yang saat ini berada di balik tim.

Baca Juga

"Kalau mendukung tim nasional, ya mendukung tim nasional itu sendiri. Jangan lihat siapa yang melatih, jangan lihat siapa ketuanya," kata Bung Towel dalam program One Corner tvOne.

Pernyataan tersebut disampaikan Bung Towel ketika membahas suasana sepak bola Indonesia setelah kemenangan atas Thailand pada final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Baca Juga

Menurutnya, masih ada sebagian pihak yang sulit menikmati keberhasilan Timnas Indonesia karena persoalan yang berkaitan dengan figur tertentu di sepak bola nasional.

Bung Towel bahkan menilai sikap tersebut justru membuat pencapaian para pemain menjadi tidak terlihat.

"Jangan karena tidak suka Erick Thohir atau tidak suka John Herdman, lalu tidak ikut senang dengan pencapaian tim nasional menjadi juara," ujarnya.

Menurut Bung Towel, kemenangan tersebut tidak bisa direduksi hanya sebagai keberuntungan. Ia menilai keberhasilan dalam adu penalti juga membutuhkan keberanian dan kekuatan mental.

"Kalau penalti cuma soal keberuntungan, buat apa kita latihan penalti? Serahkan saja kepada nasib," kata Bung Towel.

Ia juga menyoroti perjuangan para pemain yang mampu bertahan selama 120 menit di tengah tekanan puluhan ribu suporter di SUGBK. Para pemain, menurut Bung Towel, telah menunjukkan bahwa keraguan terhadap nasionalisme mereka tidak lagi relevan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, sejumlah pemain yang memiliki darah keturunan atau proses naturalisasi pernah menjadi sasaran perdebatan soal nasionalisme. Namun, Bung Towel melihat apa yang terjadi di final sebagai jawaban paling nyata.

"Mereka tidak berhenti selama 120 menit sampai kakinya kram. Semua pemain menangis bahagia. Bagaimana kita masih bisa meragukan nasionalisme orang-orang seperti ini?" ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Bung Towel Minta Euforia Tidak Dirusak