Ibadah Haji Ikut Gerakkan Ekonomi RI, Nilainya Rp 8,78 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Kontribusi penyelenggaraan ibadah haji pada 2026 mencapai Rp8,78 triliun atau sebesar 0,13 persen terhadap perekonomian Indonesia. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, j...
Jakarta, CNBC Indonesia - Kontribusi penyelenggaraan ibadah haji pada 2026 mencapai Rp8,78 triliun atau sebesar 0,13 persen terhadap perekonomian Indonesia.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan dengan mendorong pengeluaran jamaah Haji di dalam negeri.
Amalia menjelaskan, dari total Rp29,25 triliun Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan pengeluaran pribadi jamaah Haji sebagian besar adalah konsumsi impor, tepatnya mencapai Rp20,48 triliun atau 70 persen.
Sementara untuk uang pengeluaran atau konsumsi yang beredar di dalam negeri hanya sebesar Rp8,78 triliun atau 30 persen dari keseluruhan.
"Seluruh jemaah haji pada 2026 ini pengeluarannya mencapai Rp29,25 triliun. Dari total pengeluaran tersebut kami memperkirakan sekitar Rp8,78 triliun atau 30 persen merupakan konsumsi di dalam negeri, yaitu konsumsi barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia atau menggunakan bahan baku dari Indonesia," kata Amalia saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta pada Kamis (6/8/2026).
Amalia menilai kontribusi haji terhadap PDB bisa ditingkatkan jika porsi konsumsi domestik di tingkatkan menjadi 50 hingga 60 persen.
"Kalau proporsi yang 30 persen ini naikkan menjadi 50 persen atau 60 persen, maka kontribusinya nanti terhadap PDB akan lebih meningkat dan multiplier effect-nya terhadap ekonomi Indonesia pun akan menjadi lebih banyak. Jadi peluangnya ada di sini," kata Kepala BPS.
Jika dihitung pengeluaran domestik untuk keperluan Haji mencapai 50 hingga 60 persen, maka kontribusi ke perekonomian bisa mencapai Rp14,63 triliun sampai Rp17,55 triliun.
Kepala BPS menjelaskan komponen konsumsi domestik saat ini sudah berkembang tidak hanya dari aktivitas ekonomi di dalam negeri saja, namun barang-barang Indonesia juga digunakan di Arab dalam mendukung penyelenggaraan Haji.
"Ada juga yang sudah dicek oleh para petugas dan pengawas haji kami. Waktu mereka mengecek ke dapur, bumbu-bumbu yang mereka gunakan juga sudah dari Indonesia sehingga ini sudah kami masukkan di dalam kalkulasi yang 30 persen," katanya.
Di sisi lain, sebanyak 70 persen nilai konsumsi merupakan pengeluaran untuk barang dan jasa di Arab Saudi, termasuk belanja dari kantong pribadi.
Mengutip data BPS, jumlah pengeluaran pribadi jamaah Indonesia saat ibadah Haji 2026 mencapai Rp4,25 triliun, mencakup Haji Reguler sebesar Rp3,39 triliun dan Haji Khusus sebesar Rp857,3 miliar.
Adapun peserta Haji asal Indonesia menghabiskan Rp1,96 triliun atau 46,1 persen dari total pengeluaran pribadi untuk belanja oleh-oleh dari Tanah Suci pada 2026, menurut data Badan Pusat Statistik.
Selain belanja oleh-oleh, pengeluaran pribadi jamaah Haji Indonesia juga untuk membeli makanan tambahan atau jajanan dan minuman yang totalnya mencapai Rp542,6 miliar.
Adapun pengeluaran besar seperti membayar DAM (720 SAR) dan obat-obatan lainnya, masing-masing mencapai Rp559,9 miliar dan Rp743,3 miliar.
Selanjutnya ada juga keperluan transportasi, di mana para jamaah Haji mengeluarkan biaya sebesar Rp257,4 miliar selama ibadah di Tanah Suci pada 2026.
Sementara untuk membeli paket data atau internet, total jamaah Haji Indonesia pada 2026 mengeluarkan Rp86,2 miliar dari kantong pribadinya.
Amalia mencatat bahwa sebagian besar pengeluaran tersebut Bapak Ibu dilakukan di Arab Saudi selama pelaksanaan ibadah Haji. Misalnya saja pembayaran DAM sepenuhnya dilakukan di Arab Saudi karena berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan ibadah haji. Begitu juga dengan belanja oleh-oleh yang dilakukan di sana.
"Artinya kita juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonominya Arab Saudi Bapak karena kita belanja di sana," imbuh Amalia.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]