Hari Kebaya Nasional 2026, Jalan Pulang Ajak Masyarakat Menemukan Kembali Makna Kebaya
Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional 2026, Bakti Budaya Djarum Foundation meluncurkan film pendek ketiganya yang berjudul "Jalan Pulang." Berbeda dari dua karya sebelumnya yang...
Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional 2026, Bakti Budaya Djarum Foundation meluncurkan film pendek ketiganya yang berjudul "Jalan Pulang." Berbeda dari dua karya sebelumnya yang menyoroti kebaya dari sisi visual dan gerakan pelestarian, film ini mengangkat perspektif yang lebih intim.
Kebaya ditampilkan bukan sekadar sebagai busana tradisional, melainkan simbol yang menyimpan cerita tentang rumah, keluarga, dan akar budaya yang membentuk jati diri seseorang. Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, pendekatan tersebut lahir dari respons masyarakat terhadap dua film sebelumnya.
Selain mendorong semakin banyak orang mengenakan kebaya, mereka juga melihat bahwa setiap kebaya memiliki kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Melalui 'Jalan Pulang,' kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa setiap kebaya menyimpan kisah yang layak diteruskan. Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini," kata dia saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Lewat alur yang hangat, "Jalan Pulang" menggambarkan bagaimana kedekatan seseorang dengan kebaya kerap berawal dari ruang paling personal, yaitu rumah. Kebaya menjadi saksi berbagai kenangan bersama ibu, nenek, maupun momen-momen penting dalam keluarga.
Alih-alih mengulas sejarah kebaya secara harfiah, film ini mengajak penonton merasakan maknanya melalui hubungan antargenerasi yang penuh kehangatan, sekaligus mengingatkan bahwa warisan budaya hidup lewat cerita yang terus diteruskan.
Menghidupkan Cerita di Balik Kebaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305699/original/078918800_1784800345-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_11.36.47__1_.jpeg)
Perbesar
Melalui "Jalan Pulang," Bakti Budaya Djarum Foundation ingin mengajak masyarakat memandang kebaya sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sekadar busana tradisional. Film dipilih sebagai medium karena mampu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih dekat dan menyentuh emosi penonton.
Sutradara "Jalan Pulang," Bramsky, menghadirkan kisah yang menempatkan kebaya sebagai saksi berbagai kenangan tentang rumah, keluarga, dan akar budaya yang membentuk identitas seseorang.
"Di balik setiap lipatan kainnya, ada kenangan, ada rumah, ada ibu, ada keluarga, dan ada identitas yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mencoba mencarinya kembali," kata dia di kesempatan yang sama.
Ia berharap, film tersebut tidak hanya menginspirasi masyarakat untuk mengenakan kebaya, tapi juga mendorong mereka menggali, menjaga, dan meneruskan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Warisan yang Terus Dihidupkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305714/original/063070100_1784800486-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_11.36.08__1_.jpeg)
Perbesar
"Jalan Pulang" menyampaikan pesan bahwa melestarikan kebaya tidak hanya berarti menjaga keberadaan busananya, tapi juga merawat nilai dan cerita yang menyertainya. Kebaya dipandang sebagai warisan budaya yang tetap hidup ketika dikenakan, diceritakan, dan diwariskan pada generasi berikutnya.
Dengan begitu, pelestarian tidak berhenti pada bentuk atau tampilannya, melainkan juga pada makna yang melekat di setiap helai kain. Film ini juga menempatkan kebaya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Setiap kebaya menyimpan kisah tentang keluarga, kenangan, dan identitas yang membentuk seseorang. Melalui "Jalan Pulang," tim produksi berharap semakin banyak generasi muda tidak hanya tertarik mengenakan kebaya, tapi juga memahami nilai, sejarah personal, dan cerita yang diwariskan di baliknya agar tetap hidup lintas generasi.
Mengajak Generasi Muda Menemukan Jalan Pulang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305718/original/090067800_1784800746-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_11.36.07.jpeg)
Perbesar
Melalui "Jalan Pulang," Bakti Budaya Djarum Foundation mengajak masyarakat memandang kebaya sebagai warisan budaya yang tetap relevan di kehidupan masa kini. Kebaya tidak hanya dikenakan pada momen seremonial, tapi juga menjadi simbol yang menyimpan identitas, sejarah keluarga, dan perjalanan hidup yang diwariskan lintas generasi.
Renitasari berharap, film ini mendorong semakin banyak masyarakat mengenakan, sekaligus memahami makna kebaya. Menurutnya, pelestarian kebaya juga berdampak pada keberlangsungan ekosistem ekonomi yang mengelilinginya.
"Saya berharap semakin banyak yang pakai kebaya, karena kebaya itu harus terus hidup. Tanpa kita sadari, dengan memakai kebaya kita juga menghidupkan penjahit, penjual kain, dan banyak pelaku usaha lainnya," ujar Renitasari. Ia berharap kesadaran tersebut membuat kebaya terus lestari dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.