Harga Oli Pertamina Naik 17%, Ini Biang Keroknya
Warta Ekonomi, Jakarta - PT Pertamina Lubricants menaikkan harga sejumlah produk pelumas rata-rata 17% pada Juni 2026. Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah tekanan biaya bahan baku, logistik, serta dinamik...
Warta Ekonomi, Jakarta -
PT Pertamina Lubricants menaikkan harga sejumlah produk pelumas rata-rata 17% pada Juni 2026. Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah tekanan biaya bahan baku, logistik, serta dinamika geopolitik global.
Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengatakan penyesuaian harga terakhir dilakukan pada 2 Juni 2026. Hingga Agustus, perusahaan belum kembali menaikkan harga dan belum memiliki rencana untuk melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat.
"Kalau di kami sendiri terakhir naik itu kan di tanggal 2 Juni kemarin, rata-rata 17 persen, dan sampai sekarang belum naik lagi. Kami sih belum merencanakan untuk naikkan," ujar Rika di Pertamina Lubricants Production Unit Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Rika, harga pelumas sangat dipengaruhi ketersediaan dan harga bahan baku. Kondisi geopolitik global juga dapat memengaruhi keamanan pasokan hingga biaya logistik yang pada akhirnya menjadi pertimbangan dalam penetapan harga jual.
"Untuk harga itu tentunya dengan ketersediaan atau security of supply dari bahan baku, itu bisa dipengaruhi juga dengan dinamika geopolitik, kemudian nanti dengan harga bahan baku itu sendiri, kemudian biaya logistik," jelasnya.
Rika berharap tren penurunan harga minyak mentah atau crude oil dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan harga bahan baku pelumas.
"Harapannya justru dengan harga crude yang mulai trennya turun, semoga kami juga serta harapannya bisa menyesuaikan," imbuh Rika.
Untuk saat ini, Pertamina Lubricants masih mempertahankan harga setelah kenaikan pada Juni. Perusahaan berharap tidak ada kembali gejolak geopolitik yang dapat menekan harga dan pasokan bahan baku.
"Untuk saat ini memang harga masih seperti ini ya, kita harapannya memang tidak ada dinamika lagi di luar sana yang bisa mempengaruhi harga bahan baku," terangnya.
Selain biaya produksi dan bahan baku, Pertamina Lubricants juga mempertimbangkan kondisi pasar serta daya beli konsumen dalam menentukan harga jual produk.
"Pastinya dalam menentukan pricing pun kami juga mempertimbangkan pasar, artinya konsumen. Kita juga memperhatikan sejauh mana atau sampai mana daya beli dari konsumen kita," tegas Rika.
Ekspor Pelumas Pertamina Tembus 16 Negara
Di tengah tekanan biaya produksi, Pertamina Lubricants terus memperluas pasar ekspor. Produk perusahaan saat ini telah dipasarkan ke 16 negara, mulai dari kawasan Asia hingga Afrika.
Manager Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants Dody Arief Aditya mengatakan karakteristik pasar ekspor membuat perusahaan membutuhkan fleksibilitas produksi. Salah satunya karena pelabelan produk harus disesuaikan dengan bahasa dan kebutuhan masing-masing negara tujuan.
"Produk ekspor ini unik, paling tidak secara bahasa kan beda ya sehingga label yang ada di produk itu pasti beda-beda. Yang untuk Jepang beda, untuk China beda, untuk kawasan lain juga beda," kata Dody.
Menurut Dody, volume ekspor yang masih lebih kecil dibandingkan pasar domestik membuat produksi dalam jumlah kecil di fasilitas utama menjadi kurang ekonomis. Karena itu, perusahaan menyiapkan fasilitas produksi khusus untuk menangani kebutuhan pasar ekspor.
Baca Juga: Di Koja, Sampah Warga Bisa Ditukar dengan Oli
Baca Juga: Pertamina Lubricants Perkuat Pasokan Pelumas, Produksi Unit Jakarta Capai 295 Ribu KL
"Memang pasar ekspor kita belum sebesar domestik sehingga kalau kita produksi di plant utama kita itu kurang ekonomis. Nah akhirnya kita buat satu plant Media LTP yang memang fokus untuk produk ekspor," katanya.
Saat ini, 16 negara yang menjadi tujuan ekspor Pertamina Lubricants antara lain Tanzania, Filipina, Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Timor Leste, Yaman, Nigeria, Thailand, Vietnam, Myanmar, China, Bangladesh, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.
Pasar Korea Selatan menjadi salah satu pasar ekspor tertua Pertamina Lubricants, yang telah dilayani sejak 2007. Sementara Tanzania menjadi salah satu pasar terbaru perusahaan di Afrika, yang mulai digarap sejak 2024.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.