pickleballvnz.com

Hanya yang bermain berani yang pantas ke final

Dua finalis itu menyampaikan pesan yang sama. Argentina dan Spanyol tidak menang semata karena memiliki pemain-pemain hebat, tetapi karena pelatih mereka yang berani mengambil risiko.Jakarta (ANTARA) - Tim nasi...

Dua finalis itu menyampaikan pesan yang sama. Argentina dan Spanyol tidak menang semata karena memiliki pemain-pemain hebat, tetapi karena pelatih mereka yang berani mengambil risiko.

Jakarta (ANTARA) - Tim nasional Argentina menunjukkan kepada tim nasional Inggris bahwa kemenangan bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan soal cara meraihnya.

Di Stadion Atalanta, Amerika Serikat (AS), Kamis, cara meraih kemenangan Argentina begitu heroik. Mereka bak ksatria yang tak kenal kata menyerah.

Tertinggal satu gol sampai menit ke-84, Argentina yang datang dengan status juara dunia, membalikkan keadaan dalam waktu tujuh menit saja untuk memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026, final beruntun mereka setelah juara pada 2022 di Qatar.

Bagi Lionel Messi, yang disebut sebagai GOAT (Greatest of All Time) di dunia sepak bola, ini menjadi final Piala Dunia ketiganya setelah kekalahan dari Jerman pada 2014 di Brasil, sekaligus final keempatnya bersama sang pelatih Lionel Scaloni yang semuanya berakhir dengan kemenangan.

Berani dan penakut. Itulah kata yang menggambarkan mentalitas Argentina dan Inggris. Argentina bermain dengan keberanian setelah ketinggalan satu gol lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengambil risiko dalam pergantian pemain. Ia melakukan lima pergantian pemain, dua di antaranya mengurangi kekuatan bertahan demi menambah daya gedor di depan.

Nico Gonzalez dimasukkan pada menit ke-64 menggantikan Leandro Paredes, gladiator La Albiceleste yang tugasnya menjaga keseimbangan permainan dan tak segan melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor untuk menghentikan lawan.

Lalu, pergantian pamungkas Scaloni datang pada menit ke-81 saat memasukkan Lautaro Martinez dan menarik keluar seorang bek kiri Nicolas Tagliafico.

Dua pergantian ini sangat berisiko, karena Argentina akan kekurangan pemain untuk menahan gempuran Inggris apabila mereka melancarkan serangan balik. Alih-alih mendapatkan gol, mereka malah bisa kebobolan gol kedua dan kalah.

Namun, itulah harga yang harus dibayar. Argentina memilih "all-out attack", tak peduli apapun kecuali mendapatkan gol.

Saat di kepala Scaloni hanya menantikan kapan gol itu terjadi, otak Thomas Tuchel cuma memikirkan berapa bek lagi yang akan ia masukkan untuk mempertahankan keunggulan.

Itu tidak sepenuhnya salah. Namun apa yang dilakukan pelatih asal Jerman itu bertolak belakang dengan jati diri Inggris sebagai tim besar, yang tak pantas untuk bertahan total, apalagi dari menit ke-72.

Baca juga: FIFA perkenalkan cincin juara bagi kampiun Piala Dunia 2026

Baca juga: Lima camilan sehat yang bisa temani menonton final Piala Dunia 2026

Baca juga: Lionel Messi memang pantas disebut GOAT

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.