Erupsi: Gunung Anak Krakatau terus erupsi, masyarakat diimbau menjauh - BBC News Indonesia
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami terus mengalami erupsi sejak Jumat (05/09) malam hingga Sabtu (06/09) dini hari, dengan aktivitas berupa semburan lava pijar "yang menyerupai air mancur", menurut Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sumber gambar, GRGarage
Telah diterbitkan 5 September 2026, 09:44 WIB
Diperbarui sejam yang lalu
Waktu membaca: 3 menit
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami erupsi sejak Jumat (04/09) malam hingga Sabtu (05/09) pagi, dengan aktivitas berupa semburan lava pijar "yang menyerupai air mancur", menurut Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, erupsi yang dimulai Jumat, pada pukul 23.07 WIB masih berlangsung hingga 04.40 WIB, disertai suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan gunung api di Pasauran, Banten.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).
Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan, erupsi masih berlangsung hingga Sabtu pagi.
"Masih, tapi tidak terlihat karena tertutup kabut," kata Suwarno pada jurnalis Robertus Bejo yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Sumber gambar, BBC INDONESIA/Robertus Bejo
Dengan aktivitas gunung berapi ini, Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Sementara itu, di wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung, dilaporkan terdengar suara dentuman dan getaran yang dirasakan sebagian warga. Namun belum ada konfirmasi dari Badan Geologi mengenai laporan tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sumber gambar, Kementerian ESDM
Hingga Sabtu (05/09) aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung. Badan Geologi menyatakan belum terdapat indikasi peningkatan risiko tsunami.
Menurut hasil evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan longsoran besar pada Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Namun, otoritas menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang tumbuh di kawasan Selat Sunda, lokasi yang dikenal karena letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Gunung ini juga mengalami longsoran sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di sekitar Selat Sunda.
Sejak kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau berada pada status Siaga dan terus memperlihatkan aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Otoritas vulkanologi menyatakan erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau, masih berada dalam karakteristik aktivitas yang umum terjadi.
Mereka menambahkan, pemantauan intensif akan terus dilakukan selama aktivitas berlangsung.
Pemancing melihat langsung erupsi
Seorang pemancing asal Jakarta menyaksikan erupsi Gunung Anak Krakatau dari tengah laut pada Jumat (04/09) malam, dalam perjalanan memancing di Selat Sunda.
Pria tersebut mengunggah video kejadian tersebut melalui akun TikTok bernama GRGarage. Dia mengatakan, rombongannya yang terdiri dari 12 peserta dan lima anak buah kapal (ABK) berangkat pada Jumat untuk agenda memancing yang telah direncanakan sejak tahun lalu.
"Kejadian sekali seumur hidup dan tidak bisa dilupakan," katanya.
Menurut dia, rombongan tengah memancing bersama rekan-rekan kantor dan komunitas ketika melihat semburan pertama dari arah Gunung Anak Krakatau sekitar pukul 23.15 WIB.
Sekitar 15 menit kemudian, mereka mendengar dentuman.
"Di situ seluruh kru dan ABK menyarankan untuk menjauh dari lokasi," katanya.
Ia mengatakan nahkoda KM Panaitan kemudian segera mengambil keputusan untuk meninggalkan kawasan tersebut dan kembali ke dermaga.
Seluruh penumpang dan awak kapal selamat. Pada Sabtu, ia dan rombongannya dilaporkan telah meninggalkan kawasan Selat Sunda dan dalam perjalanan pulang ke Jakarta.
Artikel ini akan terus diperbarui secara berkala.
Robertus Bejo dari Lampung berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.