Gubernur Kalbar: Jangan bakar lahan dulu agar karhutla tak meluas - ANTARA News Kalimantan Barat
Pontianak (ANTARA) - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan menegaskan agar masyarakat tidak membuka atau membakar lahan selama musim kemarau untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali m...
Pontianak (ANTARA) - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan menegaskan agar masyarakat tidak membuka atau membakar lahan selama musim kemarau untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas.
"Kondisi cuaca sekarang panas tinggi, jadi jangan membakar lahan dulu. Sesuai Perda Nomor 1 Tahun 2022, sebelum melakukan pembakaran harus dibuat sekat terlebih dahulu dan tidak meninggalkan lahan sebelum api benar-benar padam," kata Gubernur Ria Norsan seusai meninjau lokasi karhutla bersama Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Senin.
Norsan kemudian mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla di Kantor Daops Manggala Agni yang dihadiri Forkopimda Kalbar, Pemkab Kubu Raya, BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, PMI, pemadam kebakaran, dan Masyarakat Peduli Api.
Dia menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi intensif mulai dari pemerintah pusat hingga tingkat desa, termasuk patroli terpadu, pertukaran data, verifikasi lapangan, dan pemadaman sedini mungkin.
Menurut dia, musim kemarau, kondisi cuaca kering, luasnya lahan gambut, serta aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar meningkatkan risiko karhutla di Kalbar.
Norsan juga meminta perusahaan berbasis lahan memenuhi kewajiban mereka dengan menyiapkan sumber daya manusia dan sarana pemadaman, menjaga konsesi, mengelola tata air gambut, serta membantu penanganan kebakaran di sekitar wilayah usaha sesuai aturan.
Dia menilai karhutla bukan persoalan sektoral karena dampaknya dapat mengganggu kesehatan, pendidikan, perekonomian, transportasi, kehidupan sosial, serta merusak ekosistem gambut.
Sementara itu Menhut Raja Juli Antoni mengatakan kunjungannya ke Kalbar merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan instruksi pemerintah pusat terkait penanganan karhutla berjalan di daerah.
Raja Juli menyebut hotspot Kalbar sangat dinamis. Pada saat puncak tercatat 824 titik pada 19 Agustus, kemudian turun menjadi 93 titik pada 20 Agustus, lalu meningkat menjadi 442 titik pada 21 Agustus, dan 587 titik pada 22 Agustus 2026.
Berdasarkan data per 23 Agustus malam, hotspot Kalbar turun menjadi 28 titik. Namun Menhut Raja Juli mengingatkan jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi asap karena api di lahan gambut dapat berada di bawah permukaan.
“Gambut memang paling sulit dipadamkan karena apinya bisa berada di bawah permukaan dan produksi asapnya sangat luar biasa,” ujarnya.
Untuk memperkuat penanganan, pemerintah mengerahkan tujuh helikopter water bombing, dua helikopter patroli, dan satu pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kementerian Kehutanan (Kemenhut) juga menugaskan 5.000 ASN ke enam provinsi, termasuk 700 personel untuk Kalbar.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.