pickleballvnz.com

Gratis untuk publik, FKI XIII ISI Padang Panjang hadirkan 232 peserta dan jejaring Seni Internasional

Sebanyak 232 peserta dari sembilan perguruan tinggi seni akan meramaikan Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera ANTARA News sumbar 21 ...

Padang Panjang (ANTARA) - Sebanyak 232 peserta dari sembilan perguruan tinggi seni akan meramaikan Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 20–24 Oktober 2026. Mengusung semangat kolaborasi dan pengembangan seni budaya, festival ini menghadirkan pertunjukan, pameran, kompetisi, pemutaran film, lokakarya, hingga seminar internasional yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis.

FKI XIII tidak sekadar menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga ruang pertemuan gagasan, tradisi, dan inovasi seni dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum bagi ISI Padang Panjang untuk memperkuat jejaring seni nasional dan internasional serta mendorong perkembangan ekosistem kebudayaan Indonesia.

Rektor ISI Padang Panjang, Dr. Febri Yulika, mengatakan festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi seni, seniman, akademisi, maestro, komunitas budaya, dan masyarakat.

“Melalui koordinasi dan kesepakatan bersama sembilan perguruan tinggi seni, FKI XIII akhirnya dapat kita laksanakan di Padang Panjang,” kata Febri Yulika, Senin.

ISI Padang Panjang ditetapkan sebagai tuan rumah melalui kesepakatan pimpinan perguruan tinggi seni. Festival yang semula direncanakan berlangsung pada 2025 itu kemudian dijadwalkan ulang menyusul kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Salah satu agenda utama FKI XIII adalah presentasi karya unggulan dari perguruan tinggi peserta. Setiap institusi mendapat kesempatan menampilkan capaian artistik sekaligus memperlihatkan perkembangan kreativitas di lingkungan akademik seni.

Melanjutkan konsep FKI XII di Denpasar, Bali, pada 2023 yang dikenal sebagai FKI Plus, penyelenggaraan FKI XIII juga diperkuat dengan berbagai kompetisi yang memperebutkan Piala Bergilir Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Menurut Febri, kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan seniman muda untuk menguji kemampuan, memperluas pengalaman, serta membangun jejaring dengan sesama pelaku seni.

“FKI XIII Plus tidak hanya menghadirkan pertunjukan dan pameran seni rupa, tetapi juga berbagai kompetisi yang diharapkan mampu mendorong kreativitas dan meningkatkan kualitas karya generasi muda,” ujarnya.

Dunia perfilman turut mendapat tempat melalui program pemutaran karya terbaik mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi seni. Program ini menjadi kesempatan bagi sineas muda untuk memperkenalkan karya mereka sekaligus membuka ruang apresiasi publik terhadap perkembangan perfilman di lingkungan pendidikan seni.

Di ranah akademik, seminar internasional akan mempertemukan narasumber dari dalam dan luar negeri untuk bertukar gagasan serta pengalaman mengenai perkembangan seni dan kebudayaan. Kegiatan ini dirancang secara hibrida, yakni melalui pertemuan langsung dan daring, sehingga dapat menjangkau lebih banyak peserta.

Perhatian terhadap keberlanjutan seni tradisi menjadi salah satu bagian penting dalam FKI XIII Plus. Sebanyak sembilan maestro pilihan perguruan tinggi peserta akan berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman berkesenian kepada mahasiswa, pelajar, serta generasi muda.

Febri menilai keterlibatan para maestro penting untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan seni tradisi tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Pengalaman para maestro diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat diteruskan melalui proses belajar, praktik, dan penciptaan karya baru,” katanya.

Sebagai tuan rumah, ISI Padang Panjang juga menempatkan kekayaan seni dan budaya Minangkabau sebagai bagian penting dari rangkaian festival.

Lokakarya seni tradisional, termasuk randai, disiapkan untuk memperkenalkan pengetahuan dan praktik kesenian lokal kepada peserta dari berbagai perguruan tinggi. Kegiatan ini sekaligus mempertemukan tradisi dengan lingkungan akademik dan perkembangan seni kontemporer.

Penyelenggaraan festival juga melibatkan komunitas dan sanggar seni di Sumatera Barat. Salah satu mitra yang terlibat adalah Sanggar Seni Kambang Manih dari Kota Padang Panjang.

Menurut Febri, pengembangan seni dan budaya tidak cukup hanya bertumpu pada institusi pendidikan. Sanggar, seniman lokal, dan masyarakat merupakan bagian penting dari ekosistem kebudayaan yang berperan menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus membuka ruang inovasi.

“Dengan mengangkat kearifan lokal, FKI XIII diharapkan mampu menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di tangan generasi kreatif, nilai-nilai budaya dapat terus ditafsirkan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas,” tuturnya.

Dalam keterangannya, Febri didampingi Direktur FKI XIII Yusril dan perwakilan mitra festival, Sanggar Seni Kambang Manih.

Tak hanya berfokus pada aspek artistik dan akademik, FKI XIII Plus juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan diberi ruang untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka selama festival berlangsung.

Febri mengatakan, keterlibatan UMKM merupakan bagian dari upaya menghubungkan aktivitas seni dengan pengembangan ekonomi kreatif.

“Kehadiran peserta, seniman, akademisi, dan pengunjung berpotensi membuka kesempatan promosi produk lokal sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha,” ujarnya.

Penyelenggaraan FKI XIII didukung oleh anggaran yang diprogramkan perguruan tinggi serta bantuan hibah dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain itu, sejumlah mitra perbankan ISI Padang Panjang, yakni Bank Nagari, BRI, dan BSI, turut mendukung pelaksanaan kegiatan.

Dukungan berbagai pihak tersebut diharapkan memperkuat keberlangsungan festival sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati pertunjukan dan pameran seni secara gratis.

Penyelenggaraan FKI XIII menjadi kali ketiga bagi ISI Padang Panjang menjadi tuan rumah festival tersebut. Dalam riwayat penyelenggaraannya, ISI Padang Panjang juga pernah menjadi tuan rumah FKI II pada 2016 dan FKI IX pada 2021.

Melanjutkan semangat kolaborasi FKI XII di Denpasar, Bali, FKI XIII di Padang Panjang turut membuka ruang keterlibatan jejaring internasional. Peserta dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Australia dijadwalkan terlibat dalam sejumlah agenda, termasuk pertunjukan, seminar, dan pameran seni.

Keterlibatan jejaring lintas negara ini diharapkan memperluas pertukaran gagasan dan pengalaman sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Indonesia kepada komunitas seni internasional.

Febri menegaskan, keberhasilan FKI XIII Plus tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau padatnya rangkaian kegiatan. Lebih dari itu, festival diharapkan mampu melahirkan kolaborasi berkelanjutan, memperkuat kompetensi generasi muda, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan kebudayaan.

Bagi Padang Panjang, penyelenggaraan FKI XIII juga menjadi kesempatan untuk mempertegas perannya sebagai salah satu ruang penting perkembangan seni dan budaya di Sumatera Barat.

“Harapannya, FKI XIII tidak hanya menghadirkan pertunjukan yang menarik, tetapi juga meninggalkan dampak nyata bagi seniman, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan masyarakat,” ujarnya.

Melalui perpaduan pertunjukan, pendidikan, pelestarian tradisi, kolaborasi internasional, dan pemberdayaan ekonomi kreatif, FKI XIII ISI Padang Panjang diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival lima hari. Ajang ini diharapkan menjadi ruang tumbuhnya gagasan baru, penguatan identitas budaya, serta terbukanya peluang bagi perkembangan seni Indonesia pada masa depan.