pickleballvnz.com

Genjot Pengembangan Bensin Biotenol, Bahlil Siapkan Skema Harganya

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan formulasi harga dan skema insentif, terutama untuk mendukung program campur...

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan formulasi harga dan skema insentif, terutama untuk mendukung program campuran bioetanol pada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin.

Bahlil menjelaskan, mekanisme pembiayaan bioetanol tidak sepenuhnya akan sama seperti skema pendanaan biodiesel melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Meski demikian, pemerintah sedang menyusun formula agar harga bioetanol tetap kompetitif tanpa merugikan industri maupun petani.

Dia menjelaskan, bioetanol memiliki bahan baku yang berbeda dengan biodiesel. Biodiesel diproduksi dari minyak sawit melalui Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang kemudian dicampur dengan Solar, sementara bioetanol berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, singkong, dan tebu, yang kemudian dicampur dengan bensin.

"Kalau etanol itu bahan bakunya itu ada tiga dari jagung, singkong, dan tebu. Tebu ini biasanya larinya ke molase nih. Nah, harga mereka kita langsung patok, tetapi kita bikin semacam harga yang ekonomis supaya petani juga punya pendapatan yang bagus," ungkap Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, dikutip Selasa (4/8/2026).

Bahlil membeberkan, pemerintah berencana menetapkan harga bioetanol pada tingkat yang tetap memberikan keuntungan bagi petani. Adapun, saat ini harga bioetanol berada di kisaran Rp11.000 per liter, sedangkan harga bensin mencapai sekitar Rp16.000 per liter, sehingga penggunaan bioetanol dinilai masih ekonomis.

Namun demikian, ia mengakui tantangan akan muncul apabila harga minyak dunia turun, sehingga harga bensin menjadi lebih murah daripada bioetanol. Dalam kondisi tersebut, akan timbul selisih harga yang perlu diantisipasi melalui mekanisme yang sedang disusun pemerintah.

"Tetapi ketika harga minyak dunia turun, ya kan, contoh harga minyak dunia turun menjadi Rp9.000 atau Rp10.000, etanolnya Rp11.000, berarti akan ada selisih Rp1.000. Nah, ini yang kita akan membentuk ininya. Kita akan membuat satu formulasi yang baik untuk kepentingan industri, petani, dan negara," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan mempercepat pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol. Bahkan, Indonesia ditargetkan mampu mengikuti jejak India dan Brasil dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Prabowo mengatakan Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan menuju penerapan E10 atau bensin dengan campuran 10% etanol. Bahkan, Indonesia berpotensi meningkatkan kadar campuran etanol hingga E20.

"Saya melihat pameran tadi sudah mampu menuju E10, etanol 10, jadi bensin nanti dicampur 10% etanol tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang kita miliki baru 1 pabrik tadi saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik kalau perlu sampai 50 pabrik," tuturnya.

Prabowo kemudian membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil bahkan telah menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni.

"India sudah E20, India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? bisa ? bisa," katanya.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]