Gempa magnitudo 5,7 kembali guncang NTT pada Rabu malam
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa dengan magnitudo 5,7 kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu malam pukul 23.17 WIB.Gempa magnitud...
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa dengan magnitudo 5,7 kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu malam pukul 23.17 WIB.
Gempa magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Ruteng, Manggarai, NTT, dengan kedalaman 10 kilometer dan tak berpotensi tsunami.
Guncangan dirasakan di wilayah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Nagekeo, hingga Kabupaten Sumba Timur dengan berbagai intensitas maksimum III-IV MMI.
Sementara gempa di bawah magnitudo 5 terus terjadi di wilayah tersebut, mulai dari magnitudo 4 hingga 2. Aktivitas gempa susulan yang masih terus terjadi di zona tektonik Flores Back-Arc ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari masyarakat di Pulau Flores dan sekitarnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperkirakan aktivitas gempa susulan pascagempa bermagnitudo 7,7 di Flores membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu untuk meluruh.
Baca juga: Kemenkes dirikan dua rumah sakit lapangan, tangani korban gempa NTT
Baca juga: Kepala BMKG: Gempa susulan di Flores diperkirakan meluruh 3-4 minggu
“Karena ini gempanya cukup besar, 7,7 magnitudo, jadi peluruhannya memerlukan waktu kurang lebih tiga sampai empat minggu ke depan,” kata Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Rabu.
Hingga Rabu pukul 17.00 WIB, BMKG mencatat 3.055 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88 gempa dapat dirasakan masyarakat.
“Jumlah gempa susulan sampai dengan jam 5 sore hari ini, 19 Agustus 2026, adalah sejumlah 3.055 gempa susulan,” ujar Faisal.
BMKG terus memantau aktivitas kegempaan secara waktu nyata, sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak dan lokasi pengungsian.
BMKG mengimbau warga terdampak untuk tidak menempati bangunan atau rumah yang mengalami retakan struktural serta dipastikan tidak aman guna menghindari risiko kerobohan akibat guncangan susulan.
Selain itu, masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu atau hoaks kebencanaan yang tidak jelas sumbernya, serta selalu memperbarui perkembangan data tektonik resmi melalui aplikasi dan kanal komunikasi terverifikasi BMKG.
Baca juga: Mendagri salurkan santunan kepada korban gempa di Nangapanda
Baca juga: Kepala BNPB pastikan dukungan rumah rusak korban gempa NTT terpenuhi
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.