Gaza Darurat Pangan: 466 Warga Tewas Kelaparan Sejak 2024, Termasuk 157 |Republika Online
Asap membubung dari sebuah kendaraan yang terbakar setelah terkena serangan udara Israel di sebelah selatan Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 24 September 2026. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setida...
Asap membubung dari sebuah kendaraan yang terbakar setelah terkena serangan udara Israel di sebelah selatan Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 24 September 2026. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setidaknya satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan terhadap mobil tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID,GAZA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Gaza mengatakan, setidaknya 466 warga Gaza tewas akibat malnutrisi dan kelaparan sejak 2024. Korban termasuk 157 anak-anak.
Data tersebut diungkap Kemenkes Gaza bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia pada Jumat (16/10/2026). “Tingkat kekurangan gizi dan kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat yang sangat parah (katastropik), yang merenggut nyawa anak-anak, lansia, dan kelompok rentan,” kata Kemenkes Gaza dalam perhyataannya, dikutip laman Middle East Monitor.
Lebih dari 1,4 juta orang atau sekitar 67 persen dari populasi Gaza diperkirakan akan menghadapi kerawanan pangan atau bahkan kelaparan hingga akhir 2026. Menurut Kemenkes Gaza, lebih dari 158 ribu kasus malnutrisi akut pada balita pada rentang 2024 hingga Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, 18 persen anak menderita malnutrisi akut berat yang mengancam jiwa. Sementara 12,2 persen lainnya mengalami tengkes (stunting) yang menunjukkan bahwa mereka kekurangan asupan gizi dan makanan.
Kemenkes Gaza mengungkapkan, tingkat kematian di antara balita di Gaza meningkat dari 13,6 menjadi 33,4 kematian per 1.000 kelahiran antara 2022 dan 2025. Sebanyak 74.200 anak diperkirakan akan membutuhkan perawatan untuk kekurangan gizi akut hingga April 2027.
Menurut Kemenkes Gaza, malnutrisi dan kelaparan turut berdampak pada kalangan ibu hamil. “Sekitar 4.000 keguguran tercatat selama paruh pertama tahun 2026, lebih dari tiga kali lipat dari jumlah yang tercatat selama enam bulan sebelumnya,” ungkapnya.
Mereka menambahkan, satu dari tiga kehamilan di Gaza kini diklasifikasikan sebagai berisiko tinggi. “Angka-angka menunjukkan bahwa konsekuensi kesehatan dari krisis pangan semakin mempengaruhi ibu dan anak-anak yang belum lahir, di luar anak-anak,” kata Kemenkes Gaza.
Kemenkes Gaza menyerukan adanya langkah atau tindakan internasional guna menangani dan mengatasi isu malnutrisi serta kelaparan di Gaza. “Hak atas makanan adalah hak asasi manusia yang mendasar yang tidak berhenti ada selama perang,” ungkapnya.
Selain bantuan pangan atau logistik, Kemenkes Gaza juga berharap komunitas internasional dapat membantu mengaktifkan kembali produksi pangan lokal di wilayah tersebut. Hal itu guna membantu mengekang krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza.
Pada Agustus 2025, PBB menyatakan telah terjadi kelaparan di Gaza. Menurut badan-badan pemerintah Palestina dan organisasi hak asasi manusia, otoritas Israel telah menggunakan kelaparan sebagai senjata. Melaparkan penduduk menjadi salah satu metode Israel dalam melakukan genosida di Gaza yang dimulai lewat agresi pada Oktober 2023.
Sejak konflik berlangsung hingga kini, Israel masih menerapkan pembatasan ketat akses masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Bantuan tersebut terdiri dari bahan pangan, suplai medis, BBM, dan lainnya.
Macetnya suplai logistik pada akhirnya berperan atas munculnya fenomena malnutrisi dan kelaparan di Gaza. Hal itu karena selama melancarkan agresi ke Gaza, Israel turut membombardir lahan pertanian dan fasilitas produksi pangan di sana.