Film Bapakmu Kiper ungkap pertandingan bola tarkam antara judi, intrik, mistik dan keluarga - ANTARA News Megapolitan
Depok (ANTARA) - Film komedi keluarga Bapakmu Kiper mengambil cara promosi yang berbeda menjelang penayangannya di bioskop pada 3 September 2026. Alih-alih hanya menggelar promosi di pusat kota dan studio, film...
Depok (ANTARA) - Film komedi keluarga Bapakmu Kiper mengambil cara promosi yang berbeda menjelang penayangannya di bioskop pada 3 September 2026.
Alih-alih hanya menggelar promosi di pusat kota dan studio, film karya sutradara Ody C. Harahap tersebut lebih dulu turun langsung ke lapangan melalui berbagai kegiatan sepak bola tarkam.
Langkah tersebut dimulai dari Cibinong Cup. Para pemain tidak sekadar hadir sebagai bintang tamu, tetapi ikut merasakan atmosfer pertandingan. Fedi Nuril, Ody C. Harahap, hingga Vidi Bule bahkan turun langsung mengikuti adu penalti.
Kegiatan serupa berlanjut di Liga Akamsi. Ali Fikry, Cemen, dan Vidi Bule bermain bersama anak-anak dalam pertandingan yang berlangsung penuh canda. Meski harus menerima kekalahan, suasana pertandingan justru menjadi pengalaman yang memperkuat kedekatan para pemain dengan komunitas sepak bola akar rumput.
Puncaknya berlangsung di Lombok melalui gala premiere yang digelar Jumat lalu. Kehadiran Fedi Nuril dan Ali Fikry mendapat sambutan masyarakat setempat. Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilakukan di Sidoarjo dan Surabaya.
Tim Bapakmu Kiper menilai komunitas sepak bola di berbagai daerah merasa memiliki keterwakilan melalui film tersebut karena mengangkat kultur sepak bola yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Dari awal kita emang mau beda. Kita pengen dekat sama rakyat. Karena ceritanya tentang rakyat, jadi kita harus ketemu rakyatnya dulu,” kata tim Entelekey Media Indonesia.
Mengangkat Sisi Lain Sepak Bola Indonesia
Menurut tim produksi, tarkam dipilih karena memiliki warna tersendiri yang belum banyak diangkat ke layar lebar. Jika sepak bola profesional sudah sering menjadi latar cerita, sepak bola antarkampung memiliki karakter yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Di dalamnya terdapat berbagai dinamika, mulai dari hadiah atau saweran, persaingan antarkampung, hingga beragam drama yang muncul di sekitar pertandingan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari visi Entelekey Media Indonesia untuk menghadirkan cerita Indonesia dari sisi kehidupan masyarakat yang jarang disorot.
Menariknya, cerita Bapakmu Kiper juga dinilai memiliki potensi untuk menjangkau penonton di negara-negara Asia Tenggara. Tim produksi menyebut terdapat sinyal mengenai peluang film tersebut untuk ditayangkan di sejumlah negara kawasan tersebut.
Bukan Sekadar Film Sepak Bola
Meski sepak bola menjadi elemen penting, inti cerita Bapakmu Kiper justru berada pada hubungan antara seorang ayah dan anak laki-lakinya.
Ody C. Harahap mengaku langsung tertarik ketika pertama kali mendengar ide cerita tersebut. Menurutnya, relasi ayah dan anak laki-laki belum banyak dibahas secara mendalam dalam film Indonesia.
Hubungan tersebut memiliki tantangan tersendiri karena baik ayah maupun anak laki-laki kerap memiliki ego dan gengsi untuk mengungkapkan perasaan secara terbuka.
Fedi Nuril yang memerankan Warto, seorang kiper, juga merasakan tantangan tersebut. Ia menilai eksplorasi hubungan ayah dan anak laki-laki menjadi salah satu bagian tersulit dalam proses penggarapan film.
“Syutingnya capek, tapi karena teman-temannya suka bercanda jadi ngejalaninnya tetap enak. Tantangan terbesar saya itu mengeksplor hubungan bapak dan anak laki,” ujar Fedi.
Menurut Fedi, laki-laki cenderung lebih sulit mengungkapkan perasaan kepada sesamanya. Padahal, komunikasi yang terbuka justru penting untuk membangun hubungan keluarga yang kuat.
Demi mendalami karakter Warto, Fedi juga menjalani latihan khusus sebagai penjaga gawang. Sebelumnya ia lebih terbiasa bermain sebagai center back. Dalam film ini, ia harus memerankan kiper yang memiliki karakter unik dan cenderung malas menangkap bola.
Ali Fikry dan Karakter Anak Muda
Sementara itu, Ali Fikry memerankan Dino, sosok anak muda yang memiliki mimpi besar tetapi justru menghadapi hambatan dari orang-orang terdekatnya.
Ali menilai karakter tersebut cukup dekat dengan realitas anak muda masa kini. Film ini juga membawa pesan mengenai pentingnya memberikan maaf dan kesempatan kedua.
“Film ini juga ngajarin tentang ngasih maaf dan kesempatan kedua,” kata Ali.
Ia juga mengungkapkan tantangan ketika harus bermain sepak bola sekaligus berakting. Menurutnya, bermain bola untuk kebutuhan film jauh lebih kompleks dibandingkan pertandingan biasa karena pemain harus memperhatikan dialog, blocking, gerakan, hingga kebutuhan kamera.
“Kalau beneran yaudah tinggal main. Kalau buat film kepala kita pecah. Harus mikir dialog, blocking, gerakannya harus bagus, padahal matahari terik,” ujarnya.
Dibangun dari Karakter Manusia
Ody C. Harahap memiliki pendekatan tersendiri dalam membangun karakter. Ia tidak memulai dari unsur komedi, melainkan terlebih dahulu memahami manusia yang berada di balik setiap karakter.
Ia membangun latar belakang tokoh, mulai dari tipe seorang bapak, lingkungan pertemanan, hingga pekerjaan mereka. Bahkan detail kecil seperti nama kontak WhatsApp dibuat untuk membantu pemain menghidupkan karakter.
“Kita gak mikir komedinya dulu. Kita balik ke dramanya dulu. Balik ke manusianya dulu,” ujar Ody.
Proses produksi pun berlangsung dengan suasana yang cair. Para pemain mengaku hubungan di lokasi syuting terasa seperti sebuah keluarga. Intensitas aktivitas fisik dalam pengambilan gambar bahkan membuat sejumlah pemain mengalami memar hingga membutuhkan fisioterapi.
Salah satu pemain juga disebut rela menolak tawaran pekerjaan di Eropa demi terlibat dalam film tersebut.
Di tengah dominasi karakter laki-laki, Neysa Chandria turut memberikan warna tersendiri. Ia mengaku suasana syuting yang penuh candaan membuat dirinya kerap tertawa. Chemistry dengan Ali Fikry juga terbangun dengan mudah.
Film ini turut memperlihatkan perbedaan pola hubungan orang tua dengan anak laki-laki dan anak perempuan.
Membawa Pesan tentang Keluarga
Pada akhirnya, Bapakmu Kiper tidak ingin berhenti sebagai film komedi berlatar sepak bola tarkam. Di balik berbagai adegan pertandingan dan humor, film ini membawa pesan mengenai keluarga, hubungan orang tua dan anak, serta pentingnya memberikan kesempatan kedua.
Tim produksi berharap penonton tidak hanya pulang dari bioskop dengan membawa tawa, tetapi juga perasaan yang lebih dekat dengan keluarga.
Film Bapakmu Kiper dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026.
Karena bagi film ini, baik di lapangan tarkam maupun dalam kehidupan keluarga, setiap orang pada akhirnya bermain untuk orang-orang yang mereka sayangi.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.