Festival Sangiang Api angkat sejarah letusan hingga jejak peradaban Islam
Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menggelar Festival Sangiang Api untuk mengangkat sejarah, budaya, hingga kearifan ANTARA News mataram 38 ...
Bima, NTB (ANTARA) - Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menggelar Festival Sangiang Api untuk mengangkat sejarah, budaya, hingga kearifan lokal masyarakat setempat pada akhir Agustus 2026 mendatang.
"Agenda tahunan ini diharapkan menjadi momentum besar untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, dan potensi wisata Pulau Sangiang kepada masyarakat nasional hingga mancanegara," kata Kepala Desa Sangiang, Arasid Imran di Bima, Rabu.
Ia mengatakan, penyelenggaraan FSA 2026 akan dikemas sebagai perpaduan antara festival budaya, wisata, sejarah, dan edukasi.
Berbagai atraksi khas masyarakat pesisir akan menjadi daya tarik utama, mulai dari lomba sampan layar tradisional, lomba dayung sampan, pertunjukan seni dan budaya, pameran tenun khas Sangiang, demonstrasi pembuatan kapal tradisional, bazar UMKM, festival kuliner lokal, pertunjukan musik tradisional, hingga berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat.
"Seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya kami hadirkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi untuk memperkenalkan identitas Pulau Sangiang sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban maritim yang telah tumbuh selama berabad-abad," ujarnya lagi.
Menurutnya, festival ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang bersama untuk merawat memori kolektif masyarakat, menghidupkan kembali warisan leluhur, sekaligus memperkenalkan Pulau Sangiang sebagai salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan penting di NTB.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan festival ini. Dukungan kami harapkan dari Pemprov NTB, Pemerintah Kabupaten Bima, seluruh pemangku kebijakan, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat luas. Festival ini adalah milik kita bersama," katanya.
Menurutnya, melalui FSA 2026 masyarakat tidak hanya akan disuguhi berbagai atraksi budaya, tetapi juga diajak menelusuri perjalanan panjang Pulau Sangiang, mulai dari sejarah letusan Gunung Sangiang Api, budaya maritim, perpindahan masyarakat pasca-erupsi, hingga jejak masuk dan berkembangnya Islam di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan Gunung Sangiang Api merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat setempat. Letusan gunung pada masa lalu bukan hanya membentuk bentang alam vulkanik yang unik, tetapi juga mengubah kehidupan masyarakat. Sebagian warga terpaksa meninggalkan kampung halamannya dan menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Sumbawa maupun daerah lain di Indonesia.
Selain sejarah letusan gunung, festival ini juga akan memperkenalkan jejak masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Sangiang yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu titik persinggahan penting di jalur pelayaran Nusantara. Letak geografis-nya yang strategis menjadikan pulau ini ramai disinggahi pelaut dan saudagar dari berbagai wilayah, seperti Jawa, Sulawesi, Maluku, Bali, hingga para pedagang dari Arab dan kawasan Asia lainnya.
Melalui aktivitas perdagangan dan pelayaran tersebut terjadi pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai keagamaan yang kemudian menjadi salah satu jalur berkembangnya syiar Islam di Pulau Sangiang.
Selain itu, festival ini memperkenalkan berbagai warisan budaya yang masih hidup hingga saat ini, di antaranya tradisi pembuatan kapal kayu yang diwariskan secara turun-temurun, tenun khas Sangiang, cerita rakyat hingga keberadaan Nakara Makalamu, artefak perunggu yang menjadi salah satu jejak penting peradaban awal di Pulau Sangiang dan memiliki nilai historis yang tinggi.
"Melalui festival ini kami ingin menyampaikan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Sangiang bukan hanya memiliki panorama alam yang indah. Pulau ini menyimpan kisah besar tentang letusan gunung api, perpindahan masyarakat, budaya maritim, perkembangan Islam, serta berbagai warisan budaya yang masih hidup hingga sekarang," katanya pula.
Baca juga: Festival Sangiang Api di Bima lestarikan budaya kuliner lokal Kadodo Wera
Baca juga: Malam penutupan FSA 2025 'pecah', dihibur artis ibukota dan lokal Bima
Baca juga: Puluhan ribu penonton hadiri babak final lomba sampan FSA 2025 di Bima
Pewarta : Nur Imansyah, Ady Ardiansah
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026