pickleballvnz.com

Eks Ketua PBNU Robikin Emhas: Muktamar NU Bukan Sekadar Pilih Ketua, tapi Pulihkan Marwah Organisasi

Ketua PBNU Periode 2015–2020 Robikin Emhas mengingatkan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada akhir Agustus 2026 tidak boleh dipandang hanya sebagai agenda pergantian kepemimpinan.

Bagikan:

JAKARTA - Ketua PBNU Periode 2015–2020 Robikin Emhas mengingatkan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada akhir Agustus 2026 tidak boleh dipandang hanya sebagai agenda pergantian kepemimpinan.

Menurutnya, forum tertinggi organisasi itu harus menjadi momentum evaluasi sekaligus pemulihan marwah NU yang dinilai tercoreng akibat konflik elite.

Pandangan itu disampaikan Robikin saat menjadi narasumber dalam "Rembug Warga NU Seri 4 bertajuk Merawat Jagat, Melupakan Umat? Peradaban Global Minus Pemberdayaan Lokal" yang digelar Forum Bersama (Forbes) NU 26 di Universitas Indonesia (UI) Kampus Salemba, Jakarta.

Robikin menilai Muktamar merupakan kesempatan bagi warga NU untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, termasuk tata kelola dan arah pengabdian kepada umat.

"Muktamar sekali lagi bukan sekadar memilih Rais Aam atau Ketua Umum. Muktamar adalah kesempatan memperbarui kontrak pengabdian, momentum mengevaluasi perjalanan organisasi, tata kelola, dan juga marwah NU," kata Robikin, dikutip Minggu, 26 Juli 2026.

Ia juga menyinggung konflik di tingkat elite PBNU yang menurutnya telah berdampak pada citra organisasi di mata warga.

"Marwah NU telah tercabik-cabik hanya karena konflik elite PBNU. Kita semuanya malu, sampean semuanya pasti merasakan. Saya termasuk yang menjadi bagian yang menanggung rasa malu itu sedemikian rupa," ujarnya.

BACA JUGA:


Dalam pandangan Robikin, ukuran kebesaran Nahdlatul Ulama bukan ditentukan oleh besarnya panggung organisasi, melainkan sejauh mana manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Marwah NU tidak lahir dari besarnya panggung yang kita miliki, tetapi dari besarnya manfaat yang kita berikan. Peradaban tidak dibangun dengan meninggalkan umat, melainkan dengan memuliakan umat. Umat yang kuat akan melahirkan peradaban yang bermartabat," katanya.

Rembug Warga NU Seri 4 merupakan lanjutan dari rangkaian diskusi yang sebelumnya membahas tata kelola organisasi, pendanaan, hingga politik global di lingkungan PBNU. Pada seri kali ini, pembahasan difokuskan pada keseimbangan antara gagasan peradaban global dengan agenda pemberdayaan warga di tingkat akar rumput.

Selain Robikin, forum tersebut menghadirkan Sekretaris Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Nyai Hj. Masruchah yang membahas perspektif keadilan sosial, advokasi kelompok rentan, dan penguatan dakwah berbasis masyarakat.

Diskusi juga menghadirkan Direktur Eksekutif PRAKARSA periode 2015–2025, Ah Maftuchan, yang mengulas tata kelola anggaran dan redistribusi sumber daya di lingkungan PBNU. Dalam paparannya, ia turut menawarkan indikator Nahdlatul Ulama Sustainability Index (NUSI) sebagai instrumen untuk mengukur keberlanjutan serta dampak organisasi terhadap warga.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+