Ekonomi NTB tumbuh melambat ke angka 7,41 persen, ini penyebabnya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan II 2026 melambat menjadi 7,41 persen secara tahunan dibandingkan pertumbuhan ANTARA News mataram 38 ...
Angka itu tetap tumbuh, tetapi melambat dibandingkan triwulan I 2026.
Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan II 2026 melambat menjadi 7,41 persen secara tahunan dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang mencapai 13,64 persen.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan perekonomian NTB berdasarkan besaran produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp29,89 triliun.
"Angka itu tetap tumbuh, tetapi melambat dibandingkan triwulan I 2026," ujarnya dalam paparan statistik di Mataram, Rabu.
Wahyudin menjelaskan perlambatan tersebut dipengaruhi oleh kontribusi ekspor konsentrat hasil tambang yang nihil pada Mei dan Juni 2026 akibat berakhirnya relaksasi tambang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Adapun pada triwulan I 2026, perekonomian NTB masih mendapatkan dorongan kuat dari ekspor konsentrat yang berlangsung sejak adanya relaksasi ekspor pada November 2025 hingga April 2026.
"Triwulan II 2026 tidak ada lagi ekspor kecuali bulan April. Saat itu masih ada ekspor, izin ekspor konsentrat masih ada. Sedangkan, bulan Mei dan Juni sama sekali tidak ada," papar Wahyudin.
Lebih lanjut dia menegaskan laju perekonomian masih mampu tumbuh meski melambat.
Dari sisi lapangan usaha pertanian, sektor tersebut masih mencatat pertumbuhan meskipun tidak setinggi pada triwulan I 2026 yang mencapai dua digit dan menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Memasuki triwulan II 2026, sektor pertanian masih tumbuh karena pada April masih terjadi panen meskipun masa panen raya berlangsung pada Maret.
Mulai Mei dan Juni (panen) sudah mulai agak sedikit menurun, tetapi sektor pertanian masih tetap tumbuh sekitar lebih dari dua persen," pungkas Wahyudin.
BPS NTB mencatat walaupun laju pertumbuhan ekonomi cenderung melambat ke angka 7,41 persen pada triwulan II 2026, tetapi Nusa Tenggara Barat masih menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026