pickleballvnz.com

Dosen: Anak perlu penguatan literasi untuk capai kesuksesan

Anak usia dini perlu dibudayakan membaca sejak awal sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan literasi yang menjadi salah satu kunci mencapai kesuksesan pada masa depan, kata ANTARA News jateng peristiwa ...

Dosen: Anak perlu penguatan literasi untuk capai kesuksesan

Sabtu, 5 September 2026 17:13 WIB

Image Print

Dosen Program Doktoral Unissula Semarang Habiburrahman El Shirazy yang juga sastrawan dan penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta saat menjadi pembicara dalam Parenting "Menyemai Cinta dan Harmoni Untuk Buah Hati" di aula DPRD Kudus, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Kudus (ANTARA) - Anak usia dini perlu dibudayakan membaca sejak awal sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan literasi yang menjadi salah satu kunci mencapai kesuksesan pada masa depan, kata Dosen Program Doktoral Unissula Semarang Habiburrahman El Shirazy.

"Penguatan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir untuk memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan. Kalau ingin anak-anak kita sukses, perlu ada penguatan literasi. Ini sudah ditegaskan Allah sejak wahyu pembuka, yaitu Iqra, bacalah," ujar Habiburrahman El Shirazy yang juga sastrawan dan penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta saat menjadi pembicara dalam Parenting "Menyemai Cinta dan Harmoni Untuk Buah Hati" yang diselenggarakan oleh Yayasan Sosial Pendidikan Al-Fath Kudus di aula DPRD Kudus, Sabtu.

Ia mengatakan literasi paling dasar dalam Islam adalah membaca. Perintah membaca tersebut menjadi fondasi penting dalam menuntut ilmu, sebab untuk memahami dan menjalankan ajaran agama pun manusia membutuhkan ilmu pengetahuan.

"Ketahuilah, kata dasar ilmu itu membutuhkan proses membaca. Bahkan untuk bertauhid pun memerlukan ilmu. Allah mengajar manusia dengan perantaraan pena atau qalam," ujarnya.

Menurut dia, tradisi membaca dan menulis dalam sejarah Islam juga kuat. Pada masa Nabi Muhammad SAW, misalnya, terdapat banyak sekretaris yang bertugas mencatat berbagai hal. Tradisi tersebut kemudian terus berkembang dan melahirkan gerakan ilmu pengetahuan yang luar biasa dalam sejarah peradaban Islam.

Ia menilai membaca seharusnya tidak sekadar menjadi aktivitas untuk memperoleh informasi, tetapi juga diniatkan sebagai ibadah dan bagian dari menjalankan perintah Allah SWT.

"Islam pernah menjadi yang paling terdepan dalam tradisi membaca dan menulis. Penguasaan literasi membaca adalah kunci, sedangkan kemenangan literasi ada pada kemampuan berpikir," ujarnya.

Oleh karena itu, katanya, setidaknya ada tiga hal yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini, yakni kegemaran membaca, kemampuan memahami informasi, dan kemampuan berpikir secara utuh.

Ia mengingatkan orang tua agar tidak hanya mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi bagi anak.

Media sosial, kata dia, cenderung menyajikan informasi secara singkat sehingga belum tentu mendorong proses pembelajaran secara mendalam.

"Media sosial tidak bisa menggantikan proses deep learning (pembelajaran mendalam). Kita diajak berpikir secara utuh. Berbeda dengan buku elektronik bisa menggantikan hanya berbeda wahana, tetapi substansi membaca tetap penting," ujarnya.

Habiburrahman mencontohkan negara-negara maju yang memberikan perhatian besar terhadap budaya membaca. Bahkan, perpustakaan di negara maju tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga dirancang sebagai ruang yang menarik bagi anak dan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa semakin dini anak dikenalkan dengan buku dan kegiatan membaca, semakin besar peluang mereka menemukan pengetahuan dan mengembangkan potensi.

"Duluan membaca akan duluan menemukan," katanya.

Untuk itu, pihaknya mendorong orang tua aktif mendekatkan anak dengan buku. Orang tua dapat mengajak anak pergi ke toko buku, perpustakaan, maupun membacakan cerita secara rutin di rumah.

Pada akhirnya, katanya, pendidikan anak membutuhkan keseimbangan antara ikhtiar melalui ilmu pengetahuan dan tawakal kepada Allah SWT.

Orang tua, kata dia, tidak cukup hanya memberikan bekal secara jasmani, tetapi juga perlu memberikan bekal rohani melalui keteladanan, doa, dan pendidikan agama.

Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.