DKI terus tingkatkan kualitas layanan hepatitis
Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan DKI Jakarta terus meningkatkan kualitas layanan hepatitis, mulai dari skrining, pencegahan, hingga tata laksana sebagai upaya menurunkan prevalensi kasus penyakit tersebut."Ut...
Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan DKI Jakarta terus meningkatkan kualitas layanan hepatitis, mulai dari skrining, pencegahan, hingga tata laksana sebagai upaya menurunkan prevalensi kasus penyakit tersebut.
"Utamanya, ketika akses dibuka, berarti kualitas layanan yang harus kita tingkatkan sama-sama. Di tahun 2025, Jakarta merupakan salah satu provinsi terbaik untuk pelayanan hepatitis," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni dalam acara daring yang digelar oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan Jakarta memiliki layanan pencegahan (profilaksis) hepatitis di lima puskesmas dan lima rumah sakit.
"Skrining sudah dilakukan di seluruh puskesmas maupun rumah sakit, tetapi untuk layanan pencegahan profilaksis di 2023 itu hanya 10 layanan, yang terdiri dari lima puskesmas dan lima rumah sakit," terang Sri.
Sementara untuk pengobatan, per 2026 sudah tersedia di 61 fasilitas kesehatan di wilayah Jakarta.
"Saya mengucapkan apresiasi untuk suku dinas, kemudian di fasilitas kesehatan untuk pelayanan hepatitis, mulai dari skrining, pencegahan, sampai tata laksana," ucap Sri.
Baca juga: Lebih dari 60 persen penduduk RI masih rentan hepatitis B
Hepatitis merupakan penyakit peradangan atau pembengkakan pada organ hati yang dapat mengganggu fungsi penting tubuh. Penyakit ini terdiri dari lima jenis, yakni Hepatitis A,B,C, D, dan E dan memiliki cara penularan yang berbeda-beda.
Hepatitis A dan E ditularkan melalui makanan atau minuman tercemar atau peralatan atau tangan makan yang terkontaminasi, sementara Hepatitis B, C, dan D ditularkan melalui darah atau cairan tubuh, serta penularan ibu ke janin.
Gejala hepatitis, antara lain mual dan muntah, nyeri pada bagian perut, warna urin berubah menjadi gelap, mata dan kulit berubah kekuningan, gejala seperti flu, hilang nafsu makan, dan feses atau tinja berwarna pucat.
Baca juga: Menkes: Lewat CKG, RI kejar target skrining hepatitis B-C 90 persen
Baca juga: Tes tusuk jari akan perluas akses diagnosis hepatitis B
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.