Disbudpar Bangka Barat edukasi siswa tentang sejarah lokal - ANTARA News Bangka Belitung
Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membantu memberikan edukasi kepada para siswa tentang berbagai informasi sej...
Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membantu memberikan edukasi kepada para siswa tentang berbagai informasi sejarah lokal yang ada di Kota Mentok.
"Pengenalan dan pemahaman mendalam mengenai berbagai sejarah yang bisa dibuktikan dengan berbagai benda dan bangunan peninggalan yang masih bisa ditemukan di sekitar tempat tinggal kepada para siswa ini penting dilakukan untuk agar mereka paham berbagai informasi sejarah yang ada di sekitarnya yang selama ini belum tercatat dalam berbagai buku pelajaran sejarah nasional yang diajarkan di sekolah," kata Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan di Mentok, Selasa.
Ia mengatakan, para pegawai di Bidang Kebudayaan telah beberapa turun langsung ke sekolah untuk memberikan materi sejarah dan kebudayaan lokal kepada para siswa.
Selain itu, kata dia, para petugas juga sering memberikan pendampingan pada saat para siswa melakukan kunjungan di sejumlah bangunan peninggalan sejarah untuk memberikan informasi yang jelas tentang nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam bangunan tersebut.
"Terakhir kita membantu menyampaikan sejumlah materi terkait sejarah yang ada di Kota Mentok di SMA Negeri 1 Mentok, yang dilanjutkan dengan kunjungan siswa ke beberapa lokasi bersejarah, yaitu di Kelenteng Kong Fuk Miau, Makam Keramat Tangga Seribu, Pesanggrahan Mentok dan di Menara Suar Tanjungkalian," katanya.
Menurut dia, pola belajar sejarah dengan datang langsung di lokasi bangunan bersejarah penting dilakukan untuk memberikan gambaran dan kesan kuat terhadap materi yang disampaikan para petugas.
Para siswa bisa lebih mudah menerima informasi penting yang disampaikan para petugas karena mereka menyentuh, melihat dan melakukan pengamatan langsung berbagai bangunan yang dikunjungi untuk dikaitkan dengan nilai-nilai sejarah yang ada dalam bangunan tersebut.
Mentok yang saat ini menjadi ibu Kota Kabupaten Bangka Barat memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perjalanan sejarah nasional, mulai dari sejarah Katumenggungan, sejarah penambangan bijih timah, hingga sejarah masa pengasingan sejumlah petinggi Republik Indonesia di masa perjuangan pengakuan kedaulatan RI 1948-1949.
Kota Mentok pernah mengalami masa kejayaan sekitar abad 19, menjadi pusat perdagangan yang banyak dikunjungi kapal-kapal besar dari berbagai penjuru dunia datang ke Mentok mencari timah atau sekadar berdagang berbagai komoditas rempah, salah satunya lada putih.
Mentok sebagai "kute lame" (penyebutan kota lama dalam bahasa lokal) sampai saat ini masih sangat terasa, ratusan bangunan lama masih berdiri kokoh dan terawat, baik bangunan yang bernilai sejarah maupun bangunan milik warga.
Mentok memiliki tata kota yang apik, bahkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda telah dipisahkan berdasarkan tiga kelompok bangsa yang berbeda. Pemisahan ini berdasar kepentingan Kolonial Belanda, di mana etnis Cina diletakkan sebagai penyangga antara kepentingan kaum pribumi dengan Belanda.
Di kluster Melayu berdiri bangunan rumah Tumenggung, beberapa rumah panggung, Masjid Jamik, makam Kute Seribu dan lainnya, sedangkan di kluster Cina ada Rumah Mayor, pergudangan, kompleks pasar, Kelenteng Kung Fuk Miau, dan beberapa rumah penduduk bergaya arsitektur Cina.
Sementara itu, di kluster Eropa, beberapa bangunan khas arsitektur Eropa juga banyak ditemukan di Kota Mentok, seperti pelabuhan lama, komplek pergudangan di pelabuhan, rumah residen, museum timah, penjara, gereja, kompleks tangsi, bangunan bekas kantor perusahaan Belanda, rumah para pejabat, pesanggrahan dan lainnya.
Meskipun saat ini bangunan-bangunan tua tersebut menyatu dengan banyak bangunan baru milik warga, namun masih bisa dijumpai dan suasana masa lalu masih tetap terasa saat berada di Kota Mentok yang pada zaman dahulu menjadi pusat pemerintahan Pulau Bangka sebelum dipindahkan ke Pangkalpinang pada tahun 1913.
Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.