pickleballvnz.com

Dinkes Jatim catat peningkatan kasus ISPA - ANTARA News Jawa Timur

Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai puncaknya hingga 211 ribu kasus pada Agustus 2026, seiring dengan pe...

Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai puncaknya hingga 211 ribu kasus pada Agustus 2026, seiring dengan peningkatan suhu udara selama musim kemarau.

"Orang yang mengalami ISPA biasanya muncul gejala batuk, pilek, nyeri tenggorokan, demam, hingga sesak napas," kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Erwin Astha Triyono usai berkunjung ke Kabupaten Tulungagung, Minggu.

Lanjut dia, ISPA muncul dapat disebabkan oleh virus, bakteri maupun kuman yang menular melalui udara dan percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.

Ia mengimbau masyarakat menerapkan etika batuk untuk mencegah penularan penyakit. Penderita ISPA juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh melalui istirahat yang cukup dan pemenuhan nutrisi.

Menurut dia, penderita ISPA perlu menghindari paparan asap rokok serta kebiasaan mengonsumsi minuman dingin. Secara umum, penyakit tersebut dapat sembuh sendiri dalam waktu tujuh hingga 14 hari.

Namun, masyarakat yang mengalami keluhan tambahan atau memiliki penyakit penyerta diminta segera memanfaatkan layanan kesehatan agar mendapatkan penanganan lebih cepat.

"Apalagi pasien yang memiliki komorbid, termasuk lansia dan ibu hamil, jangan menunggu penyakit sudah parah," ujarnya.

Data Dinkes Jatim menunjukkan kasus ISPA pada 2025 rata-rata mencapai 117 ribu kasus per bulan. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 148 ribu kasus per bulan pada pertengahan 2026.

Kasus tertinggi tercatat pada Agustus 2026 dengan total 211 ribu kasus. Meski demikian, Dinkes Jatim belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) karena layanan kesehatan masih mampu menangani pasien dan ketersediaan obat dinilai mencukupi.

"Semua kasus masih mampu ditangani dan masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan, stok obat-obatan juga relatif cukup. Jadi belum kami terapkan KLB," kata Erwin.

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.