Diet 6.000 Kalori Erling Haaland, Amankah Ditiru Orang Non-atlet?
CNN Indonesia Selasa, 14 Jul 2026 07:30 WIB Erling Haaland makan 6000 kalori per hari, tapi bagaimana jik...
CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 07:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Diet pesepakbola dunia kerap mengundang rasa penasaran. Salah satunya pola makan striker Manchester City sekaligus Timnas Norwegia, Erling Haaland, yang disebut mengonsumsi sekitar 6.000 kalori setiap hari untuk menopang performanya di lapangan.
Menu makan Haaland bahkan terdengar seperti tantangan tersendiri bagi kebanyakan orang. Mulai dari empat butir telur, yogurt, roti panggang, susu mentah (raw milk), sandwich berisi burrata dan minyak truffle, hingga tomahawk steak seberat sekitar 1,1 kilogram menjadi bagian dari asupan hariannya.
Melansir The Athlete Lifestyle, koresponden Leigh Kiniry mencoba mengikuti pola makan Haaland selama sehari. Awalnya, ia mengira tantangan tersebut tidak akan terlalu sulit. Namun, anggapan itu berubah setelah harus menghabiskan makan siang berkalori tinggi hingga makan malam yang terdiri dari tomahawk steak berukuran jumbo dan sumsum tulang sapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total makan malam saja diperkirakan mencapai sekitar 3.000 kalori. Kiniry pun mengaku menyerah saat mencoba menghabiskan steak seberat 2,5 pound atau sekitar 1,1 kilogram tersebut.
Bagi Haaland, menu itu merupakan bagian dari rutinitas untuk memenuhi kebutuhan energi tubuhnya. Sebagai atlet profesional, ia membutuhkan asupan kalori yang jauh lebih besar demi menjaga kekuatan, kecepatan, serta daya tahan selama latihan dan pertandingan.
Selain tinggi kalori, Haaland juga dikenal mengonsumsi makanan padat nutrisi seperti jantung sapi, hati sapi, steak, madu mentah, ikan kakap, asparagus, nasi goreng telur, hingga susu mentah.
Bisakah orang biasa mengikuti diet Haaland?
Dokter spesialis gizi klinik Igus Ulfa Yaze mengingatkan bahwa pola makan Haaland tidak bisa disamakan dengan kebutuhan masyarakat umum. Orang dewasa rata-rata hanya membutuhkan sekitar 2.000 kalori per hari, tergantung usia, jenis kelamin, berat badan, hingga tingkat aktivitas fisik.
Pilihan Redaksi
- Pakar Ungkap Sisi Gelap Penggunaan Aplikasi Pelacak Kebugaran
- Bikin Ingatan Tokcer, Ini 8 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Otak
- Studi Ungkap Terapi Obesitas Pangkas Berat Badan Hampir 28 Persen
"Kalau untuk 6.000 kalori, lumayan banyak ya. Karena sebenarnya kita makan 2.500 sampai 3.000 kalori saja itu sudah banyak banget," kata Yaze mengutip DetikHealth.
Ia menjelaskan, konsumsi makanan tinggi kalori dan tinggi lemak seperti yang dilakukan Haaland berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan bila diterapkan oleh orang dengan aktivitas fisik biasa.
Apalagi, menu yang dikonsumsi Haaland banyak mengandung jeroan seperti hati dan jantung sapi. Meski kaya vitamin B, folat, zat besi, fosfor, magnesium, dan protein, konsumsi jeroan berlebihan juga dapat meningkatkan kadar purin dan kolesterol.
"Untuk hasil laboratorium bisa jadi purinnya tinggi, kolesterol bisa tinggi, terus gula darah juga bisa tinggi," ujarnya.
Menurut Yaze, faktor yang membuat pola makan Haaland berbeda adalah intensitas latihan yang dijalani setiap hari. Sebagai atlet sepak bola elite, Haaland menjalani latihan dengan intensitas tinggi sehingga kebutuhan energinya jauh melampaui orang biasa. Kalori yang masuk ke tubuhnya sebagian besar digunakan untuk mendukung aktivitas fisik, pemulihan otot, dan menjaga performa.
Sebaliknya, jika pola makan tersebut diterapkan oleh orang yang tidak memiliki aktivitas fisik setara, kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak tubuh.
"Dampaknya yang pasti berat badan naik kalau tidak ada aktivitas fisik," kata Yaze.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak asal meniru pola makan atlet profesional hanya karena ingin memiliki tubuh serupa. Menurutnya, tanpa latihan fisik yang seimbang, konsumsi 6.000 kalori per hari justru dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan secara drastis hingga obesitas.
"Dalam waktu yang sangat cepat berat badan akan naik, bisa jadi obesitas tiba-tiba," ujarnya.
Alih-alih meniru jumlah kalori yang dikonsumsi atlet, masyarakat lebih dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan energi dan tingkat aktivitas masing-masing. Dengan begitu, manfaat kesehatan bisa diperoleh tanpa meningkatkan risiko penyakit akibat kelebihan asupan kalori.
Baca selengkapnya di sini.
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]