pickleballvnz.com

Dies natalis dan artefak kampus berbudaya unggul

Setiap tahun, banyak perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan dies natalis. Momentum yang sejatinya penuh makna, yaitu sebagai peringatan perjalanan panjang sebuah lembaga ilmu ANTARA News jateng tajuk ...

Dies natalis dan artefak kampus berbudaya unggul

Rabu, 14 Oktober 2026 15:52 WIB

Image Print

M. Farid Wajdi, MM. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Setiap tahun, banyak perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan dies natalis. Momentum yang sejatinya penuh makna, yaitu sebagai peringatan perjalanan panjang sebuah lembaga ilmu dan peradaban.

Namun, sering kali perayaan itu hanya berujung pada serangkaian acara seremonial, menghadirkan tokoh, menyebar undangan pejabat, pidato panjang, serta acara penunjang seperti jalan sehat keluarga, bazar UMKM, dan pembagian hadiah.

Suasana memang meriah, tetapi tidak jarang kehilangan esensinya. Sebuah pertanyaan untuk direnungkan, apakah benar dies Natalis menjadi cermin budaya unggul universitas? Atau justru hanya menjadi panggung simbolik tanpa ruh?Antara Artefak dan Nilai yang KosongEdgar H. Schein (2010), pakar budaya organisasi dari MIT, menjelaskan bahwa budaya organisasi (corporate culture) memiliki tiga dimensi yaitu: artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Artefak adalah hal yang tampak, seperti upacara, slogan, simbol, dan perilaku lahiriah.

Nilai yang dianut adalah apa-apa yang oleh organisasi dikatakan sebagai hal penting; sementara asumsi dasar adalah keyakinan terdalam yang tak lagi dipertanyakan oleh anggota organisasi.

Bila artefak tidak sejalan dengan nilai dan asumsi dasar, maka budaya menjadi dangkal. Di sinilah letak kritik terhadap banyak perayaan dies natalis: artefak megah, nilai luhur diucapkan, tetapi asumsi dasarnya; tanggung jawab, disiplin, adab, kepedulian, belum terinternalisasi.

Acara bazar di kampus, misalnya, malah menjadi ajang kekumuhan di semua area kampus: sampah berserakan, orang merokok di mana-mana, lagu dan musik mengalun tanpa makna. Bagi peserta yang hadir (bersama keluarganya), acara jalan sehat pun kadang hanya menjadi ajang mencari hadiah door-prize. Maka nilai “perguruan tinggi unggul” kehilangan ruhnya, tergantikan oleh budaya instan dan euforia sesaat. Kampus yang seharusnya menjadi agen perubahan bagi masyarakat tapi yang terjadi justru masyarakat memasukkan kebiasaannya ke dalam kampus.

Family Gathering yang Kehilangan Rasa KekeluargaanKampus sebagai organisasi yang semakin besar dan menghadirkan generasi baru, kegiatan jalan sehat keluarga besar kampus seharusnya menjadi ruang mempererat silaturahmi antar generasi: dosen senior, karyawan lama, pegawai muda, hingga pimpinan lembaga dan para pendahulu.

Namun realitas yang muncul sering justru mencerminkan keterasingan.Dengan semakin besarnya kampus dan saking banyaknya civitas, maka antar karyawan sudah tidak saling mengenal. Keluarga yang dibawa juga tidak dikenalkan dengan sesepuh atau pendiri kampus, sehingga acuh saja terhadap tokoh kampus dan persyarikatan.

Yang muda canggung atau bahkan abai terhadap senior. Banyak yang datang hanya demi door prize, bukan untuk kebersamaan. Di titik ini, acara yang semestinya menjadi family gathering berubah menjadi crowd gathering.Padahal, dalam teori budaya organisasi, penghormatan antar generasi adalah pilar kelestarian nilai. Schein menulis, “Budaya yang sehat bergantung pada keberlanjutan memori institusional dan penghargaan terhadap mereka yang menjadi pembawa nilai.”

Ketika budaya hormat luntur, yang lahir bukanlah organisasi unggul, melainkan komunitas transaksional, hadir hanya untuk kepentingan sesaat. Perlu upaya penciptaan suasana kehadiran ruh kekeluargaan. Bukan pembiaran yang akhirnya dianggap sebagai hal yang lumrah dan dibenarkan.

Membangun Budaya Unggul: Dari Ritual ke Keteladanan“Budaya unggul,” tulis Thomas Peters dan Robert Waterman dalam In Search of Excellence (1982), “adalah budaya yang menyeimbangkan antara nilai moral dan produktivitas.” Keunggulan sejati bukanlah pada spanduk “Unggul dan Bereputasi Mendunia”, tetapi pada perilaku harian: tepat waktu, disiplin, peduli, menghargai, bekerja dengan integritas.

Perguruan tinggi dengan semangat unggul dan bereputasi mendunia, memiliki modal spiritual dan sosial untuk menjadikan dies natalis sebagai momentum transformasi budaya, bukan sekadar ritual tahunan. Nilai Islam Berkemajuan yang menjadi ruh Muhammadiyah mestinya menjiwai setiap acara, dari teknis hingga simbolik.Keunggulan haruslah tidak hanya diukur dari akreditasi, publikasi, atau ranking internasional, tetapi juga dari ketertiban ruang, kebersihan lingkungan, adab interaksi, dan etos kerja.

Dalam istilah Geert Hofstede (1980), artefak nyata seperti kebersihan, kerapian, dan etika kerja adalah “cermin dari nilai budaya yang sebenarnya.”

Momentum Dies untuk Menanamkan Filosofi Perguruan TinggiUntuk menjadikan dies natalis bermakna, setiap PTMA haruslah memanfaatkannya sebagai panggung pembumian nilai, bukan sekadar panggung hiburan. Ada beberapa isu penting yang sejalan dengan filosofi universitas Muhammadiyah, di antaranya: Integrasi Akademik dan Akhlak, Disiplin dan Etos Kerja Modern, Digitalisasi dan Reputasi Global, Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan Global, Sinergi Antar Generasi dan Penguatan BudayaHormat, Kepemimpinan Teladan (Role Model Leadership), Kebersihan dan Ketertiban sebagai Nilai MoralDari Panggung Seremoni Kampus ke Panggung PeradabanJika semua nilai itu dihidupkan, maka dies natalis tidak akan lagi hanya menjadi rutinitas kosong. Ia akan berubah menjadi titik balik budaya, saat seluruh sivitas menegaskan kembali siapa dirinya, untuk apa universitas ini ada, dan bagaimana perannya dalam perubahan masyarakat.

Paulo Freire (1970) menulis dalam Pedagogy of the Oppressed: “Pendidikan sejati adalah tindakan pembebasan; ia membentuk manusia agar sadar, kritis, dan bertanggung jawab terhadap dunia.” Begitu pula universitas bukanlah menara gading, melainkan pusat peradaban yang menyalakan akal dan adab. Dan dies natalis seharusnya merupakan saat terbaik untuk menyalakan kembali api itu, api keunggulan, moralitas, dan kemanusiaan.

Momentum RefleksiDies natalis sejatinya bukan tentang siapa yang diundang, seberapa meriah acaranya, atau berapa banyak hadiah yang dibagikan. Ia adalah tentang makna: sejauh mana universitas menghidupkan nilai-nilai yang ia bangun dan dakwahkan sendiri.Apabila PTMA mampu menjadikan dies natalis sebagai momentum refleksi dan transformasi nilai, maka semboyan “Unggul dan Bereputasi Mendunia” bukan sekadar slogan. Ia akan menjadi kenyataan — karena keunggulan sejati dimulai dari budaya, dan budaya lahir dari pembiasaan dan keteladanan, bukan pembiaran.

*Guru Besar Ilmu Manajemen
Direktur Pascasarjana UM Surakarta & Dekan FEBP UMKT Samarinda

Oleh M. Farid Wajdi, MM.*/Aris Wasita

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.