Dialog Kemerdekaan: Sudahkah Indonesia Merdeka Secara Ekonomi? - ANTARA News Jambi
Jambi (ANTARA) - Oleh Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. Guru Besar Ekonomi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi Tanya: Prof, Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Apakah Indonesia juga sudah merde...
Jambi (ANTARA) - Oleh Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Ekonomi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Tanya: Prof, Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Apakah Indonesia juga sudah merdeka secara ekonomi?
Jawab: Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan “sudah” atau “belum”. Secara politik, Indonesia jelas telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kita menentukan pemerintahan sendiri, memiliki mata uang sendiri, mengatur kebijakan ekonomi sendiri, dan menentukan arah pembangunan sendiri. Tetapi kemerdekaan ekonomi memiliki makna yang lebih dalam. Ia menyangkut kemampuan bangsa menciptakan kemakmuran melalui produktivitasnya sendiri, menyediakan pekerjaan berkualitas, menguasai teknologi, mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi, dan membuat rakyatnya memiliki kehidupan ekonomi yang semakin aman.
Tanya: Tetapi bukankah ekonomi Indonesia sekarang sudah sangat besar?
Jawab: Betul. Kita harus objektif mengakui kemajuan itu. Ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara year-on-year. PDB Indonesia juga sudah sangat besar. Indonesia bahkan menjadi anggota G20 dan termasuk salah satu perekonomian terbesar dunia. Ini pencapaian yang tidak kecil. Namun, ada satu hal yang perlu selalu diingat: besarnya ekonomi sebuah negara belum otomatis menunjukkan tingginya kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Tanya: Indonesia juga sudah menjadi negara berpendapatan menengah atas. Apakah itu bukan sebuah keberhasilan?
Jawab: Tentu saja. Indonesia telah masuk kelompok upper-middle-income economy. Ini menandakan bahwa perjalanan pembangunan kita telah membawa Indonesia naik kelas. Kita bukan lagi negara berpendapatan rendah ataupun menengah bawah. Secara historis, ini merupakan pencapaian penting.
Tetapi naik kelas justru menghadirkan pekerjaan yang semakin berat. Ibarat mendaki gunung, kita sudah berada cukup tinggi, tetapi jalan menuju puncak menjadi semakin terjal. Banyak negara mampu naik dari pendapatan rendah menjadi menengah, tetapi tidak semuanya berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi.
Tanya: Apakah itu yang disebut middle-income trap?
Jawab: Tepat. Middle-income trap adalah keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai pendapatan menengah, tetapi kemudian mengalami kesulitan untuk naik menjadi negara berpendapatan tinggi. Upah tidak lagi cukup murah untuk bersaing dengan negara berpendapatan rendah, sementara teknologi, produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan inovasinya belum mampu menandingi negara maju.
Di sinilah tantangan besar Indonesia. Formula pembangunan yang berhasil membawa kita sampai ke posisi sekarang belum tentu cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045.
Tanya: Jadi pertumbuhan sekitar 5 persen belum cukup?
Jawab: Pertumbuhan 5 persen tentu patut diapresiasi, terlebih ketika ekonomi dunia menghadapi ketidakpastian. Tetapi pertanyaannya sekarang harus ditingkatkan: bukan hanya berapa tinggi ekonomi tumbuh, melainkan dari mana pertumbuhan itu berasal, siapa yang menikmatinya, pekerjaan seperti apa yang diciptakannya, dan seberapa besar produktivitas meningkat karenanya.
Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih cepat sekaligus lebih berkualitas. Kita tidak boleh selamanya merasa nyaman menjadi negara besar yang tumbuh sedang.
Tanya: Bagaimana dengan kemiskinan? Bukankah angka kemiskinan terus turun?
Jawab: Benar. Itu juga kemajuan yang harus dihargai. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin telah turun menjadi 8,07 persen. Namun, masih terdapat sekitar 22,93 juta penduduk miskin. Lebih jauh lagi, ada masyarakat yang secara statistik sudah berada di atas garis kemiskinan, tetapi kehidupan ekonominya masih sangat rentan.
Kehilangan pekerjaan, anggota keluarga sakit, harga pangan meningkat, atau pendapatan menurun dapat membuat mereka kembali miskin.
Karena itu, kemerdekaan ekonomi bukan hanya soal membebaskan rakyat dari kemiskinan hari ini, tetapi juga memberi mereka kekuatan untuk tidak kembali miskin esok hari.
Tanya: Lalu bagaimana kita memandang keberhasilan penurunan pengangguran?
Jawab: Kita juga harus melihatnya dengan perspektif yang lebih luas. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 telah turun menjadi 4,68 persen dan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Itu kabar baik.
Namun, pertanyaan pembangunan tidak boleh berhenti pada: “Apakah seseorang bekerja?” Pertanyaan berikutnya adalah: “Pekerjaan seperti apa yang dimilikinya?”
Apakah pekerjaan itu memberikan pendapatan yang layak? Apakah produktivitasnya tinggi? Apakah pekerja memperoleh perlindungan? Apakah ada kesempatan meningkatkan keterampilan dan pendapatannya?
Negara tidak menjadi maju hanya karena banyak penduduknya bekerja. Negara menjadi maju ketika setiap pekerja mampu menghasilkan nilai tambah yang semakin tinggi.
Tanya: Indonesia kaya sumber daya alam. Mengapa kekayaan itu belum cukup membawa kita menjadi negara maju?
Jawab: Karena kekayaan sumber daya alam adalah modal, bukan jaminan kemakmuran. Kita memiliki nikel, batu bara, kelapa sawit, karet, gas alam, hasil laut, dan berbagai mineral. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: berapa besar nilai tambah yang mampu kita ciptakan dari kekayaan tersebut?
Jika sumber daya ditambang di Indonesia, tetapi mesin, teknologi, desain, paten, komponen bernilai tinggi, dan pengetahuan masih berasal dari luar, maka bagian terbesar dari rantai nilai belum sepenuhnya kita kuasai.
Tanya: Bukankah pemerintah sudah menjalankan hilirisasi?
Jawab: Ya, dan hilirisasi merupakan langkah penting. Tetapi hilirisasi jangan berhenti pada pembangunan smelter atau pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Hilirisasi harus menjadi tangga menuju industrialisasi dan penguasaan teknologi.
Tahap berikutnya adalah kemampuan membuat mesin sendiri, mengembangkan teknologi sendiri, menghasilkan paten, membangun merek Indonesia, memperkuat riset, dan melahirkan perusahaan nasional yang menjadi pemain global.
Tanya: Apakah ketergantungan terhadap negara lain berarti Indonesia belum merdeka secara ekonomi?
Jawab: Tidak sesederhana itu. Kemerdekaan ekonomi bukan autarki. Tidak ada negara maju yang memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, dan negara-negara Eropa juga saling berdagang dan membutuhkan negara lain.
Kemerdekaan ekonomi berarti memiliki kapasitas dan posisi tawar. Kita boleh mengimpor teknologi, tetapi harus mampu mempelajarinya. Kita boleh menerima investasi asing, tetapi investasi itu harus memperkuat kemampuan domestik. Kita boleh masuk ke rantai nilai global, tetapi jangan selamanya berada pada mata rantai dengan nilai tambah paling rendah.
Tanya: Jadi apa pekerjaan terbesar Indonesia menuju 2045?
Jawab: Kita harus bergerak dari ekonomi yang banyak mengandalkan sumber daya menuju ekonomi yang semakin mengandalkan produktivitas, pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kualitas manusia.
Bank Dunia menggambarkan perjalanan negara berpendapatan menengah menuju negara maju melalui strategi investment, infusion, dan innovation. Indonesia tetap membutuhkan investasi. Kita juga perlu menyerap teknologi dan praktik terbaik dari dunia. Tetapi sebagai negara berpendapatan menengah atas, kita harus semakin mampu menghasilkan inovasi sendiri.
Bahasa sederhananya: tidak cukup membeli mesin, kita harus mampu membuat mesin. Tidak cukup menggunakan teknologi, kita harus ikut menciptakan teknologi. Tidak cukup menjadi pasar, kita harus menjadi pemain.
Tanya: Lalu apa makna kemerdekaan ekonomi bagi rakyat biasa?
Jawab: Justru di situlah ukuran akhirnya. Kemerdekaan ekonomi bukan hanya persoalan PDB, ekspor, investasi, cadangan devisa, atau pertumbuhan. Semua indikator itu penting, tetapi pada akhirnya ekonomi harus kembali kepada manusia.
Kemerdekaan ekonomi hadir ketika petani memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil produksinya; ketika nelayan tidak selamanya berada pada rantai nilai paling bawah; ketika UMKM dapat naik kelas; ketika anak muda memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya; ketika keluarga tidak jatuh miskin hanya karena sakit; dan ketika seorang anak, di mana pun ia dilahirkan, mempunyai kesempatan untuk memperbaiki masa depannya.
Tanya: Jadi, setelah 81 tahun merdeka, apa jawaban Prof: apakah Indonesia sudah merdeka secara ekonomi?
Jawab: Indonesia telah berjalan sangat jauh menuju kemerdekaan ekonomi, tetapi perjuangannya belum selesai. Kita tidak boleh mengingkari keberhasilan yang telah dicapai, tetapi juga tidak boleh menjadikan keberhasilan itu alasan untuk berpuas diri.
Delapan puluh satu tahun lalu, generasi 1945 memenangkan kemerdekaan politik. Tugas generasi sekarang berbeda: memenangkan kemerdekaan ekonomi.
Bukan dengan menutup Indonesia dari dunia, melainkan dengan membuat Indonesia mampu berdiri sejajar di dalamnya. Bukan hanya dengan menjadi bangsa yang kaya sumber daya, melainkan bangsa yang kaya produktivitas, pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan ekonomi memiliki makna yang sangat sederhana: ketika kemerdekaan sebuah negara benar-benar terasa sebagai kemerdekaan untuk memperbaiki kehidupan setiap rakyatnya.
Pewarta: Rilis/Nanang Mairiadi
Editor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.