pickleballvnz.com

DEN sebut nuklir berpotensi jadi “kuda hitam” percepat dekarboninasi

Mataram (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menyebut energi nuklir berpotensi menjadi "kuda hitam" dalam mempercepat proses dekarbonisasi dan pencapaian target netralitas karbon...

Mataram (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menyebut energi nuklir berpotensi menjadi "kuda hitam" dalam mempercepat proses dekarbonisasi dan pencapaian target netralitas karbon di Indonesia.

"Kalau dulu nuklir adalah opsi terakhir. Sekarang nuklir bukan menjadi opsi terakhir, tetapi nuklir menjadi kuda hitam yang bisa mendorong percepatan terjadinya pencapaian net zero emission," ujar dia saat sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis.

Program pengembangan energi nuklir menjadi semakin relevan lantaran Indonesia membutuhkan sumber energi yang mampu memenuhi permintaan energi industri dan masyarakat sekaligus mendukung upaya mengurangi emisi karbon.

Sripeni mengatakan sejumlah negara di kawasan ASEAN telah menempatkan nuklir sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Malaysia dan Filipina dikabarkan mulai masuk ke proyek energi nuklir pada 2031, sementara Vietnam memiliki target pada rentang 2031 hingga 2035.

Menurut dia, Indonesia memiliki modal kuat dalam pengembangan teknologi nuklir untuk energi, baik dari sisi sumber daya manusia dan fasilitas penelitian.

Indonesia punya program pendidikan nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara fasilitas reaktor nuklir di Serpong, Banten, memiliki kapasitas sekitar 30 megawatt untuk kepentingan penelitian.

"Nuklir sudah ada 30 megawatt di Serpong, baik-baik saja, tetapi belum dimanfaatkan sebagai listrik dan baru dalam kapasitas sebagai penelitian," kata Sripeni.

Lebih lanjut dia menyampaikan program pengembangan nuklir saat ini sudah memiliki arah yang konkret melalui identifikasi lokasi dan masuknya rencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode tahun 2025 hingga 2034.

Dalam RUPTL tersebut pengembangan pembangkit nuklir ditargetkan mencapai total 500 megawatt yang masing-masing 250 megawatt pada 2032 dan 250 megawatt pada 2034.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah mengidentifikasi 28 lokasi yang berpotensi menjadi tapak pembangkit nuklir. Dari sejumlah lokasi itu pengembangan saat ini lebih difokuskan di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.

Sripeni menegaskan pengembangan nuklir tidak perlu lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan karena pemanfaatan teknologi radiasi telah banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk layanan rontgen kesehatan.

"Jadi, tinggal bagaimana kita sekarang bersatu untuk Indonesia membangun nuklir. Tanpa nuklir, kita tidak bisa mempercepat penyiapan kebutuhan demand energi yang nantinya exponential dan mempercepat dekarbonisasi," pungkas dia.

Baca juga: Dubes: India siap jajaki kerja sama sektor nuklir dengan RI

Baca juga: Istana jelaskan pengembangan riset nuklir untuk energi dan medis

Baca juga: Menlu Sugiono dorong kerja sama nuklir RI-Rusia untuk ketahanan energi

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.