pickleballvnz.com

Data Jumlah Korban Karhutla Ikut Menyala, 62 Ribu Balita Terkena ISPA |Republika Online

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera S...

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palembang per 14 September 2026, kasus ISPA mingguan meningkat dari 3.807 kasus pada minggu keempat Agustus menjadi 4.104 kasus pada minggu pertama September dan kembali naik menjadi 4.326 kasus pada minggu kedua, yang didominasi warga usia produktif dan anak-anak akibat paparan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan yang terjadi di tujuh provinsi serta 63 kabupaten/kota. Dari total kasus itu, 62.400 kasus menyerang balita.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, pihaknya terus berupaya untuk memperkuat kesiapsiagaan dan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah. Langkah itu dilakukan untuk meminimalkan risiko kesehatan masyarakat akibat memburuknya kualitas udara di daerah-daerah tersebut.

"Berdasarkan data hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif, dengan 62.400 kasus di antaranya pada rentang usia 0-5 tahun," kata dia melalui keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Widyawati mengungkapkan, tingkat keparahan dampak karhutla terhadap kesehatan dapat terlihat dari tingginya angka kasus yang tercatat hingga pertengahan Oktober. Ia menambahkan, pantauan kualitas udara di lapangan menunjukkan ancaman serius bagi kondisi kesehatan masyarakat.

Menurut dia, sebanyak 37 stasiun pemantau indeks standar pencemar udara menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Sebanyak 13 daerah berada pada kategori berbahaya, 11 daerah pada kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya masuk dalam kategori tidak sehat.

"Merespons situasi ini, pemerintah telah memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan memperkuat layanan kesehatan, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di wilayah terdampak," ujar Widyawati.

Selain pengerahan personel medis, Widyawati menyebutkan, penanganan di wilayah terdampak juga didukung dengan penyaluran perlengkapan medis dan logistik secara masif. Adapun dukungan logistik yang telah meliputi sekitar 3 juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, hingga alat pelindung diri untuk memastikan penanganan kesehatan berjalan optimal.