Concacaf Tolak Skema Investasi FIFA untuk Piala Dunia
Liputan6.com, Jakarta - Concacaf menegaskan penolakan terhadap proposal FIFA Forward Enterprise, rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan perusahaan pengelola kompetisi FIFA kep...
Liputan6.com, Jakarta - Concacaf menegaskan penolakan terhadap proposal FIFA Forward Enterprise, rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan perusahaan pengelola kompetisi FIFA kepada investor swasta. Keputusan ini diambil bersama seluruh asosiasi anggotanya.
Dalam skema itu, FIFA berencana membentuk perusahaan baru dengan valuasi US$ 20 miliar untuk mengelola berbagai kompetisi, termasuk Piala Dunia putra dan putri, sebelum sebagian sahamnya ditawarkan kepada investor modal ventura. FIFA menyatakan kendali atas Piala Dunia tidak akan dialihkan kepada investor.
Proposal tersebut turut memuat tawaran tambahan pendanaan bagi 211 federasi anggota. Setiap federasi disebut berpeluang memperoleh sekitar US$ 46 juta sebagai imbalan atas dukungan, diikuti alokasi dana yang lebih besar pada setiap siklus tiga tahunan dibandingkan proyeksi awal.
Keberatan Soal Proses dan Tenggat 19 September 2026
Perbesar
Infantino menetapkan batas waktu hingga 19 September 2026 bagi seluruh asosiasi anggota untuk menyatakan dukungan atas rencana tersebut.
Tenggat yang singkat itu disebut memicu kebingungan mengenai isi keseluruhan rencana dan rincian eksekusinya.
Di Eropa, negara-negara anggota UEFA yang memiliki kekuatan finansial besar telah menolak untuk membahas proposal itu. Sementara itu, perhatian juga tertuju pada federasi-federasi yang lebih kecil karena adanya insentif finansial dalam skema tersebut.
Rapat Kamis dan Sikap Resmi 41 Anggota Concacaf
Pada rapat Kamis (30/7/2026) waktu setempat, presiden dari 41 asosiasi anggota Concacaf, Presiden Concacaf, anggota dewan konfederasi, serta anggota Dewan FIFA hadir untuk membahas usulan tersebut.
Melalui pernyataan resminya, Concacaf menyebut para anggotanya menyampaikan keprihatinan mendalam atas minimnya proses yang semestinya dijalankan, tenggat waktu yang dinilai terlalu singkat, serta belum adanya peninjauan maupun persetujuan dari badan tata kelola FIFA yang berwenang.
Concacaf juga menegaskan tetap berpegang pada prinsip pelayanan, tata kelola yang transparan, serta komitmen terhadap pengelolaan sepak bola untuk jangka panjang.
Pertanyakan Urgensi di Balik Rekor Piala Dunia 2026
Concacaf mempertanyakan urgensi proposal tersebut, terlebih Piala Dunia 2026 yang baru selesai disebut sebagai edisi paling menguntungkan dalam sejarah FIFA.
Itu sebabnya, Concacaf mempertanyakan perlunya melibatkan investasi ekuitas swasta untuk mendanai program FIFA Forward, baik yang baru maupun yang sudah berjalan.
Selain menolak, Concacaf menugaskan perwakilannya di Dewan FIFA untuk berdiskusi dengan FIFA mengenai kemungkinan memanfaatkan cadangan dana yang ada guna meningkatkan pendanaan program FIFA Forward di kawasan Concacaf. Organisasi itu juga meminta agar kebijakan selanjutnya mengikuti mekanisme tata kelola yang berlaku melalui staf FIFA dan Dewan FIFA sesuai Statuta FIFA.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
Alasan Timnas Indonesia Sulit Cetak Gol ke Gawang Timor Leste