China Bersiap Luncurkan Chang’e-7 untuk Cari Air di Kutub Selatan Bulan
Kawah-kawah di dekat kutub selatan Bulan tidak terkena sinar Matahari selama miliaran tahun. Karena itu, para ilmuwan memperkirakan kawasan tersebut dapat berfungsi seperti lemari pembeku alami yang mampu menyi...
Kawah-kawah di dekat kutub selatan Bulan tidak terkena sinar Matahari selama miliaran tahun. Karena itu, para ilmuwan memperkirakan kawasan tersebut dapat berfungsi seperti lemari pembeku alami yang mampu menyimpan air purba dan senyawa organik yang mudah menguap.
Menurut NASA, suhu di sebagian wilayah yang selalu tertutup bayangan itu dapat turun hingga minus 203 derajat Celsius.
Menemukan sumber air yang mudah dijangkau sangat penting untuk pembangunan pangkalan di Bulan pada masa depan. Air tersebut dapat digunakan untuk minum, menghasilkan oksigen bagi astronaut, bahkan menjadi bahan baku propelan roket. Dengan begitu, kebutuhan membawa pasokan dari Bumi yang membutuhkan biaya besar dapat dikurangi.
Kutub selatan Bulan juga memiliki keunggulan lain. Di sebagian besar wilayah Bulan, satu malam berlangsung selama sekitar 14 hari di Bumi. Namun, puncak-puncak tinggi dan tepian kawah di sekitar kutub selatan hampir terus-menerus mendapat sinar Matahari.
Kondisi itu membuat kawasan tersebut dinilai ideal untuk menjadi lokasi pangkalan di Bulan karena memiliki suhu yang relatif stabil sekaligus pasokan tenaga surya yang hampir terus tersedia.
Salah satu kendala bagi kendaraan penjelajah beroda adalah medan di tepian kawah yang sangat curam. Untuk mencapai dasar kawah yang gelap gulita, Chang'e-7 akan mengerahkan robot pelompat dengan rancangan baru.
Robot tersebut dilengkapi alat untuk menganalisis molekul air. Dengan pendorong kecil, robot akan terbang masuk ke kawah yang tertutup bayangan, kemudian mendarat menggunakan enam kaki bersendi. Setelah itu, robot akan melompat kembali ke tepian kawah yang terkena sinar Matahari untuk mengisi ulang daya.
Rincian teknis mengenai berat robot tersebut, kinerja mesinnya, maupun jangkauan terbangnya belum diketahui.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa robot itu diperkirakan akan melakukan sedikitnya tiga kali lompatan selama misi berlangsung.
Amerika Serikat (AS), India, dan Rusia turut membidik kutub selatan Bulan. Sejauh ini, hanya India yang berhasil mendarat di dekat kawasan tersebut melalui misi Chandrayaan-3 pada 2023.
Dalam beberapa tahun mendatang, wahana penjelajah VIPER milik NASA, perangkat pengeboran PROSPECT milik Badan Antariksa Eropa (ESA), serta wahana LUPEX hasil kerja sama Jepang dan India diperkirakan juga akan tiba di kutub selatan Bulan, seiring semakin ketatnya persaingan untuk menemukan sumber air di kawasan tersebut.