Cara Melindungi Fungsi Pernapasan dari Abu Vulkanik
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Sebagian partikelnya dapat terhirup hingga masuk lebih dalam ke saluran pernapasan. Risiko gangguan kesehatan juga l...
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Sebagian partikelnya dapat terhirup hingga masuk lebih dalam ke saluran pernapasan. Risiko gangguan kesehatan juga lebih besar pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Baca Juga: Kualitas Udara Memburuk Akibat Abu Vulkanik, Bagaimana Cara Melindungi Kesehatan Paru-paru?
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa
Meski sama-sama berbentuk partikel, abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu rumah tangga. Material ini berasal dari proses erupsi dan dapat mengandung pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik yang bersifat keras dan abrasif.
Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat melayang di udara dan terhirup. USGS menjelaskan bahwa partikel abu berukuran kurang dari 10 mikron dapat masuk cukup dalam ke paru-paru. Paparan dalam jumlah besar atau dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Selain abu, aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan gas dan partikel lain yang mengganggu kualitas udara. Dampaknya sangat bergantung pada jenis erupsi, kondisi atmosfer, arah angin, serta jarak seseorang dari sumber erupsi.
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan
Menghirup abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Keluhan yang muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, serta kesulitan bernapas. Pada orang dengan kondisi pernapasan tertentu, paparan abu juga dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.
Gejala yang dirasakan setiap orang tidak selalu sama. Paparan yang lebih berat atau berlangsung lebih lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, langkah utama bukan menunggu munculnya gejala, melainkan mengurangi paparan sejak abu mulai turun.
Tetap berada di dalam ruangan saat abu mulai turun
Salah satu cara melindungi pernapasan dari abu vulkanik yang paling penting adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan. CDC menyarankan masyarakat untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela ketika abu vulkanik berada di udara.
Ventilasi yang memungkinkan udara luar masuk juga perlu diperhatikan. Kipas dan sistem pendingin atau pemanas yang mengambil udara dari luar sebaiknya dimatikan sesuai kondisi bangunan dan panduan setempat agar abu tidak semakin banyak masuk ke dalam rumah.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dari pemerintah daerah dan otoritas kebencanaan. Jika ada instruksi evakuasi, jangan menjadikan rumah sebagai tempat berlindung hanya karena terlihat aman. Erupsi dapat disertai berbagai bahaya lain seperti awan panas, lahar, longsor, dan material vulkanik.
Gunakan respirator yang mampu menyaring partikel
Jika harus berada di luar ruangan atau melakukan pembersihan abu, perlindungan pernapasan menjadi semakin penting. CDC merekomendasikan penggunaan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Respirator harus dipakai dengan benar dan menutup hidung serta mulut secara rapat. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi efektivitas perlindungan karena udara dapat masuk melalui sisi respirator. CDC juga mengingatkan bahwa rambut wajah, ukuran yang tidak sesuai, atau pemasangan yang kurang tepat dapat menyebabkan kebocoran.
Perlu dipahami bahwa respirator partikulat seperti N95 berfungsi menyaring partikel, bukan melindungi dari seluruh jenis gas atau uap beracun. Karena itu, penggunaan respirator tidak menggantikan anjuran untuk menjauh dari wilayah berbahaya atau mengikuti perintah evakuasi.
Kurangi masuknya abu ke dalam rumah
Selain melindungi saluran pernapasan secara langsung, masyarakat perlu menjaga agar abu tidak menumpuk di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela serta matikan sistem ventilasi yang memasukkan udara dari luar.
Jika abu sudah masuk ke rumah, pembersihan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar partikel tidak kembali beterbangan. Untuk kegiatan pembersihan abu, gunakan perlindungan pernapasan dan ikuti petunjuk dari otoritas setempat. CDC juga menyarankan penggunaan pelindung mata ketika berada di lingkungan yang banyak mengandung abu.
Pada kondisi hujan abu yang berat dan berlangsung lama, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi bangunan. Tumpukan abu dapat menambah beban atap dan menimbulkan risiko kerusakan atau bahkan keruntuhan.
Baca Juga: Cuma Butuh 1 Menit! Teknik Pernapasan Ampuh Biar Cepat Tidur dan Badan Langsung Rileks
Kelompok rentan perlu lebih waspada
Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki asma, bronkitis kronis, atau gangguan pernapasan lainnya perlu mendapat perhatian lebih selama terjadi hujan abu. Partikel vulkanik dapat memperburuk kondisi pernapasan pada kelompok tersebut.
Bagi orang yang memiliki obat rutin untuk penyakit pernapasan, persediaan obat sebaiknya dipastikan tetap tersedia selama masa tanggap darurat. Jika keluhan yang muncul berbeda dari kondisi biasanya atau semakin berat, jangan menunda untuk mencari bantuan medis.
Segera mencari pertolongan jika gangguan napas memburuk
Batuk atau iritasi ringan dapat terjadi setelah seseorang terpapar abu vulkanik. Namun, keluhan yang terus berlanjut atau semakin berat perlu mendapat perhatian.
Jika mengalami kesulitan bernapas, gejala yang semakin parah, atau keluhan lain yang tidak membaik setelah menjauh dari paparan, segera hubungi tenaga kesehatan. CDC juga menyarankan berkonsultasi dengan dokter apabila gejala akibat paparan gas atau material vulkanik terus berlangsung setelah seseorang meninggalkan area tersebut.
Jangan mengandalkan pengobatan sendiri jika kondisi terasa memburuk, terutama bagi orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.
Cara melindungi pernapasan dari abu vulkanik perlu dilakukan sejak awal
Mengetahui cara melindungi pernapasan dari abu vulkanik bukan hanya soal memilih masker. Perlindungan yang efektif dimulai dengan mengurangi paparan, tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi memungkinkan, menjaga agar abu tidak masuk ke rumah, serta menggunakan respirator yang sesuai ketika harus berada di luar.
Yang tidak kalah penting, masyarakat harus mengikuti informasi dan arahan resmi dari otoritas setempat. Abu vulkanik dapat membawa risiko kesehatan, sementara erupsi juga dapat menimbulkan bahaya lain yang membutuhkan evakuasi. Dengan mengurangi paparan dan mengambil langkah perlindungan sejak awal, risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dapat ditekan.
Mutiara MY (Magang)