Bupati Bogor: Penjemputan bendera momentum kenang sejarah Malasari - ANTARA News Megapolitan
Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerntah Kabupaten Bogor menjadikan prosesi penjemputan bendera pusaka sebagai momentum mengenang sejarah perjuangan di Desa Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bupati ...
Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerntah Kabupaten Bogor menjadikan prosesi penjemputan bendera pusaka sebagai momentum mengenang sejarah perjuangan di Desa Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bupati Bogor Rudy Susmanto di Nanggung Kabupaten Bogor, Minggu, mengatakan Malasari memiliki kedudukan penting dalam perjalanan Kabupaten Bogor karena pernah menjadi lokasi ibu kota pemerintahan pada masa revolusi fisik setelah Indonesia merdeka.
“Dalam momentum yang sangat bersejarah buat Kabupaten Bogor, kita berdiri bersama-sama di tempat yang sangat terhormat dan tempat yang sakral buat berdirinya Kabupaten Bogor, buat perjuangan bangsa Indonesia,” kata Rudy.
Prosesi penjemputan bendera pusaka dilaksanakan di rumah sejarah bekas Kantor Bupati Bogor pada masa revolusi fisik sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rudy mengatakan Indonesia masih menghadapi masa revolusi dan peperangan di berbagai wilayah setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Pada masa itu, Malasari menjadi salah satu lokasi penting bagi pemerintahan Kabupaten Bogor dalam mempertahankan keberlangsungan pemerintahan di tengah situasi revolusi.
Rumah sejarah di Malasari pernah digunakan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bogor pada masa Bupati Raden Ipik Gandamana tahun 1948-1950 ketika Agresi Militer Belanda II membuat pemerintahan harus berpindah-pindah untuk menghindari serangan.
Desa yang berada di kawasan barat Kabupaten Bogor tersebut sempat menjadi pusat pemerintahan sipil Kabupaten Bogor selama sekitar lima bulan.
Dari Malasari, Ipik Gandamana menjalankan pemerintahan, termasuk mengangkat lurah-lurah di 16 desa pada 16 Februari 1949.
Pada awal Maret 1949, Wakil Gubernur Jawa Barat Yusuf Adinata juga mendatangi wilayah tersebut dengan membawa instruksi pembentukan pamong praja di seluruh Kabupaten Bogor.
Rudy mengatakan perjalanan menuju Malasari yang cukup jauh tidak menyurutkan masyarakat untuk mengikuti prosesi penjemputan bendera pusaka.
Menurut dia, kehadiran masyarakat tersebut menunjukkan nilai perjuangan yang tersimpan di Malasari masih mampu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme.
“Perjalanan dari tempat bapak dan ibu sekalian ke Desa Malasari tidak dekat. Tapi di situlah yang menggugah hati, menggugah pikiran kita semua bahwa masih ada semangat jiwa nasionalisme, masih ada semangat patriotik dalam hati dan jiwa kita,” ujarnya.
Rudy memaknai penjemputan bendera pusaka tersebut bukan hanya sebagai pemindahan simbol negara, melainkan juga upaya membawa kembali semangat perjuangan para pendahulu.
“Satu bendera dijemput, maka kita menjemput sebuah semangat perjuangan para pahlawan. Kita menjemput sebuah keikhlasan pengabdian para pahlawan mengabdi kepada bangsa dan negara ini,” kata Rudy.
Ia berharap nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu terus menjadi pengingat bagi generasi sekarang untuk mengisi kemerdekaan dan menjaga persatuan.
“Kita sebagai penerusnya wajib turut serta bersama-sama mengisi kemerdekaan,” ujarnya.
Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.