BRICS sedang berubah, apa artinya bagi Indonesia?
BRICS bukan lagi kelompok yang sama. BRICS yang dulu dikenal sebagai kelompok Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan kini sudah meluas. Terlebih, Indonesia resmi menjadi anggota penuh pada Januari 2025...
BRICS bukan lagi kelompok yang sama. BRICS yang dulu dikenal sebagai kelompok Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan kini sudah meluas. Terlebih, Indonesia resmi menjadi anggota penuh pada Januari 2025, sementara Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab lebih dulu bergabung pada 2024.
Situs resmi BRICS India (2026) mencatat ada 11 anggota penuh dalam kelompok tersebut. KTT BRICS di New Delhi pada 12-13 September 2026 kemudian memperlihatkan bahwa kelompok ini sedang mencoba memperluas kerja sama, mulai dari ekonomi, dan perdagangan hingga AI, teknologi, kesehatan, energi, dan sistem pembayaran (PM India, 12/09/2026).
Ketika BRICS semakin besar dan agenda semakin luas, apa artinya bagi Indonesia yang baru sekitar dua tahun menjadi anggota penuh? Deklarasi New Delhi 2026 menyampaikan berbagai pembahasan isu yang berkaitan dengan perdagangan, investasi, sistem pembayaran, AI, kesehatan, energi, hingga teknologi dan industri.
Artinya, BRICS tidak hanya menarik perhatian karena siapa saja yang menjadi anggota, tetapi juga karena apa yang ingin negara-negara tersebut lakukan bersama.
Membuka Pasar dan Kerja Sama Ekonomi
Keanggotaan BRICS memberikan Indonesia ruang untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota.
Dalam Jurnal Magister Pendidikan Dasar, melalui Keanggotaan Indonesia dalam BRICS: Prospek dan Tantangan (2026). Indonesia dapat memanfaatkan forum ini untuk lingkup diversifikasi pasar, memperluas perdagangan, menarik investasi, dan memperkuat kerja sama ekonomi selatan-selatan.
Meskipun manfaat tersebut tetap bergantung pada kemampuan Indonesia dalam memperkuat daya saing domestik.
Memperluas Ruang Diplomasi Indonesia
Di samping itu, Indonesia juga mendapatkan ruang untuk terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut negara-negara Global South untuk memperjuangkan kepentingannya dalam forum internasional.
Teknologi dan AI Menjadi Peluang Baru
KTT BRICS 2026 mendorong kerja sama di bidang AI dan teknologi. China juga mengusulkan BRICS AI Open-Source Zone dan sejumlah inisiatif terkait perdagangan jasa serta kerja sama ekonomi (Reuters, 13/09/2026). Deklarasi New Delhi juga menempatkan AI sebagai salah satu bidang kerja sama, dengan penekanan pada keamanan, inklusivitas, dan akses yang lebih adil terhadap teknologi.
Tantangan Bagi Indonesia
Namun, meski begitu, ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi Indonesia. Salah satunya adalah mengenai kepentingan anggota yang tidak selalu sama. Jumlah anggota yang lebih banyak memang memperluas representasi BRICS, tetapi juga membuat kepentingannya semakin beragam.
Pada KTT 2026, misalnya, terdapat perbedaan kepentingan terkait konflik di Timur Tengah. Iran merupakan anggota BRICS, sementara UEA juga menjadi anggota. Karena itu, mencapai kesepakatan bersama mengenai isu geopolitik menjadi lebih rumit.
Selain itu, menjadi anggota forum internasional tidak otomatis membuat perdagangan meningkat atau investasi masuk. Indonesia tetap membutuhkan daya saing industri, produk ekspor yang kuat, infrastruktur, SDM, dan kebijakan perdagangan yang efektif.
Kendati demikian, hal tersebut tetap dapat menjadi peluang besar untuk memperluas pasar, investasi, kerja sama teknologi, dan ruang diplomasi.