pickleballvnz.com

BPS: NTP NTT menguat 0,18 persen pada Juli 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Juli 2026 mencapai 100,19 atau naik 0,18 persen dibandingkan Juni 2026 yang ANTARA News ntt 2 ...

BPS: NTP NTT menguat 0,18 persen pada Juli 2026

Selasa, 4 Agustus 2026 12:21 WIB

Image Print

Kepala BPS NTT Matamira B. Kale. (ANTARA/Yoseph Boli Bataona)

Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Juli 2026 mencapai 100,19 atau naik 0,18 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 100,02.

Kepala BPS NTT Matamira B. Kale di Kupang, Senin, mengatakan peningkatan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 0,31 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,14 persen.

"Peningkatan NTP Juli 2026 sebesar 0,18 persen terutama dipengaruhi oleh naiknya sebagian besar NTP subsektor, kecuali subsektor hortikultura dan peternakan yang mengalami penurunan," katanya.

Ia menjelaskan komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan NTP antara lain jagung, gabah, dan kakao atau cokelat biji. Sementara itu, penurunan harga bawang merah, tomat, cabai merah, dan sapi potong menjadi faktor yang menghambat kenaikan NTP.

Ia mengatakan pada komponen Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) meningkat 0,12 persen, sedangkan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,22 persen.

IKRT petani perdesaan pada Juli 2026 tercatat naik 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Kenaikan IKRT terutama dipengaruhi meningkatnya harga bensin, beras, solar, kangkung, sigaret kretek mesin, dan daging ayam ras," katanya.

Matamira menambahkan, perkembangan IKRT secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026 tercatat meningkat sebesar 2,92 persen.

Ia juga menjelaskan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) NTT pada Juli 2026 tercatat sebesar 105 atau naik 0,10 persen dibandingkan Juni 2026.

"Secara umum, kenaikan NTUP didorong oleh peningkatan pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan terutama subsektor budidaya ikan, sedangkan subsektor hortikultura, peternakan, dan penangkapan ikan mengalami penurunan," ujarnya.

Adapun NTUP merupakan perbandingan Indeks Harga yang Diterima Petani dengan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal sehingga lebih mencerminkan kemampuan atau keuntungan usaha pertanian karena membandingkan hasil produksi dengan biaya produksinya.

Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.