BPBD Kotim akan gunakan zat tambahan percepat pemadaman karhutla
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyiapkan penggunaan zat tambahan atau "racun api" sebagai salah satu opsi ANTARA News kalteng 1 ...
BPBD Kotim akan gunakan zat tambahan percepat pemadaman karhutla
Jumat, 28 Agustus 2026 18:11 WIB
Relawan Masyarakat Peduli Api memadamkan kebakaran lahan gambut di Jalan Bumi Raya Kecamatan Baamang, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Norjani
Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyiapkan penggunaan zat tambahan atau "racun api" sebagai salah satu opsi untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Zat tersebut pernah kita gunakan pada 2023 lalu, itu sebenarnya bantuan dari kawan-kawan Balai melalui Daops Manggala Agni. Kami kemarin sudah memohon secara lisan, tetapi mungkin karena stoknya terbatas, kami belum mendapatkannya,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Kamis.
Multazam menjelaskan penggunaan zat tersebut berpotensi menghemat sumber daya sekitar 30 hingga 35 persen, baik dari sisi waktu pemadaman maupun penggunaan bahan bakar dan kebutuhan operasional lainnya.
Keunggulan tersebut dinilai relevan dengan kondisi karhutla Kotim saat ini yang banyak terjadi di lahan gambut.
Api di kawasan tersebut tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat menjalar dan bertahan di lapisan bawah tanah sehingga membutuhkan penyiraman berulang untuk memastikan tidak kembali menyala.
“Karena fire active, kalau kita menggunakan zat itu sebenarnya lebih cepat padamnya. Secara teknis, filtrasi air ketika menggunakan zat itu lebih cepat masuk ke dalam tanah, sehingga bisa masuk ke pori-pori tanah dan kebakaran pada bagian bawah lebih cepat padam,” ujarnya.
Saat ini, BPBD Kotim hanya memiliki dua jerigen zat tambahan tersebut yang merupakan bantuan Sintrop Universitas Palangka Raya (UPR). Bahan itu merupakan sisa bantuan yang diberikan secara cuma-cuma pada 2025 dan hingga kini belum digunakan untuk operasi pemadaman.
BPBD Kotim harus berhati-hati dalam menggunakan persediaan yang ada karena dua jerigen tersebut diperkirakan hanya cukup untuk sekitar dua kali operasi atau empat unit tangki pemadam.
“Kami cuma punya dua jerigen. Dua jerigen itu paling untuk kebutuhan dua kali operasi, atau perkiraan kami hanya cukup untuk empat unit tangki. Selebihnya kami belum berani karena bahan itu tidak tersedia cukup," jelasnya.
Meski begitu, BPBD Kotim mulai mempertimbangkan untuk menempatkan persediaan tersebut pada unit pemadam tertentu agar dapat digunakan ketika diperlukan, terutama pada lokasi dengan tingkat kerawanan tinggi.
Menurutnya, penggunaan zat tersebut tidak harus menunggu kondisi karhutla yang besar. Bahan itu justru akan lebih bermanfaat jika digunakan pada lokasi yang membutuhkan pemadaman cepat dan menyeluruh, terutama kawasan yang berdekatan dengan permukiman.
“Setiap kali pemadaman tertentu di lokasi-lokasi mendekati pemukiman, di situ kami perlu kecepatan dan totalitas padam. Kami tidak ingin lokasi itu menjadi kesulitan atau menimbulkan kepanikan masyarakat di sekitarnya,” sambungnya.
Baca juga: Pemprov Kalteng sediakan sembako murah untuk sejumlah kabupaten
Hingga saat ini, dua jerigen yang dimiliki BPBD Kotim belum digunakan. Sebelum menerapkannya secara lebih luas, BPBD juga akan melakukan uji coba lapangan untuk melihat efektivitas bahan tersebut berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi petugas.
“Dalam penelitian itu efektif,tapi tentu kami akan uji coba nanti di lapangan. Nanti kami beri pembaruan bagaimana efektivitasnya. Apa yang dirasakan petugas akan menjadi umpan balik apakah bahan itu memang bisa mempercepat proses penanganan, terutama di daerah gambut,” ujarnya.
Ia menyebut penelitian mengenai penggunaan bahan tambahan tersebut dalam pemadaman api telah dilakukan di berbagai tempat. Namun, persoalan ketersediaan tetap menjadi pertimbangan utama karena bahan yang dimiliki BPBD Kotim saat ini sangat terbatas.
Penggunaan "racun api" tersebut menjadi salah satu alternatif di tengah meningkatnya tantangan penanganan karhutla di Kotim.
Pemerintah daerah sebelumnya juga telah mengerahkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membantu memasok air ke lokasi kebakaran agar armada pemadam tidak kehilangan waktu karena harus bolak-balik mencari sumber air.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 26 Agustus 2026, tercatat 491 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 1.508 hektare. Pada periode yang sama, akumulasi titik panas mencapai 9.416 titik.
Tantangan tersebut juga membuat Pemkab Kotim memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 15 September 2026. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan perkembangan cuaca yang masih berpotensi memicu kebakaran.
Dalam kondisi tersebut, Multazam mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan Daops Manggala Agni untuk memperoleh tambahan bahan dari Kementerian Kehutanan sehingga opsi penggunaan zat pemadam dapat diterapkan lebih optimal.
“Kami masih melakukan komunikasi lagi dengan teman-teman Daops Manggala Agni. Mudah-mudahan dapat bantuan lagi dari Kementerian Kehutanan,” demikian Multazam.
Baca juga: PT Unggul Lestari gencarkan sosialisasi pencegahan dan bahaya karhutla
Baca juga: DPRD Kotim desak perusahaan sawit lebih maksimal bantu tangani karhula
Baca juga: PWI Kotim turun ke lokasi karhutla bagikan suplemen untuk petugas
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.