Bos BI: Kami Tetap Concern dengan Pertumbuhan Ekonomi
Parapat, CNN Indonesia -- Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral tetap menaruh perhatian pada pertumbuhan ekonomi."Apakah Bank Indonesia (BI) tidak concern...
Parapat, CNN Indonesia --
Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral tetap menaruh perhatian pada pertumbuhan ekonomi.
"Apakah Bank Indonesia (BI) tidak concern dengan pertumbuhan (pertumbuhan ekonomi)? Salah itu. Kami tetap concern dengan pertumbuhan," ujar Destry dalam sambutan virtual Editor Briefing Perkembangan Ekonomi Terkini dan Bauran Kebijakan di Parapat, Jumat (31/7).
Pernyataan Destry disampaikan usai bank sentral menaikkan suku bunga acuan BI Rate 100 basis poin (bps) ke 5,75 persen sejak awal tahun sebagai respons atas dinamika global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan suku bunga acuan biasanya akan diikuti oleh meningkatnya suku bunga perbankan yang berisiko menahan laju permintaan kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Destry mengingatkan bank sentral tak hanya memiliki instrumen kebijakan moneter. Namun, BI juga memiliki instrumen makroprudensial hingga sistem pembayaran yang bisa menjadi jalan tengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di era suku bunga tinggi.
Pada kebijakan makroprudensial, misalnya, BI ingin mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan dalam hal menyalurkan kredit ke sektor riil.
"Bank itu harus kembali kepada fungsi awal yaitu bagaimana dia menjadi lembaga intermediasi antara sektor keuangan ke sektor riil, yaitu mereka harus menyalurkan kreditnya," ujarnya.
Salah satu caranya adalah dengan mengelola penempatan dana bank pada instrumen surat berharga melalui penyempurnaan Kebijakan Insentif Likuiditas dan Makroprudensial (KLM) yang telah diumumkan pada Rapat Dewan Gubernur BI pertengahan Juli lalu.
Dalam penyempurnaan tersebut, bank dengan rasio kepemilikan surat berharga, baik itu surat berharga negara (SBN) maupun sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI), tak lebih dari 19 persen dari total pendanaan akan mendapat insentif pengurangan kewajiban giro bank di BI maksimal sebesar 2 persen dari dana pihak ketiga (DPK).
Penyempurnaan itu juga mencakup meningkatnya besaran insentif KLM dari sebelumnya paling tinggi sebesar 5,5 persen menjadi paling tinggi sebesar 6 persen dari DPK. Selain itu, alokasi KLM untuk financing channel bagi penyaluran kredit ke sektor -sektor prioritas dari sebelumnya paling tinggi sebesar 4,5 persen dari DPK menjadi paling tinggi 4 persen dari DPK .
Kebijakan yang berlaku mulai 1 September ini diharapkan bisa mengatasi masalah segmentasi likuiditas di mana bank bisa menggunakan alat likuidnya untuk mendorong sektor riil maupun pinjaman antarbank.
"Kami akan dorong kebijakan makroprudensial kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Tahun ini, BI memperkirakan ekonomi RI tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Adapun realisasi laju ekonomi tahun lalu tercatat 5,11 persen.
[Gambas:Video CNN]
(sfr)