pickleballvnz.com

Borneo dan Kalimantan ternyata pulau yang sama, ini sejarah namanya

Jakarta (ANTARA) - Pernah melihat peta dunia atau membaca berita dari media asing lalu menemukan nama "Borneo", bukan "Kalimantan"?Bagi masyarakat Indonesia, nama Kalimantan tentu jauh lebih familiar. Masyaraka...

Jakarta (ANTARA) - Pernah melihat peta dunia atau membaca berita dari media asing lalu menemukan nama "Borneo", bukan "Kalimantan"?

Bagi masyarakat Indonesia, nama Kalimantan tentu jauh lebih familiar. Masyarakat Indonesia mengenal Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara. Namun, ketika melihat literatur internasional, nama yang sering muncul justru Borneo.

Baik Kalimantan maupun Borneo, keduanya merujuk pada pulau yang sama.

Perbedaannya lebih berkaitan dengan sejarah penggunaan nama, pengaruh perdagangan dan kolonialisme, serta perkembangan identitas wilayah Indonesia.

Pulau yang disebut Kalimantan oleh masyarakat Indonesia merupakan pulau yang dalam banyak literatur internasional dikenal sebagai Borneo.

Pulau ini terbagi di antara tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Indonesia menguasai bagian terbesar wilayah pulau tersebut, sementara Malaysia menguasai Sabah dan Sarawak serta Brunei berada di bagian utara. RRI menyebut sekitar 73 persen wilayah Pulau Borneo berada di Indonesia.

Karena itu, ada perbedaan konteks ketika kedua nama tersebut digunakan.

Dalam penggunaan di Indonesia, "Kalimantan" biasanya merujuk pada bagian Pulau Borneo yang berada di wilayah Indonesia. Sementara itu, "Borneo" lebih sering digunakan untuk menyebut keseluruhan pulau, termasuk wilayah yang berada di Malaysia dan Brunei.

Hal tersebut juga tercermin dalam kode wilayah yang digunakan Perpustakaan Nasional RI, yang mencantumkan "Pulau Kalimantan = Borneo Island".

Jadi, sebenarnya tidak ada perubahan nama pulau dari Borneo menjadi Kalimantan.

Yang berbeda adalah konteks penggunaan kedua istilah tersebut.

Baca juga: Kisah Sempurna dan ancaman karhutla bagi orangutan Kalimantan

Asal-usul nama Borneo memiliki beberapa versi.

Salah satu penjelasan yang cukup banyak dikutip mengaitkan Borneo dengan Brunei. Letak Brunei di pesisir utara Kalimantan membuat wilayah tersebut dikenal oleh para pelaut dan pedagang dari luar kawasan.

Menurut Historia, sejumlah ahli mengaitkan Borneo dengan kata "Brunei" atau "Burney". Nama Brunei sendiri kemudian digunakan dalam catatan dan peta bangsa Eropa untuk merujuk pada wilayah pulau yang lebih luas.

Penjelasan serupa juga dimuat oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur. Dalam literatur Barat, nama Borneo disebut berasal dari kata Brunai atau Brunei. Sementara itu, sumber tersebut mencatat adanya penyebutan Barune atau Baruneng dalam sumber-sumber Nusantara.

Ada pula cerita rakyat mengenai asal-usul nama Borneo yang berbeda. Historia mencatat kisah tentang sebuah kapal bernama Borneo yang karam di Pulau Kambang di Sungai Barito. Namun, cerita tersebut lebih tepat dipandang sebagai cerita rakyat, bukan kesimpulan sejarah yang sudah pasti.

RRI juga mencatat versi lain yang menghubungkan Borneo dengan tumbuhan borneol, sementara versi lainnya kembali mengaitkannya dengan penyebutan Brunei oleh bangsa Eropa. Artinya, asal-usul nama Borneo sendiri masih memiliki beberapa versi.

Lalu, dari mana nama Kalimantan?

Nama Kalimantan juga memiliki sejarah yang tidak kalah menarik.

Salah satu teori mengaitkan istilah tersebut dengan bahasa Sanskerta, yaitu Kalamanthana. Istilah ini kerap ditafsirkan berkaitan dengan keadaan panas atau pembakaran.

Namun, asal-usul kata Kalimantan juga belum memiliki satu kesimpulan yang sepenuhnya disepakati. Historia mencatat adanya sejumlah teori mengenai nama tersebut, termasuk pandangan sejarawan Slamet Muljana yang berbeda dari teori-teori lainnya.

Sumber dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur juga menyebut adanya penafsiran lokal mengenai kata Kalimantan yang berkaitan dengan banyaknya sungai di pulau tersebut. Karena itu, asal-usul nama Kalimantan tidak bisa begitu saja disederhanakan menjadi satu teori tunggal.

Baca juga: Kalbar perpanjang status darurat asap hingga 20 September

Menariknya, nama yang digunakan masyarakat di kawasan pulau tersebut sudah muncul dalam berbagai bentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara modern.

Beragam penjelasan dan teori yang beredar kerap memunculkan pertanyaan, salah satunya adalah "kenapa Indonesia akhirnya lebih akrab dengan nama Kalimantan?"

Jawabannya berkaitan dengan perkembangan identitas politik dan kebangsaan.

Pada masa kolonial, istilah Borneo sangat umum digunakan dalam administrasi dan publikasi Belanda. Bahkan, dalam sejumlah dokumen kolonial, wilayah Kalimantan disebut dengan istilah yang menggunakan kata Borneo. Historia, misalnya, mencatat penggunaan nama Zuider-en Oosterafdeeling van Borneo untuk wilayah administratif kolonial di bagian selatan dan timur pulau.

Namun, penggunaan nama Kalimantan kemudian semakin kuat dalam konteks pergerakan nasional Indonesia.

RRI mencatat bahwa pada dekade 1920-an dan 1930-an, istilah Kalimantan mulai digunakan sebagai bagian dari identitas politik dan kebangsaan. Salah satu contohnya adalah surat kabar Soeara Kalimantan yang didirikan A.A. Hamidhan di Banjarmasin pada 1930.

Penggunaan nama tersebut semakin mendapatkan kedudukan resmi setelah Indonesia merdeka.

Pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan pembagian awal wilayah Republik Indonesia menjadi delapan provinsi. Salah satunya adalah Provinsi Kalimantan, dengan Pangeran Mohammad Noor sebagai gubernur pertama.

Sejak saat itu, nama Kalimantan semakin melekat dalam administrasi pemerintahan Indonesia.

Dengan kata lain, penggunaan "Kalimantan" bukan sekadar kebiasaan menyebut nama pulau. Istilah tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas wilayah dalam negara Indonesia.

Baca juga: Pegiat lingkungan serukan perkuat lindungi orangutan saat karhutla

Baca juga: PU kerahkan peralatan penanganan karhutla ke 5 provinsi di Kalimantan

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.