BMKG menetapkan sembilan daerah berstatus awas kekeringan di NTB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus awas kekeringan meteorologis seiring periode ANTARA News mataram 38 ...
Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus awas kekeringan meteorologis seiring periode hari tanpa hujan yang semakin panjang di wilayah tersebut.
"Hanya Kota Mataram yang saat ini belum masuk status awas kekeringan karena masih level siaga, sedangkan sembilan daerah lainnya sudah berada di level awas kekeringan meteorologis," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini di Mataram, Senin.
Suci mengatakan daerah yang masuk level awas kekeringan meteorologis tersebut adalah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima, dengan cakupan total mencapai 38 kecamatan.
Baca juga: BMKG NTB: Keringan ekstrem terjadi hampir tiga bulan di Bima
Kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) beruntun secara umum berada pada kategori sangat panjang rentang 31-60 hari hingga kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari.
Menurut Suci, HTH berturut paling panjang tercatat di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.
"Pada dasarian I September 2026 atau dari tanggal 1 sampai 10 September, potensi hujan di seluruh wilayah NTB sangat kecil dengan peluang kurang 10 persen," ujar dia.
Kondisi El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks Nino3.4 sebesar +2,99 derajat Celcius. BMKG memprediksi fenomena El Nino level sangat kuat tersebut dapat bertahan hingga awal tahun 2027 mendatang.
Baca juga: BMKG mendeteksi kemunculan 139 sebaran titik panas di NTB
Selain itu Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori positif dengan nilai +0,394 dan berpeluang bertahan hingga Oktober 2026.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih akibat meluasnya wilayah yang berada pada level awas kekeringan meteorologis.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, musim kemarau yang melanda NTB terjadi selama 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan.
Awal musim kemarau dimulai pada April 2026, sedangkan periode puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026 yang melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026