pickleballvnz.com

BI-Rate diprediksi tetap di RDG September, peluang naik di akhir tahun - ANTARA News Ambon, Maluku

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) September 2026 ini, dengan peluang kenaikan terjadi pa...

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) September 2026 ini, dengan peluang kenaikan terjadi pada akhir tahun jika tekanan eksternal semakin persisten.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam laporannya di Jakarta, Rabu, memandang bahwa ke depan, kondisi eksternal masih menghadapi tantangan.

Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong beberapa bank sentral untuk meninjau kembali sikap kebijakan moneternya, termasuk The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.

Selain itu, memasuki minggu terakhir September, risiko eskalasi lebih lanjut antara Rusia dan Ukraina berpotensi meningkat. Jika eskalasi tersebut terjadi, Riefky mencatat kondisi ini dapat semakin menekan harga energi dan komoditas global, yang berpotensi menimbulkan tekanan inflasi tambahan dan memperumit prospek kebijakan moneter.

Di sisi lain, The Fed juga telah mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada tahun ini, meskipun kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) relatif tetap kuat.

Sementara dari sisi domestik, inflasi masih berada dalam kisaran target BI. Namun, kenaikan harga minyak pada awal tahun ini berhubungan dengan inflasi yang sedikit lebih tinggi pada triwulan II-2026, menunjukkan bahwa harga energi masih menjadi salah satu sumber potensial tekanan inflasi.

Hal ini, ujar Riefky, menimbulkan kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah baru-baru ini dapat menghasilkan tekanan inflasi, dengan risiko tersebut menjadi semakin besar apabila ketegangan di Eropa juga meningkat.

Menimbang seluruh perkembangan secara bersamaan, menurut Riefky, ruang BI untuk melakukan penurunan suku bunga dalam jangka pendek menjadi semakin terbatas. Apalagi, mengingat BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam beberapa bulan terakhir.

“Kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada akhir tahun ini atau awal 2027 apabila kondisi eksternal memburuk dan tekanan inflasi meningkat,” kata dia.

Senada, Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman juga memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75 persen pada September ini.

Namun, tim ekonom PermataBank merevisi proyeksi dasar BI-Rate dengan memasukkan kenaikan tambahan sebesar 25 bps pada kuartal IV-2026, seiring dengan menguatnya ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate (FFR) tambahan pada kuartal IV-2026.

“Kami memperkirakan BI akan menaikkan BI-Rate menjadi 6,00 persen pada akhir 2026,” kata Faisal.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan 100 bps secara kumulatif pada Mei-Juni 2026 sebenarnya merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan ahead of the curve sebagai respons terhadap ekspektasi kenaikan FFR satu kali pada paruh kedua 2026.

Sementara itu, Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz juga memproyeksikan BI-Rate tetap pada bulan ini. Namun, ruang kenaikan BI-Rate secara pre-emptive tetap terbuka jika tekanan eksternal semakin persisten, khususnya apabila DXY dan yield AS kembali naik serta harga minyak bertahan tinggi.

“Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate dapat mencapai 6,25 persen pada akhir 2026,” kata Faiz.

Dia mengamini bahwa diferensial suku bunga dan stabilitas rupiah semakin penting, usai kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC September yang disertai dengan masih terbukanya ruang pengetatan lanjutan.

“Namun, selama tekanan rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi valas, DNDF, serta instrumen moneter lainnya, kami melihat BI masih akan mengutamakan kebijakan non-suku bunga sebagai lini pertahanan pertama,” kata dia.

Faiz memandang, insentif BI dapat membantu memperkuat suplai valas dan menahan volatilitas rupiah, tetapi bukan substitusi terhadap fundamental maupun kebijakan suku bunga.

Peningkatan insentif swap lindung nilai menjadi 12,5 persen serta DNDF menjadi 15 persen, termasuk perluasan underlying swap kepada pinjaman luar negeri perbankan dan FDI, membuat biaya hedging lebih menarik dan dapat mendorong dana valas masuk serta bertahan lebih lama di pasar domestik.

Menurut Faiz, efektivitasnya akan lebih kuat apabila dikombinasikan dengan intervensi valas dan pendalaman pasar.

Namun, apabila tekanan berasal dari shock global yang besar dan persisten, ia mengingatkan bahwa insentif tersebut memiliki batas sehingga BI tetap perlu menjaga diferensial suku bunga yang memadai untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

Mengenai nilai tukar rupiah, tim ekonom Bank Danamon melihat adanya risiko pelemahan dalam jangka pendek, namun pelemahan tersebut diperkirakan tidak disorderly atau tetap terkendali.

Tekanan terutama datang dari kombinasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan harga minyak yang tinggi.

Sedangkan dari domestik, pelebaran current account deficit juga membuat rupiah lebih sensitif terhadap pergerakan modal global. Tim ekonom Bank Danamon masih memperkirakan tekanan tersebut dapat lebih terkendali apabila harga minyak berangsur normal menuju akhir tahun.

“Proyeksi kami untuk USD/IDR (nilai tukar rupiah terhadap dolar AS) akhir 2026 berada di sekitar Rp17.963 per dolar AS,” kata Faiz.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BI-Rate diprediksi tetap di RDG September, berpeluang naik akhir tahun

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.