pickleballvnz.com

Begini Potret Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi

Jakarta, CNBC Indonesia - Di gugusan Kepulauan Wakatobi, sebuah wilayah yang dikenal dunia karena keindahan bawah lautnya, tersimpan kisah perjuangan. Di balik ketenangan air lautnya, terdapat tantangan nyata b...

Jakarta, CNBC Indonesia - Di gugusan Kepulauan Wakatobi, sebuah wilayah yang dikenal dunia karena keindahan bawah lautnya, tersimpan kisah perjuangan. Di balik ketenangan air lautnya, terdapat tantangan nyata bagi mereka yang bertugas memastikan roda ekonomi tetap berputar di beranda negeri. Salah satunya adalah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri, atau yang akrab disapa Titin, seorang Mantri BRI dari Unit Wangi-Wangi, Kantor Cabang BRI Baubau.

Sebagai seorang Mantri, ia adalah ujung tombak literasi dan inklusi keuangan bagi masyarakat. Sejak dimutasi pada Januari 2024, Titin harus menerima kenyataan bahwa wilayah kerjanya bukan hanya daratan, melainkan sembilan desa di Pulau Kaledupa yang harus ditempuh dengan menyeberangi lautan lepas dari ibu kota kabupaten, Wangi-Wangi.

Perjalanan rutin Titin dari kantor di Wangi-Wangi menuju wilayah kerjanya di Kaledupa adalah sebuah narasi tentang keberanian. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan kapal fiber atau speedboat memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit. Namun, ketika alam sedang tidak bersahabat, perjalanan itu bisa berubah menjadi selama lebih dari dua jam di tengah gempuran ombak.

"Salah satu pengalaman yang paling melekat dalam ingatan saya adalah saat ia harus menyeberang pada musim ombak besar sekitar bulan Januari atau Februari. Saat itu, cuaca mendadak gelap dan tidak ada satu pun kapal reguler yang berani mengambil risiko untuk menyeberang. Namun, karena komitmen saya terhadap nasabah, saya harus mencari cara lain untuk pulang. Akhirnya, kami menyewa 'body batang' (perahu kecil bermesin) milik suku Bajo," kenang Titin dalam keterangan dikutip Minggu (9/8/2026).

Bersama lima orang lainnya, sehingga total berjumlah enam orang yang terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki, ia memaksakan diri menembus lautan yang saat itu sedang mengamuk. Di tengah laut, mereka berhadapan dengan dinding air setinggi empat meter.

"Lailahaillallah, itu kalau kita sudah di atas ombak, kita lihat ke bawah itu tinggi sekali. Kita dikasih naik, lalu turun lagi ke bawah, dan sekeliling kita itu cuma ada air," tuturnya menggambarkan situasi mencekam tersebut.

Perjalanan yang seharusnya singkat membengkak menjadi hampir tiga jam. Mereka tiba di Wangi-Wangi menjelang magrib dengan kondisi baju basah kuyup, kelelahan, namun bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi Titin bahwa profesinya bukan sekadar tentang angka, tetapi juga tentang mempertaruhkan nyawa demi melayani masyarakat.

Ia bercerita, motivasi terbesar Titin bertahan di wilayah yang penuh tantangan adalah keinginan untuk membantu sesama. Titin memahami bahwa ekonomi masyarakat kepulauan sangat bergantung pada alam. Di Kaledupa, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari rumput laut dan kopra.

"Ketika musim ombak besar tiba, hasil rumput laut biasanya menurun drastis karena hancur diterjang arus. Saat itu, masyarakat biasanya beralih fokus mengolah kopra," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, peran Titin sebagai Mantri BRI menjadi penting. Ia tidak hanya menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal usaha, tetapi juga membantu nasabah mencari jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.

Ia pun menyebut, salah satu kisah yang membekas bagi Titin adalah perjuangan seorang anak nasabah yang berupaya membiayai kuliahnya. Di saat yang sama, orang tuanya juga harus memenuhi kewajiban cicilan kredit. Sang anak kemudian membantu keluarganya mengumpulkan kopra hingga memperoleh empat karung tambahan untuk menutup kebutuhan kuliah sekaligus kewajiban kepada bank.

Melihat kejujuran dan kegigihan keluarga tersebut, Titin berinisiatif membantu lebih jauh. Ia memanfaatkan data klaster pengusaha kopra yang dimiliki BRI untuk mempertemukan nasabah dengan pembeli atau pengepul yang memiliki akses ekspedisi sendiri.

"Namanya kita di BRI kan ada data klaster pengusaha. Jadi saya bantu pertemukan dengan pembelinya langsung agar mereka tidak kesulitan menjual hasil buminya," jelas Titin.

Bagi Titin, melihat nasabah mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dengan dukungan modal dari BRI menjadi kepuasan batin yang tidak ternilai.

Lebih lanjut, ia mengatakan, bahwa tantangan di Kaledupa tidak hanya datang dari ombak, tetapi juga keterbatasan infrastruktur digital. Di wilayah kerja Titin, masih banyak area yang masuk kategori wilayah tanpa sinyal.

Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah BRI untuk tetap hadir. Dari sembilan desa yang ditangani Titin, empat BRILink Agen berhasil diaktifkan di desa-desa yang memiliki jaringan internet relatif memadai. Secara keseluruhan, terdapat enam agen aktif yang menjadi perpanjangan layanan BRI di pulau tersebut.

Di tengah keterbatasan akses internet, Titin juga terus mengedukasi masyarakat mengenai layanan keuangan BRI, termasuk penggunaan BRImo di sejumlah titik yang telah terjangkau jaringan. Perlahan, masyarakat mulai memanfaatkan BRImo untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari membayar berbagai tagihan, mengirim uang kepada anak yang menempuh pendidikan di luar daerah, hingga bertransaksi dengan para reseller.

Kehadiran Titin dan layanan BRI memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Sejak ia bertugas, jumlah nasabah di wilayah tersebut meningkat signifikan hingga sekitar 70%, dari semula sekitar 100 nasabah menjadi hampir 300 nasabah.

Capaian ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap layanan keuangan sangat tinggi ketika akses dihadirkan secara langsung dan petugas hadir menjemput bola di lapangan.

Dalam ceritanya, ia juga menyebut bahwa sebagai seorang perempuan pertama yang ditempatkan di wilayah kerja ekstrem Kaledupa (yang sebelumnya selalu diisi oleh laki-laki), Titin menunjukkan bahwa gender bukanlah penghalang untuk menunjukkan performa terbaik. Meski ia mengakui bahwa penempatan perempuan di wilayah ekstrem memiliki tantangan tersendiri, ia memilih untuk menjalaninya dengan rasa bahagia danmenjalani dengan sukacita.

Dirinya bahkan merasa dihargai ketika para nasabah dan BRILink Agen meneleponnya hanya untuk bertanya kapan ia akan berkunjung lagi ke pulau mereka.

"Jangan pilih-pilih tempat kerja, jangan pilih-pilih wilayah. Kita harus kuat, karena banyak orang di luar sana yang menggantungkan kelangsungan usahanya pada kita," pesan Titin untuk rekan-rekan sesama Mantri BRI di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny mengatakan, bahwa kisah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri adalah potret nyata dari komitmen BRI untuk hadir di seluruh pelosok negeri, bahkan di titik-titik yang paling sulit dijangkau sekalipun.

"Melalui tangan dingin para Mantri seperti Titin, BRI tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga menyemai harapan dan memastikan bahwa setiap warga negara, tak peduli seberapa jauh mereka berada di kepulauan, memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh secara ekonomi. Dedikasi tanpa batas ini adalah bukti bahwa pelayanan setulus hati bisa menembus ombak setinggi empat meter sekalipun," tegas Dhanny. 

(bul/bul) [Gambas:Video CNBC]