Bandara Riyadh Diserang 2 Hari Berturut-turut, 13 Orang Tewas
Eskalasi konflik ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan dan harga minyak dunia, serta aktivitas pelayaran komersial melalui jalur alternatif yang penting menuju Selat Hormuz. Jalur tersebut menja...
Eskalasi konflik ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan dan harga minyak dunia, serta aktivitas pelayaran komersial melalui jalur alternatif yang penting menuju Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi perhatian karena Selat Hormuz terancam oleh Iran.
Keterlibatan militer AS dapat mendorong Houthi menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb, di ujung selatan Laut Merah dekat Yaman. Jika itu terjadi, aliran minyak dari Teluk Persia dapat semakin terhambat.
Bulan lalu, kelompok pemberontak tersebut merebut sejumlah wilayah strategis di sepanjang selat itu. Koalisi pimpinan Arab Saudi, yang mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, berupaya merebut kembali wilayah-wilayah tersebut.
Serangan Houthi terhadap bandara, infrastruktur minyak, dan fasilitas militer Arab Saudi juga menyoroti persoalan pertahanan udara kerajaan tersebut.
Sejumlah pejabat regional mengatakan kepada The Associated Press bulan lalu bahwa Arab Saudi mulai kehabisan rudal pencegat dan telah meminta Prancis, Inggris, Pakistan, serta Mesir mengerahkan dukungan pertahanan udara ke kawasan tersebut. Salah satu pejabat menyebut persediaan rudal pencegat AS juga menurun selama perang Iran.
Sejumlah maskapai telah menghentikan penerbangan yang melayani bandara-bandara di Arab Saudi. Beberapa kedutaan juga memperingatkan warga negara masing-masing mengenai risiko menggunakan bandara tersebut setelah Houthi berulang kali memperingatkan penggunaan wilayah udara Saudi oleh kelompok itu.
Serangan Terjadi Saat Arab Saudi Gelar Konferensi Energi
Serangan pada Minggu terjadi ketika Arab Saudi menjadi tuan rumah konferensi energi internasional berskala besar di Riyadh. Sejumlah acara penting lainnya, termasuk pertemuan investasi, juga dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Arab Saudi berupaya membuka diri lebih luas kepada dunia dan mengembangkan diri sebagai tujuan bisnis serta pariwisata. Namun, serangan Houthi mengancam upaya tersebut.
Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud, menyampaikan pesan ketahanan saat berbicara dalam konferensi tersebut.
“Tidak ada yang bisa mematahkan kami. Kami seperti burung phoenix, kami selalu bangkit dari abu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kerajaan juga sedang mengerjakan jalur pipa selain pipa East-West, yang diserang dan ditutup selama beberapa hari pada bulan lalu. Namun, ia tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai proyek tersebut.