Balai PU mendorong keberlanjutan TPST Kebon Talo atasi darurat sampah
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong keberlanjutan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, agar ANTARA News mataram 38 ...
Mataram (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong keberlanjutan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, agar berfungsi dengan optimal dan memberikan manfaat maksimal dalam mengatasi darurat sampah di Mataram.
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Nusa Tenggara Barat (NTB) Dades Prinandes di Mataram, Kamis, mengatakan, pengelolaan infrastruktur TPST memerlukan dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram selaku pihak yang akan mengelola, mulai dari kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), pembiayaan, hingga partisipasi aktif masyarakat.
"Pengelolaan sampah tentu tidak bisa semuanya dibebankan kepada APBD semata. Tapi harus partisipasi atau retribusi sampah dari masyarakat setiap bulan agar sistem yang ada dapat berjalan secara berkelanjutan," katanya saat ditemui di lokasi pembangunan TPST Kebon Talo.
TPST Kebon Talo merupakan salah satu proyek strategis pemerintah pusat di Kota Mataram dengan anggaran Rp52,508 miliar di atas lahan seluas 1,48 hektare yang merupakan sharing dari Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram.
Baca juga: TPST Kebon Talo solusi pengelolaan sampah kota
TPST tersebut mulai dibangun pada 12 Juni 2026 dan ditargetkan ramping 31 Desember 2026, sehingga pemanfaatan bisa dimulai pada awal tahun 2027.
Dades mengatakan keberadaan TPST bukanlah solusi instan atau jalan pintas yang langsung menyelesaikan seluruh persoalan sampah tanpa proses lanjutan.
Pemilahan sampah dari tingkat sumber harus tetap berjalan secara konsisten, salah satunya melalui program pengolahan sampah organik dengan sistem "tempah dedoro" yang telah dicanangkan Wali Kota Mataram.
Mengingat situasi darurat sampah yang tengah dihadapi Kota Mataram tidak dapat ditangani sendiri oleh wali kota beserta jajarannya saja, karena itulah Kementerian PU hadir untuk membantu pemerintah kota dan masyarakat dalam penyediaan infrastruktur pengolahan berupa TPST.
Dari total volume timbunan sampah di Kota Mataram yang mencapai sekitar 300 ton per hari, kata dia, TPST Kebon Talo dirancang untuk mampu mengolah sekitar 60 ton sampah per hari dengan residu sekitar 20-30 persen yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Baca juga: Pembangunan TPST Kebon Talo Mataram paling lambat akhir Juni
"Dengan adanya pengolahan ini, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA Kebon Kongok, dapat dikurangi secara signifikan," katanya.
Adapun total anggaran pembangunan infrastruktur TPST Kebon Talo yang mencapai Rp52,508 miliar, lanjutnya, sudah mencakup keseluruhan pengadaan alat-alat pengolahan sampah.
Berbagai jenis alat pengolahan yang disiapkan meliputi mesin pencacah (shredder), pemilah plastik, pengering sampah organik, hingga peralatan pendukung untuk menghasilkan SRF (solid recovered fuel) atau bahan bakar alternatif.
"Untuk hasil produksi SRF, belum bisa kami sebutkan karena itu sangat tergantung dari jumlah komposisi sampah yang diolah menjadi SRF sebab sampah yang diolah jadi SRF tidak semua jenis sampah, melainkan hanya jenis sampah organik," katanya
Terkait dengan itu, lanjut Dades, pemerintah berharap operasional TPST Kebon Talo yang didukung oleh sistem mekanisasi modern tersebut, nantinya tidak hanya mendongkrak produktivitas pengelolaan sampah di Kota Mataram, tetapi juga mampu mengoptimalkan peran SDM lokal sebagai pengontrol dan pengelola yang handal.
"Harapan kami, bantuan pembangunan TPST Kebon Talo dapat dioptimalkan agar Mataram bisa bebas dari kondisi darurat sampah," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026