Bahlil Sebut 60 Persen Gas dari Blok Masela Dimanfaatkan Dalam Negeri
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan jika sebesar 60 persen hasil produksi gas dari Lapangan Abadi Blok Masela akan digunakan untuk domestik.
Bagikan:
SAUMLAKI - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan jika sebesar 60 persen hasil produksi gas dari Lapangan Abadi Blok Masela akan digunakan untuk domestik.
Sementara sisanya akan diekspor ke negara lain yang membutuhkan.
"Dan saya pikir ini nanti gasnya 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor.," ujar Bahlil dalam laporannya pada Groundbreaking Proyek LNG Masela di Tanimbar, Maluku, Kamis, 16 Juli.
Bahlil menjelaskan, pasokan dalam negeri akan diprioritaskan untuk beberapa perusahaan seperti PT Pupuk Indonesia, PT PGN Tbk., dan PT PLN (Persero).
Sedangkan sisanya akan disalurkan kepada perusahaan-perusahaan swasta dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan perekonomian daerah.
Di sisi lain , gas yang akan diekspor bakal memprioritaskan negara Jepang yang merupakan negara asal Inpex.
"Terutama Jepang, karena mereka melakukan investasi. Jadi kita prioritas negara pilihan pertama dari Inpex adalah Jepang," jelas Bahlil.
Untuk informasi, proyek ini memiliki kapasitas produksi sebesar 9,5 juta ton LNG per tahun dan didukungan teknologi CCS.
Lapangan Abadi di Blok Masela, Laut Arafura, Provinsi Maluku yang berlokasi sekitar 12 mil dari pulau terdekat. Blok Masela berlokasi sekitar 750 km Selatan Ambon, Ibu kota provinsi Maluku.
Sementara itu kedalaman air di Lapangan Abadi berkisar diantara 400 m hingga 800 m dengan sisi selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia – Australia dengan letak Blok seluruhnya berada di wilayah Indonesia.
Adapun rencana pengembangan Lapangan Abadi, oleh karena itu rencana pengembangan Lapangan Abadi akan meliputi Fasilitas bawah laut atau subsea, termasuk subsea wellheads, drilling centers, Subsea Umbilicals Risers and Flowlines (SURF), CO2 injection well, dan SURF untuk fasilitas CCS), fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), Gas Export Pipeline (GEP) dan CO2 pipeline, dan Onshore LNG (OLNG) plant termasuk Onshore CCS facility yang berlokasi di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).
BACA JUGA:
FPSO memiliki fasilitas pemrosesan gas sebanyak 2 train untuk mengirimkan gas kering ke fasilitas pemrosesan OLNG melalui GEP dimana kapasitas produksi OLNG sekitar 9.5 MTPA yang terdiri dari 2 train dengan kapasitas masing-masing 4.75 MTPA dan 150 MMSCFD pipa gas untuk kebutuhan industri lokal.
CO2 dari Acid Gas Removal Unit (AGRU) dari LNG train didehidrasi dan dikompresi. Kemudian CO2 dikirimkan ke sumur injeksi di Lapangan Abadi melalui CCS Pipeline yang di-instal secara parallel dengan GEP.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+