pickleballvnz.com

Atasi Inflasi 400%, Venezuela Diminta Tinggalkan Bolivar

Liputan6.com, Jakarta - Steve Hanke mendapat julukan “Dokter Uang” setelah mengajarkan berbagai pemerintah di seluruh dunia cara terlepas dari ancaman inflasi. Kini, profesor ekonomi terapan di Johns Hopkins Un...

Liputan6.com, Jakarta - Steve Hanke mendapat julukan “Dokter Uang” setelah mengajarkan berbagai pemerintah di seluruh dunia cara terlepas dari ancaman inflasi. Kini, profesor ekonomi terapan di Johns Hopkins University tersebut membantu Venezuela dan telah ditunjuk sebagai penasihat khusus bagi seorang anggota terkemuka Majelis Nasional negara tersebut.

Melansir Yahoo! Finance, Senin (24/8/2026), Hanke mengungkapkan bahwa solusinya terhadap inflasi 400% di Venezuela adalah penggunaan penuh dolar AS. Artinya, mata uang bolivar dan peran bank sentral akan ditinggalkan. Tujuannya adalah untuk menghentikan pencetakan uang oleh bank sentral demi menambal utang, yang selama ini memicu lonjakan harga.

“Mengatasi inflasi adalah kunci untuk mengembalikan stabilitas di Venezuela, dan kemajuan lain akan datang dari sana,” ujar Hanke. “Stabilitas bukan segalanya, namun tanpa stabilitas atau harga yang stabil, hal lain tidak ada artinya. Ini paling terlihat di Venezuela.”

Pernyataan ini bukan sekadar angan-angan. Hanke memiliki rekam jejak berhasil menyarankan Montenegro pada 1999 untuk mengganti dinar Yugoslavia ke Deutsche Mark. Ia juga mengawasi peralihan Sucre Ekuador ke dolar AS pada tahun 2000, yang menjadi dolarisasi pertama di Amerika Latin sejak Panama satu abad sebelumnya.

Kemudian pada 2009, Hanke menjadi penasihat nonformal menteri di Zimbabwe yang menerapkan dolarisasi hingga berhasil menjinakkan inflasi. Namun, ketika pemerintahan baru Zimbabwe merilis mata uang sendiri dan menghilangkan dolar AS pada 2013, hiperinflasi kembali terjadi.

Ini merupakan percobaan kedua Hanke di Venezuela, setelah rencananya membentuk dewan kurs (currency board) pada pertengahan 1990-an kalah suara di Majelis Nasional. Kini, ia melihat peluang 50–80% untuk menyetujui dolarisasi.

“Ini akan menjadi pergeseran paling masif dari kurs domestik ke mata uang alternatif sejak pengenalan mata uang euro pada 1999,” tuturnya.