pickleballvnz.com

Asuransi Asei Terapkan Strategi Dinamis Berinvestasi Saat Yield SRBI Melandai

ILUSTRASI. Asuransi Asei Indonesia (KONTAN/Carolus Agus Waluyo) Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan strategi pengelolaan portofolio s...

ILUSTRASI. Asuransi Asei Indonesia (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan strategi pengelolaan portofolio secara dinamis di tengah tren imbal hasil atau yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang cenderung melandai.

Kendati begitu, perusahaan tidak serta-merta mengurangi alokasi SRBI, melainkan terus mengevaluasi daya tarik instrumen tersebut dibandingkan alternatif investasi lainnya.

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, penurunan yield menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan investasi. Namun, keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada tingkat imbal hasil.

Baca Juga: Dana Pensiun BCA Tempatkan 14,85% Portofolio Investasi di SRBI hingga Agustus 2026

"Penurunan yield SRBI bukanlah sebagai alasan untuk melakukan pengurangan alokasi secara otomatis," ujar Dody kepada Kontan, Jumat (25/9/26).

Menurutnya sebagai perusahaan asuransi, Asuransi Asei juga mempertimbangkan aspek keamanan instrumen, likuiditas, tenor, kebutuhan pembayaran klaim, serta kesesuaian dengan profil kewajiban perusahaan.

Dody mengatakan, SRBI masih memiliki karakteristik yang menarik karena diterbitkan oleh Bank Indonesia. Instrumen tersebut juga dapat digunakan untuk menjaga kualitas dan likuiditas portofolio investasi perusahaan.

Meski yield SRBI melandai, Asuransi Asei tidak menjadikannya sebagai alasan untuk secara otomatis mengurangi alokasi. Perusahaan menerapkan strategi dynamic portfolio allocation dengan membandingkan risk-adjusted return SRBI terhadap instrumen lain, seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito, maupun instrumen pasar uang lainnya.

Jika yield SRBI terus turun sementara terdapat instrumen lain dengan profil risiko dan likuiditas yang sebanding namun menawarkan imbal hasil lebih menarik, perusahaan dapat melakukan penyesuaian alokasi.

"Prinsipnya bukan 'keluar dari SRBI', melainkan melakukan rebalancing agar portofolio tetap optimal antara return, liquidity, safety, dan duration," jelas Dody.

Strategi tersebut juga disesuaikan dengan karakteristik bisnis asuransi yang harus memperhatikan kebutuhan kewajiban kepada pemegang polis. Oleh karena itu, orientasi investasi Asuransi Asei bukan sekadar mengejar yield tertinggi, melainkan memperoleh imbal hasil yang optimal dengan risiko yang terukur.

Selain itu, SRBI bukan hanya ditempatkan sebagai instrumen untuk mengejar yield. Instrumen tersebut menjadi bagian dari asset-liability management (ALM), pengelolaan likuiditas, dan diversifikasi portofolio investasi.

Baca Juga: Meski Yield SRBI Turun, Dana Pensiun Masih Pertahankan Instrumen Ini

Kendati tidak menyebutkan angkanya, tetapi Dody menegaskan saat ini porsi SRBI dalam portofolio investasi Asuransi Asei disebut berada pada level yang terukur dan tetap dalam koridor prinsip diversifikasi investasi.

Apalagi, SRBI juga bukan merupakan satu-satunya instrumen investasi perusahaan. Asuransi Asei mengalokasikan dana pada sejumlah instrumen lain dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas, profil risiko, dan kewajiban perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag