pickleballvnz.com

Angkat Tema ‘Laku’, Festival Sastra Yogyakarta 2026 Tegaskan Sastra Bagian dari Kebudayaan Kota |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali menggelar Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 dengan mengangkat tema 'Laku'.Kepala Dinas Kebudayaan (K...

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali menggelar Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 dengan mengangkat tema 'Laku'.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan, FSY merupakan agenda kebudayaan yang dirancang sebagai ruang apresiasi, pengembangan, dan pertemuan berbagai unsur ekosistem sastra, mulai dari penulis, sastrawan, akademisi, penerbit, komunitas, pelaku budaya hingga masyarakat pembaca.

Yetti juga mengungkapkan, perjalanan FSY telah dimulai sejak 2021 melalui pertunjukan musikalisasi Hanacaraka pada masa pandemi. Setelah itu, FSY mengangkat tema 'Mulih' pada 2022, 'Sila' pada 2023, 'Siyaga' pada 2024, 'Rampak' pada 2025, dan tahun ini 'LAKU'.

“Ketika kita berbicara tentang laku, ini merepresentasikan sebuah proses di mana setiap langkah memiliki makna. Ada dinamika, adaptasi, dan berbagai elemen lainnya. Hal ini tidak berhenti begitu saja pada sebuah hasil, melainkan proses itu sendiri menjadi sebuah laku yang bermakna untuk melahirkan kebaikan bagi kebudayaan di Yogyakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya," ujar Yetti.

Melalui tema 'Laku', FSY 2026 ingin menegaskan bahwa sastra merupakan bagian dari kehidupan kebudayaan kota. Sastra tidak hanya menjadi ruang bagi penulis dan akademisi, tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, menyimpan ingatan, dan membangun cara pandang terhadap lingkungan sosial.

"Festival Sastra Yogyakarta ini adalah sebuah kerja panjang. Dari awal kami sepakat ini adalah festival milik bersama. Kami coba menempatkan diri sebagai ruang pertemuan bersama," ujar Kurator FSY, Paksi Ralas Alit, dalam Jumpa Pers FSY 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Festival ini akan hadir untuk publik, sehingga sampai saat ini masih gratis dengan harapan ke depannya tetap bisa diakses oleh siapa pun dan dari mana pun tanpa ada tiket maupun retribusi, termasuk untuk melihat pertunjukan.

Pada tahun ini perkembangan dan durasi penyelenggaraan FSY 2026 berkembang menjadi delapan hari berkat dukungan penuh ekosistem dan komunitas sastra. Dan berlangsung dari 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta.

"FSY 2026 menghadirkan sekitar 100 narasumber, 36 sesi acara selama delapan hari, serta melibatkan 12 komunitas sastra. Kami juga melibatkan kampus-kampus seperti UGM, UNY, UST, UAD, Sanata Dharma, hingga UIN," ujar Kurator FSY lainnya, Fairuzul Mumtaz.

Penyelenggaraan FSY 2026 juga melibatkan berbagai pihak, antara lain IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, Prodi Sastra Jawa FIB UGM, Magister Sastra UGM, Dinkop UMKM DIY, Komunitas Aksara Jawa se-DIY/Jateng, serta berbagai komunitas sastra, sastrawan, budayawan, akademisi, penerbit, dan pelaku industri buku.

Yetti mengatakan, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa festival sastra tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Pemerintah berperan menyediakan ruang, fasilitasi, dan dukungan kebijakan, sedangkan komunitas, sastrawan, akademisi, penerbit, media, dan masyarakat membawa pengetahuan, pengalaman, jaringan, serta kreativitas.