pickleballvnz.com

Anggrek mikro jadi alarm kerusakan ekosistem Batang Toru - ANTARA News Sumatera Utara

Tapanuli Selatan (ANTARA) - Lembaga Sipirok Lestari menyebut keberadaan anggrek epifit berukuran mikro di Ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara, dapat menjadi penanda penting...

Tapanuli Selatan (ANTARA) - Lembaga Sipirok Lestari menyebut keberadaan anggrek epifit berukuran mikro di Ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara, dapat menjadi penanda penting terhadap kondisi ekologis hutan yang menghadapi tekanan kerusakan habitat dan perubahan iklim.

Ketua Lembaga Sipirok Lestari Amri Yasin Nasution mengatakan tumbuhan dari subtribe Aeridinae tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi memiliki keterkaitan dengan organisme lain dalam ekosistem hutan, termasuk semut hitam dari genus Camponotus.

Menurut Amri, anggrek tersebut menyediakan nektar melalui kelenjar ekstrafloral, sementara semut dapat membantu melindungi tumbuhan dari organisme pemakan pucuk. Hubungan itu menunjukkan pentingnya menjaga setiap komponen ekosistem, termasuk organisme berukuran kecil yang kerap luput dari perhatian.

Ia mengatakan kerusakan tutupan hutan, pembukaan lahan, pembalakan liar dan fragmentasi habitat dapat mengganggu mikrohabitat anggrek epifit yang bergantung pada kestabilan suhu dan kelembapan di bawah kanopi hutan hujan tropis.

“Anggrek mikro ini dapat menjadi alarm visual bahwa kerusakan ekosistem tidak selalu langsung terlihat. Ada organisme kecil yang kehidupannya sangat bergantung pada keutuhan hutan,” kata Amri kepada Antara, Minggu.

Ia menambahkan perubahan iklim dan cuaca ekstrem juga berpotensi memperbesar tekanan terhadap tumbuhan epifit. Hilangnya pohon inang akibat kerusakan hutan maupun longsor, kata dia, dapat sekaligus menghilangkan habitat bagi koloni anggrek yang bergantung pada pohon tersebut.

Amri mendorong pemerintah memperkuat perlindungan Ekosistem Batang Toru melalui pengawasan kawasan, penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak habitat serta pendanaan konservasi yang berkelanjutan.

Menurut dia, perlindungan kawasan tidak cukup hanya diarahkan pada spesies satwa berukuran besar, tetapi harus mencakup keseluruhan ekosistem dan hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.

“Melindungi Batang Toru berarti menjaga satu kesatuan ekosistem, mulai dari pohon, tumbuhan epifit, satwa, air hingga mikrohabitatnya. Ketika satu komponen hilang, keseimbangan ekologis dapat ikut terganggu,” ujarnya.

Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Akung

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.