pickleballvnz.com

Ambisi Surya 100 GWp Buka Peluang Investasi Global |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ambisi Indonesia mengembangkan program energi surya nasional berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) membuka peluang masuknya investasi energi bersih dalam skala besar. Namun, kepastian ...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ambisi Indonesia mengembangkan program energi surya nasional berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) membuka peluang masuknya investasi energi bersih dalam skala besar. Namun, kepastian regulasi, transparansi proyek, hingga kesiapan jaringan listrik dinilai menjadi faktor penting untuk mengubah minat investor global menjadi investasi nyata.

Deputi Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York Yoga Adhi Pratama mengatakan besarnya potensi energi surya Indonesia perlu diterjemahkan menjadi proyek-proyek yang dapat dinilai secara jelas oleh investor internasional. Kepastian mengenai profil risiko hingga skema komersial menjadi bagian penting dalam persaingan memperoleh modal transisi energi global.

“Ambisi besar energi surya Indonesia harus disajikan sebagai rangkaian peluang yang jelas, lengkap dengan profil risiko dan skema komersial yang dapat diukur oleh investor,” kata Yoga dalam Indonesia Solar Investment Forum 2026 yang digelar di sela Climate Week NYC di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York.

Menurut Yoga, promosi investasi dapat menjadi jembatan antara investor internasional, pengembang proyek, dan lembaga terkait. Dengan demikian, ketertarikan investor dapat bergerak menuju keputusan investasi yang lebih konkret.

“Inilah cara agar Indonesia dapat bersaing lebih efektif dalam memperebutkan modal transisi energi global,” ujarnya.

Program listrik surya nasional 100 GWp diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026. Tahap awal program tersebut mencakup 14 proyek energi surya dengan kapasitas total 5,3 GWp yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun mendatang.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari mengatakan target sebesar 100 GWp membutuhkan perubahan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan energi surya. Pembangunan tidak dapat hanya bergantung pada satu model pembangkit.

Portofolio proyek, menurut Mada, perlu mencakup pembangkit surya skala besar di daratan, panel surya terapung di waduk, PLTS atap komersial hingga sistem kelistrikan berbasis surya untuk kawasan pedesaan.

“Target sebesar ini mengharuskan sistem pelaksanaannya dirancang ulang. Kami melakukan hal tersebut dengan mengubah cara masyarakat mengakses energi surya,” ujar Mada.

Salah satu skema yang didorong adalah penggunaan sistem tagihan tunggal atau single billing melalui PLN. Skema tersebut diharapkan mempermudah akses terhadap energi surya, termasuk bagi gedung pemerintah dan konsumen rumah tangga.

“Dengan beralih ke platform tagihan tunggal melalui PLN dan membuka akses untuk gedung pemerintah serta pengguna rumah tangga, kami menghilangkan hambatan yang sebelumnya menahan laju pasar,” kata Mada.

Investor Butuh Kepastian

Di tengah besarnya potensi investasi, kepastian kebijakan menjadi salah satu pekerjaan utama. AESI telah membentuk empat satuan tugas untuk bekerja bersama pemerintah dalam mendorong agar peta jalan pengembangan energi surya dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan dan siap dieksekusi.

AESI mengidentifikasi sedikitnya tiga persoalan regulasi yang membutuhkan perhatian. Pertama adalah penyelesaian kerangka hukum yang akan menjadi acuan bagi berbagai segmen industri energi surya.

Peraturan Presiden terkait sektor tersebut disebut masih berada dalam tahap harmonisasi antarkementerian. Regulasi itu diharapkan memberikan kepastian mengenai jadwal proyek, pembeli listrik, hingga ketentuan penggunaan komponen dalam negeri.

Kedua, investor membutuhkan daftar proyek yang transparan. Informasi mengenai proyek yang akan ditenderkan, waktu tender, dan target operasi komersial dinilai penting agar investor dapat merencanakan penempatan modal dalam jangka panjang.

“Investor tidak selalu mencari hasil akhir yang pasti,” kata Mada. “Mereka lebih membutuhkan kejelasan tentang urutan dan tahapan proyek.”

Ketiga adalah pembukaan sisi permintaan. Sebagian dari target 100 GWp akan bergantung pada pengembangan pembangkit surya untuk sektor komersial dan PLTS atap.