pickleballvnz.com

Alasan orang asing belajar Bahasa Indonesia

Beragam alasan orang untuk belajar bahasa asing. Ada yang belajar bahasa asing karena alasan ilmu pengetahuan, keagamaan, juga bisnis dan pergaulan.  Pada masa kolonial, ANTARA News sumbar 41 ...

Padang (ANTARA) - Beragam alasan orang untuk belajar bahasa asing. Ada yang belajar bahasa asing karena alasan ilmu pengetahuan, keagamaan, juga bisnis dan pergaulan. Pada masa kolonial, orang Eropa mempelajari bahasa-bahasa Asia, termasuk Indonesia, untuk kepentingan penjajahan. Hanya saja modus itu dibungkus dengan narasi kepentingan studi dan pengetahuan; pemetaan bahasa, pengetahuan budaya, agama, hingga ilmu alam.

Semua studi itu membutuhkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dan daerah. Hasil studi mereka tentang bidang pengetahuan sampai sekarang masih menjadi rujukan dalam bidang masing-masing. Sejak dari bidang antropologi, agama, pertanian, pertambangan dan sebagainya.

Kini penjajahan telah lenyap, tapi justru peminat Bahasa Indonesia makin luas. Mengapa? Inilah beberapa catatan tentang alasan mahasiswa asing belajar Bahasa Indonesia berdasarkan pengalaman saya saat mengajar di Korea.

Pertama, potensi ekonomi Indonesia yang prospektif. Sebagai negara besar dengan penduduk yang banyak, jelas Indonesia merupakan potensi pasar yang kuat. Penduduk membutuhkan banyak hal untuk kehidupan mereka. Sejak dari teknologi, makanan, hingga pakaian. Sayangnya, tidak banyak yang melihat potensi itu. Misalnya dalam hal disain pakaian muslim atau ekspedisi seperti yang diamati mahasiswa berikut ini.

Song Yu Jeong adalah mahasiswa dengan pembawaan tenang dan pendiam. Ke kampus ia lebih sering memakai gaun dengan rok panjang yang lebar, dengan rambut panjangnya yang selalu terjalin rapi. Ketika teman-temannya menuju kafe untuk istirahat, Yu Jeong memilih tinggal dalam kelas. Ia duduk di meja untuk mengorat-oret kertas dengan pensil untuk membuat sketsa. Apa cita-citamu, Yu Jeong?

“Saya mau jadi disainer pakaian muslim”, jawabnya dengan suara lembut.

“Kenapa kamu tertarik dengan bidang itu?”

“Pertama, karena saya suka menggambar dan membuat disain. Alasan kedua saya temukan saat berkunjung ke Indonesia dan Malaysia. Saat melihat pakaian yang digunakan wanita muslim, saya membayangkan banyak peluang untuk memodifikasi pakaian muslim agar wanita bisa tampil lebih cantik”, jelasnya.

“Tapi Anda kan bukan seorang muslim?”, pancing saya dengan rasa penasaran.

“Tak masalah. Saya bisa belajar tentang aturan berpakaian wanita muslim. Justru itu akan menjadi tantangan menarik bagi orang muda seperti saya”.

Seorang mahasiswa lain, Won Jae, justru melihat potensi dalam bidang ekspedisi. “Orang Korea bermigrasi ke banyak negara. Termasuk ke Indonesia. Mereka mungkin perlu barang-barang dari Korea. Atau mereka ingin mengirim oleh-oleh dari negara tempat mereka tinggal. Nah, saya membantu mereka dengan usaha ekspedisi”, jelas ketika saya tanya alasannya memilih bidang tersebut.

Saat liburan, Won Jae bekerja magang pada perusahaan ekspedisi yang beroperasi ke luar negeri. Menjelang tamat, ia telah diterima bekerja di sebuah perusahaan dagang Korea yang mengekspor hasil produksinya ke berbagai negara. Saat ini, ia sedang membangun rencana untuk memiliki usaha ekspedisi sendiri.

Kedua, Bahasa Indonesia membuka koneksi internasional yang luas. Menurut data dari Badan Bahasa, saat ini Bahasa Indonesia dipelajari di 55 negara pada empat benua. Jika dulu Bahasa Indonesia hanya diminati orang Eropah, kini bahasa kita dipelajari di Asia Timur sampai Afrika, dari Scandinavia hingga Selandia Baru.

Apalagi sejak November 2023 lalu Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa resmi untuk digunakan dalam sidang Unesco. Dengan pengakuan itu berarti Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa resmi untuk sidang Unesco dan penerjemahan dokumen-dokumen lembaga PBB tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa pemakai Bahasa Indonesia makin luas dan bertambah, sehingga mempelajari Bahasa Indonesia juga akan memperluas pergaulan internasional.

Salah satu peluang kerja dari fakta di atas adalam dalam bidang penerbangan. Ya, menjadi pramugari seperti yang dipilih Lee Kyung Seun yang suka bepergian ke mana saja.

“Saya mau jadi pramugari untuk penerbangan di Asia Tenggara. Indonesia, Malaysia atau Vietnam. Jadi saya harus bisa berbahasa Indonesia dan Melayu”, ujarnya suatu sore di tahun 2019. Tiga bulan setelah perbincangan itu, Kyung Seun mengabarkan bahwa ia diterima bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Vietnam yang membuka jalur penerbangan ke Korea.

“Kalau pandemi Covid 19 sudah reda, perusahaan itu akan membuka line ke Indonesia juga. Jadi saya bisa menjalani hobi saya, berlibur sambil kerja ke negara-negara di Asia Tenggara”, tulis Kyung Seun melalui Kakao Talk, aplikasi komunikasi produk Korea.

Ketiga, kesukaan orang Indonesia terhadap hal-hal asing. Sejak dari musik, sinetron, film, makanan, hingga gaya hidup. Peluang itulah yang diteknuni oleh Park Seung Chan, seorang mahasiswa dengan banyak minat. Sebelum wabah Covid 19 melanda dunia, ia berperan sebagai penerjemah untuk orang Indonesia yang ingin melakukan operasi plastik di klinik kecantikan di Korea. “Ada saja orang kaya dari Indonesia yang tak ingin pipinya terlihat tembem. Yang lain, ingin hidungnya jadi lebih tinggi”, jelasnya dalam suatu kesempatan istirahat kuliah.

Ketika wabah Covid melanda dunia, lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada usaha kuliner. “Suatu saat, saya mau buka restoran Korea, Pak” katanya

“Di mana?”

“Di Jakarta, mudah mudahan”.

Pada awal 2022, Chancan berhasil mewujudkan cita-citanya. Ia membuka restoran Korea di lingkungan SCBD, jalan Sudirman, Jakarta. “Saya bertugas sebagai koki di dapur, sementara bapak saya mengurus ruang tamu”, jelasnya.

Suatu kali saya dan isteri berkunjung ke restoran milik Chancan, sapaannya. Disain dan masakan restoran ini mengingatkan kami pada restoran di Korea pada umumnya. Restoran dengan ruangan lega yang asri, peralatan makan yang lengkap, tungku pemanas makanan, hingga serbet yang dilipat. Semuanya ditata rapi. Kami memesan kimchi jighae, ramyeon, toupokki dan odeng. Menjelang berpisah, Chancan menghadiahi kami dua botol kimchi.

Keempat, kemudahan dalam belajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin, sehingga penutur asing tidak perlu mempelajari aksara khusus untuk belajar Bahasa Indonesia. Hal itu berbeda, misalnya, dengan belajar bahasa Korea, Thai atau Arab yang memiliki aksara tersendiri.

Selanjutnya, Bahasa Indonesia memiliki tata bahasa yang relatif lebih sederhana dibanding kebanyakan bahasa lain. Misalnya, Bahasa Indonesia tidak mengenal pembedaan jumlah pelaku, waktu, hingga jenis kelamin seperti yang berlaku dalam bahasa Arab atau Anglo Saxon.

Kampus kami di Korea punya kerjasama dengan beberapa perusahaan Korea yang memiliki kantor di Indonesia. Setiap tahun beberapa dosen diminta untuk mengajar manajer menengah dari perusahaan tersebut yang akan bertugas ke Indonesia. Bagian pelatihan Bahasa hanya menyediakan waktu sepuluh minggu untuk pegawai itu belajar.

Maka dalam waktu itulah kami mengajar dan melatih mereka berbahasa Indonesia. Pada kenyataannya, sebagian besar peserta mampu menyelesaikan program dengan baik. Selepas kursus mereka terbang ke Indonesia dan bisa berkomunikasi untuk belanja, urusan bank dan pergaulan sehari-hari di Indonesia. Bagi kebanyakan orang asing, belajar Bahasa Indonesia itu memang mudah.

Makin banyaknya orang asing yang belajar Bahasa Indonesia akan menjadikan Bahasa Indonesia makin mendunia. Di bulan Oktober yang diperingati sebagai Bulan Bahasa ini, sudah waktunya kita meningkatkan kebanggaan kita terhadap bahasa kita sendiri. *

*Penulis adalah dosen sastra modern di FIB Universitas Andalas. Sepanjang 2017-2020 menjadi dosen tamu di Hankuk University for Foreign Studies (HUFS), Global Campus, Yongin, Korea Selatan.